Senin, 24 Agustus 2015

Penetasan Telur dan Pendederan Ikan Gurame dalam Akuarium

Gurami merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi, bahkan bisa dikatakan sebagai primadonanya ikan air tawar. Namun, di balik semua itu gurami mempunyai kelemahan jika dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, yaitu masa pemeliharaan yang lama. Untuk mengatasi masalah tersebut para pembudidaya ikan melakukan pentahapan dalam budidaya. Salah satu tahapan dalam budidaya tersebut adalah penetasan telur dan pendederan. Permasalahan yang sering muncul pada tahapan ini adalah para pembudidaya ikan kadang-kadang kurang memperhatikan kesehatan telur yang dihasilkan, sehingga hasilnya juga tidak optimal. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan usaha penetasan telur dan pendederan ikan gