Selasa, 22 September 2015

Limbah Penghasil Pakan Alternatif

Perikanan Budidaya di Indonesia saat ini masih dihadapikan oleh masalah – masalah klasik yang kunjung tidak selesai biarpun selalu ada inovasi yang terus dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
Salah satunya adanya penyediaan sumber pakan alternatif yang eflslen dan tentu saja memiliki kandungan nutrisi yang memang sama dengan salah satu bahan baku pakan yaitu tepung ikan dan nutrisi lainnya yang dibutuhkanoleh benih ikan.
Tepung ikan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya mencapai 60% dan diharapkan dengan adanya pakan alternative masalah penyediaan pakan ini daapt dikurangi.
Apakah pakan alternatif tersebut.......? Maggot.

Darimana maggot ini berasal, biarpun mahluk yang bernama maggot ini bias dibilang menjijikan tetapi memiliki kandungan nutrisi yang tinggi. Ini daapt dibuktikan dengan uji lab yang telah dilakuakn oleh BBPBAT Sukabumi. Maggot dikenalkan dan dikembangkan oleh BBPBAT Sukabumi semenjak tahun 2006 dan sudah dipakai sebagai pakn alternatif dalam sistem budidaya.

Mari kita lihat asam amino yang dikandung oleh maggot melalui Analisa Proksimat yang memang dibutuhkan oleh ikan.
  • Methionine 0.83 gram/100 gram protein
  • l-ys'ne 2.21 gram/100 gram protein
  • Isoleudne 1.51 gram/100 gram protein
  • Hlstidlne 0.96 gram/100 gram protein
  • Leucme 2.61 gram/100 gram protein
  • Phenylalanie 1.49 gram/100 gram protein
  • valine 1.77 gram/100 gram protein
  • l--AI'8'mne 1.77 gram/100 gram protein
  • Threonine 1.41 gram/100 gram protein
  • Tryptophan 0.59 gram/100 gram protein
Dan pakan alternatif Maggot ini sudah dikenalkan kepada para pembudidaya yang ada melalui sosialisasi, pelatihan dan website. Dan untuk lebih jelasnya kami jabarkan dibawah ini agar para pembaca dapat mengambil manfaat dan tentu saja menerapkannya dalam unit usaha budidayanya.
Bahan :
· Bungkil kelapa sawit diayak 50 Kg
· Air 75 Kg
· Jeroan 25 Kg
· Black soldier, Hermetic Hlucens
· Wadah peneluran

Metode :
Semua bahan yang ada dicampurkan, kemudian ditaruh dalam wadah drum ditutup rapat sehingga terjadi reaksi fermentasi.
Fermentasi dilakukan selama 21 hart
Setelah itu taruh hasil fermentasi dalam wadah peneluran yang akan mengundang kedatangan Black
soldier untuk bertelur dipinggiran drum. Telur yang dihasilkan berwarna putih susu kekuningan
Telur tersebut diplndahkan kedalam wadah penetasan dalam bentuk apa saja karena tidak memerlukan kandang tertentu. Setelah 12 hari telur akan menetas dan menjadi apa yang kita sebut Maggot
Setelah pemeliharaan 12 hari Maggot tersebut dapat langsung kita berikan

Selain menggunakan bungkil kelapa sawit juga dapat menggunakan ampas tahu tetapi jenis lalat yang digunakan berbeda yaitu Calliphora sp, lalat hijau, untuk menghasilkan maggot dari jenis lalat ini memerlukan kandang induk/ shelter dengan kantong untuk pemanenan yang didalamnya diberikan limbah insang sebagai atraktan dan selama pemeliharaan diberikan ampas tahu. Setelah D5 Maggot tersebut dapat digunakan sebagai pakan terkadang diberikan enrichment buah galinggem, selain sebagai vitamin juga merubah maggot menjadi lebih berwarna kemerahan sehingga menarik perhatian beberapa jenis ikan untuk melahapnya.




Maggot yang menjijikkan ini diharapkan menjadi salah satu jalan keluar agar pembudidaya dapat menggunakan limbah yang ada seperti ampas tahu yang dulu dibuang dpat digunakan sebagai pakan induk Calliphora sp, lalat hijau untuk menghasilkan maggot. Limbah yang tadinya hanya untuk dibuang ternyata jika diteliti kembali dapat digunakan mrnjadi sesuatu yang berguna, ini juga seharusnya menjadi motivasi para generasi muda yang bergerak di bidang perikanan untuk terus berkarya dan menemukan inovasi terbaru.

Sumber : Akbar Zaelani, S.St.Pi ; http://penyuluhankelautanperikanan.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar