Rabu, 26 Agustus 2015

Budidaya Ikan Patin











1. PERSYARATAN LOKASI
  1. Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
  2. Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
  3. Apabila pembesaran patin dilakukan dengan jala apung yang dipasang disungai maka lokasi yang tepat yaitu sungai yang berarus lambat.
  4. Kualitas air untuk pemeliharaan ikan patin harus bersih, tidak terlalu keruhdan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kualitas air harus diperhatikan, untuk menghindari timbulnya jamur, maka perlu ditambahkan larutan penghambat pertumbuhan jamur (Emolin atau Blitzich dengan dosis 0,05 cc/liter).
  5. Suhu air yang baik pada saat penetasan telur menjadi larva di akuarium adalah antara 26–28 derajat C. Pada daerah-daerah yang suhu airnya relatif rendah diperlukan heater (pemanas) untuk mencapai suhu optimal yang relatif stabil.
  6. Keasaman air berkisar antara: 6,5–7.

Panen dan Pasca Panen Ikan Patin










1. PANEN
  1. Penangkapan
    Penangkapan ikan dengan menggunakan jala apung akan mengakibatkan ikan mengalami luka-luka. Sebaiknya penangkapan ikan dimulai dibagian hilir kemudian bergerak kebagian hulu. Jadi bila ikan didorong dengan kere maka ikan patin akan terpojok pada bagian hulu. Pemanenan seperti ini menguntungkan karena ikan tetap mendapatkan air yang segar sehingga kematian ikan dapat dihindari.
  2. Pembersihan
    Ikan patin yang dipelihara dalam hampang dapat dipanen setelah 6 bulan. Untuk melihat hasil yang diperoleh, dari benih yang ditebarkan pada waktu awal dengan berat 8-12 gram/ekor, setelah 6 bulan dapat mencapai 600-700 gram/ekor. Pemungutan hasil dapat dilakukan dengan menggunakan jala sebanyak 2-3 buah dan tenaga kerja yang diperlukan sebanyak 2-3 orang. Ikan yang ditangkap dimasukkan kedalam wadah yang telah disiapkan.

Hama dan Penyakit Ikan Patin




Hama
Pada pembesaran ikan patin di jaring terapung hama yang mungkin menyerang antara lain lingsang, kura-kura, biawak, ular air, dan burung. Hama serupa juga terdapat pada usaha pembesaran patin sistem hampang (pen) dan karamba. Karamba yang ditanam di dasar perairan relatif aman dari serangan hama. Pada pembesaran ikan patin di jala apung (sistem sangkar ada hama berupa ikan buntal (Tetraodon sp.) yang merusak jala dan memangsa ikan. Hama lain berupa ikan liar pemangsa adalah udang, dan seluang (Rasbora). Ikan-ikan kecil yang masuk kedalam wadah budidaya akan menjadi pesaing ikan patin dalam hal mencari makan dan memperoleh oksigen. Untuk menghindari serangan hama pada pembesaran di jala apung (rakit) sebaiknya ditempatkan jauh dari pantai. Biasanya pinggiran waduk atau danau merupakan markas tempat bersarangnya hama, karena itu sebaiknya semak belukar yang tumbuh di pinggir dan disekitar lokasi dibersihkan secara rutin. Cara untuk menghindari dari serangan burung bangau (Lepto-tilus javanicus), pecuk (Phalacrocorax carbo sinensis), blekok (Ramphalcyon capensis capensis) adalah dengan menutupi bagian atas wadah budi daya dengan lembararan jaring dan memasang kantong jaring tambahan di luar kantong jaring budi daya. Mata jaring dari kantong jaring bagian luar ini dibuat lebih besar. Cara ini berfungsi ganda, selain burung tidak dapat masuk, ikan patin juga tidak akan berlompatan keluar.

Senin, 24 Agustus 2015

Budidaya Ikan Gabus Kian Menjanjikan


 - Budidaya ikan gabus bisa dilakukan secara sederhana. Menjanjikan banyak keuntungan. Ikan gabus atau dikenal dengan sebutan merupakan ikan asli perairan tawar Indonesia Snakehead yang banyak dijumpai di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Flores, Ambon, Maluku, dan Papua. Ikan yang di Kalimantan disebut “haruan” itu di habitat aslinya dapat mencapai 3 – 5 kilogram. Ikan ini mempunyai nilai ekonomis tinggi dengan harga perkilogram Rp 30.000 - Rp 60.000. Harga ikan gabus asin bahkan dapat mencapai Rp 80.000 per kg. Kandungan protein ikan gabus adalah sekitar 25,2 gram/100 gram dagingnya. Ikan ini juga mengandung albumin 62,24 g/kg yang dipercaya bermanfaat untuk penyembuhan luka terutama pada pasien pasca operasi.

Membuat Pellet Ikan Murah Dengan Telur Infertil (Kacingcalang)




Pokdakan Tambak Makmur di Rembang berhasil membuat pakan ikan dari telur ayam gagal tetas. Ujicoba pada bandeng menunjukkan hasil bagus. Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari) mendapat respons positif dari pelaku usaha budidaya. Hal ini dikarenakan harga pakan ikan makin tinggi, tapi tak diikuti kenaikan harga jual ikan.

Pengolahan Dendeng Ikan Lumat

Pendahuluan
Dendeng daging ikan yang dilumatkan merupakan produk olahan tradisional yang mempunyai cita rasa dan aroma khas, prinsip pengolahannya adalah dengan membuat adonan daging ikan yang dicampur dengan bumbu-bumbu seperti garam, gula, asam, dan bumbu lainnya yang kemudian dibentuk menjadi lembaran tipis dan kemdian dijemur atau dimasukkan ke dalam oven.

Pengelolaan Keuangan Kelompok



Setiap orang atau perusahaan/kelompok yang bergerak dalam suatu bisnis, tak terkecuali bisnis perikanan, tentu mengharapkan laba atau keuntungan yang sesuai, tak seorang pun yang berniat merugi. Kerugian berarti kehilangan sebagian modal atau tenaga dan pikiran yang telah dicurahkan untuk kelangsungan bisnis itu. Sedangkan keuntungan berarti memperoleh kelebihan hasil dari modal yang telah ditanamkan (investasi).
Persoalan modal dan keuangan merupakan aspek yang penting dalam kegiatansuatu bisnis. Tanpa memiliki modal, suatu usaha tidak akan dapat berjalan, walaupun syarat-syarat lain untuk mendirikan suatu bisnis sudah dimiliki. Demikian pula, pengetahuan dan keberanian memulai usaha saja tidak cukup.

Teknik Pemilihan Bibit dan Penanaman Rumput Laut

Bibit sebaiknya dipilih dari tanaman yang masih segar yang dapat diperoleh dari tanaman rumput laut yang tumbuh secara alami maupun dari tanaman budidaya. Penyediaannya segera dilakukan setelah konstruksi rakit kegiatan budidaya telah terpasang dan sumber bibit telah tersedia. Bibit yang digunakan berupa stek, harus baru, serta masih muda dan banyak cabang.

Kriteria Bibit :
Dalam penyediaan bibit sebaiknya diseleksi bibit yang baik dari hasil panen dengan ciri-ciri : (a). Bercabang banyak, rimbun dan runcing (b). Tidak terdapat bercak dan terkelupas (c). Warna spesifik (cerah). (d). Umur 25 – 35 hari. Berat bibit yang ditanam adalah antara 50 – 100 gram per rumpun dan (e). Tidak terkena penyakit ice-ice.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keanekaragaman Plankton

1. Suhu
Kelarutan berbagai jenis gas di air seta semua aktivitas biologis di dalam akuatik sangat dipengatuhi oleh suhu. Menurut hukum Van’t Hoffs kenaikan suhu sebesar 10ºC (hanya pada kisaran suhu yang masih ditolerir) akan meningkatkan aktivitas fisiologis (misalnya respirasi) dari orgganisme sebesar 2-3 kali lipat. Suhu di lautan adalah salah satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan, karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun perkembangan dari organisme. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak dijumpai bermacam-macam jenis hewan yang terdapat di berbagai tempat di dunia (Hutabarat dan Evans, 1985).
Plankton dari jenis fitoplankton hanya dapat hidup dengan baik di tempat-tempat yang mempunyai sinar matahari yang cukup. Akibatnya penyebaran fitoplankton besar pada lapisan permukaan laut saja. Keadaan yang demikian memungkinkan untuk terjadinya proses fotosintesis. Sejak sinar matahari yang diserap oleh lapisan permukaan laut, maka lapisan ini relatif panas sampai ke kedalaman 200 m (Hutabarat dan Evans, 1985).
Menurut Soetjipta (1993) bahwa suhu yang dapat ditolerir oleh organisme pada suatu perairan bekisar antara 20-30ºC. Suhu yang sesuai dengan fitoplankton berkisar antara 25-30ºC (Isnansetyo & Kusniastuti, 1995), sedangkan suhu untuk pertumbuhan dari zooplankton berkisar antara 15-35ºC.

Rolade Ikan



I. PENDAHULUAN

Dalam kurun 5 tahun terakhir, konsumsi ikan nasional melonjak hingga lebih dari 1,2 juta ton seiring pertumbuhan penduduk Indonesia yang mencapai 1,34% per tahun. Berkaca pada pertumbuhan penduduk Indonesia, pola konsumsi ikan nasional diperkirakan akan merambat naik. Saat ini, nilai konsumsi ikan nasional telah mencapai kisaran 26 kg/kapita/tahun (www.walhi.org.id). Melihat begitu antusiasnya masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi ikan, maka diperlukan suatu upaya agar hal ini dapat dipertahankan bahkan mungkin ditingkatkan. Salah satu solusi yang diperlukan adalah dengan pengembangan aneka produk olahan berbasis ikan (diversifikasi hasil perikanan).

Budidaya Belut

I. PENDAHULUAN
Belut adalah jenis ikan yang dulunya dianggap sebagai musuh petani yang utama. Hal ini terjadi dikarenakan sifat belut yang paling gemar mencaploki anak-anak ikan yang masih kecil-kecil, dan merusak pematang sawah. Karena sifatnya yang dianggap merusak, maka banyak petani yang berburu untuk menangkapnya. Tetapi karena belut yang dianggap hama oleh petani ini memiliki rasa daging yang lezat dan gurih untuk lauk pauk santapan lezat para petani, bahkan saking lezatnya, Ikan belut ini banyak digemari penduduk kota.
Berdasarkan hasil penelitian, ikan belut yang dianggap hama ini memiliki kandungan gizi yang sangat baik, bahkan kandungan gizinya lebih tinggi dibangdingkan zat-zat gizi yang terdapat pada telur dan daging sapi pada berat yang sama. Juga dari penyediaan energi, ternyata ikan belut kandunganya lebih besar dibandingkan daging sapi pada berat yang sama, ternyata ikan belut kandungannya lebih besar dibangdingkan daging sapai pada berat yang sama. Begitu pula kandungannya vitamin “A”-nya ikan belut jauh lebih kaya.

Penetasan Telur dan Pendederan Ikan Gurame dalam Akuarium

Gurami merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi, bahkan bisa dikatakan sebagai primadonanya ikan air tawar. Namun, di balik semua itu gurami mempunyai kelemahan jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, yaitu masa pemeliharaan yang lama. Untuk mengatasi masalah tersebut para pembudidaya ikan melakukan pentahapan dalam budidaya. Salah satu tahapan dalam budidaya tersebut adalah penetasan telur dan pendederan. Permasalahan yang sering muncul pada tahapan ini adalah para pembudidaya ikan kadang-kadang kurang memperhatikan kesehatan telur yang dihasilkan, sehingga hasilnya juga tidak optimal. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan usaha penetasan telur dan pendederan ikan gurami di akuarium. Dengan menggunakan akuarium, kita dapat mengamati pertumbuhan ikan dan dapat mengontrolnya dengan lebih mudah. Selain itu, kendala kendala yang ada seperti pH air, suhu air, kebersihan dan tingginya mortalitas dapat diatasi.

Proses Pengeringan Rumput Laut

Rumput Laut dikeringkan dengan penjemuran sinar matahari yang dilakukan masyarakat nelayan satu atau dua hari penjemuran sesudah panen dari laut pada saat berusia sekitar 45 sampai 60 hari (akan sangat tergantung pada kesuburan lokasi penanaman) atau dengan memilih tanaman yang dianggap sudah cukup matang untuk dikeringkan, kemudian dijemur lagi sampai kering. Dengan cara demikian dihasilkan rumput laut yang bersih dangan warna kekuningan. Akan tetapi cara demikian dimana dilakukan pencucian sesudah penjemuran setengah kering menyebabkan berkurangnya kadar karaginan, sebelum dikeringkan hasil panen dicuci atau disemprot terlebih dahulu dengan menggunakan air laut untuk menghilangkan lumpur dan kotoran lainnya. Apabila tidak ada permintaan lain dari pembeli maka keringkan langsung dengan sinar matahari dengan dialasi gedek, krey bambu, daun kelapa atau dengan menggunakan bahan lainnya.

Persiapan Lokasi dan Sarana Budidaya Gurame (2)


Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8. Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.


Teknik Budidaya Gurame (3)

1. Pemijahan

a. Pemilihan Induk

Ciri-ciri induk ikan gurame yang baik adalah sebagai berikut:
Memiliki sifat pertumbuhan yang cepat.
Bentuk badan normal (perbandingan panjang dan berat badan ideal).
Ukuran kepala relatif kecil
Susunan sisik teratur,licin, warna cerah dan mengkilap serta tidakluka.
Gerakan normal dan lincah.
Bentuk bibir indah sepertipisang, bermulut kecil dan tidak berjanggut.
Berumur antara 2-5 tahun.

Budidaya Multi Tropiclevel

Teknologi ini merupakan sistem budidaya yang memadukan antara budidaya low inputs dan integrated aquaculture serta zero waste.

Pembesaran ikan patin sistem multi trophic level merupakan proses pemeliharaan ikan patin dengan memanfaatkan kolom-kolom air pada wadah budidaya (kolam) dengan beberapa komoditas ikan. Pada kegiatan percontohan yang akan dilakukan, pemeliharaan ikan patin akan disatukan dengan memelihara dua komoditas ikan ekonomis lainnya. Hal ini dilakukan untuk menambah penghasilan dari sistem produksi yang dilaksanakan.

Budidaya Gurame (bagian 2)

II. PERSYARATAN LINGKUNGAN

2. 1 Kualitas Air

Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kolam dengan kedalaman 70-100 cm dan sistem pengairannya yang mengalir sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik ikan gurame Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8. Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.

2.2 Persyaratan Lokasi
Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak berporos dan cukup mengandung humus. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
Ikan gurame dapat tumbuh normal, jika lokasi pemeliharaan berada pada ketinggian 50-400 m dpl.
Kualitas air untuk pemeliharaan ikan gurame harus bersih dan dasar kolam tidak berlumpur, tidak terlalu keruh dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik.
Keasaman air (pH) yang baik adalah antara 6,5-8.
Suhu air yang baik berkisar antara 24-28 derajat C.
Kedalaman air yang ideal 0,7-2 m

Budidaya Gurame (bagian 1)



I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ikan gurami (Oshpronemus gouramy, Lacepede) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, bentuk badan pipih lebar, bagian punggung berwarna merah sawo dan bagian perut berwarnakekuning-kuningan/keperak-perakan. Ikan ini merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailands, Ceylon dan Australia. Pertumbuhan ikan gurame agak lambat dibanding ikan air tawar jenis lain. Di Indonesia, orang Jawa menyebutnya guramisedangkan di Kalimantan disebut Kalui. Orang Inggris menyebutnya “Giant Gouramy”, karena ukurannya yang besar sampai mencapai berat 5 kg

Jenis Jenis Ikan Gurame



Dalam pembenihan, induk menjadi sarana produksi utama. Karena itu sarana produksi ini harus tersedia setiap saat. Bagi pemula, tentu saja untuk mendapatkan induk harus dengan cara membeli dari pihak lain. Namun untuk membeli induk harus hati-hati, tidak boleh sembarangan. Misalnya dengan membeli induk yang tidak jelas asal-usulnya.

Tentu saja harapannya agar mendapatkan induk yang berkualitas baik, karena dari induk yang berkualitas baik akan menurunkan benih yang berkualitas baik pula, dan itu akan menjadi cikal bakal, dan juga penerus pada generasi berikutnya yang baik pula. Jika sembarangan membeli induk, tentu apa yang akan didapat sebaliknya.

Penangkapan Ikan yang Merusak Ekosistem Laut


Pada era serba terbuka ini penyuluh perikana sebagai agen perubahan harus paham betul tentang kegiatan-kegiatan pelaku utama yang menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan perairan. Kegiatan penangkapan yang dilakukan nelayan seperti menggunakan bahan peledak, bahan beracun dan menggunakan alat tangkap trawl, bertentangan dengan kode etik penangkapan. Kegiatan ini umumnya bersifat merugikan bagi sumberdaya perairan yang ada. Kegiatan ini semata-mata hanya akan memberikan dampak yang kurang baik bagi ekosistem perairan, akan tetapi memberikan keuntungan yang besar bagi nelayan. Dalam kegiatan penangkapan yang dilakukan nelayan dengan cara dan alat tangkap yang bersifat merusak yang dilakukan khususnya oleh nelayan tradisional. Untuk menangkap sebanyak-banyaknya ikan karang yang banyak, digolongkan kedalam kegiatan illegal fishing. Karena kegiatan penangkapan yang dilakukan semata-mata memberikan keuntungan hanya untuk nelayan tersebut, dan berdampak kerusakan untuk ekosistem karang. Kegiatan yang umumnya dilakukan nelayan dalam melakukan penangkapan dan termasuk kedalam kegiatan illegal fishing adalah penggunaan alat tangkap yang dapat merusak ekosistem seperti kegiatan penangkapan dengan pemboman, penangkapan dengan menggunakan racun serta penggunaan alat tangkap trawl pada daerah yang memiliki karang.

Meningkatkan efisiensi Pakan Lele


Harga ikan lele kembali menembus angka Rp. 13.000 (Kota Bogor), harga terbaru ini turut menggoyang kepala pembudidaya lele karena dengan biaya produksi yang semakin meningkat justru harga produk akhirnya malah sebaliknya. Keberapa kelompok pembudidaya sering mengeluhkan keadaan ini kepada penyuluh perikanan maupun kepada instansi yang menangani perikanan. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga bahan minyak yang secara tidak langsung menaikan komponen produksi termasuk pakan.

Pengolahan Lele Asap Alternatif Olahan Ikan dengan Aroma Khas



Kebutuhan masyarakat untuk memenuhi konsumsi protein hewani salah satunya berasal dari ikan. Ikan lele dumbo memiliki nilai ekonomis dan harga yang terjangkau masyarakat. Ikan Lele merupakan salah satu ikan air tawar yang memiliki gizi tinggi dan sangat diperlukan untuk pertumbuhan tulang pada anak-anak dan ibu hamil atau wanita manula untuk mencegah OSTEOPOROSIS (Pengeroposan tulang).

Minggu, 23 Agustus 2015

Cara Panen dan Penanganan Hasil Panen Ikan Gurame

Pemanenan ikan gurame harus disesuikan dengan kebutuhan pasar/konsumen. Konsumen tiap daerah biasanya menghendaki ukuran ikan yang berbeda. Untuk daerah seperti di Suamtera Barat panen ikan gurame bisa dilakukan setelah mencapai ukuran 300-400 gram yang lebih banyak dijadikan gurame bakar, sangat berbeda dengan beberapa tempat di Tasikmalaya dan Ciamis ukuran panenya 500-700 gram bahkan mencapai 1000 gram/ekor.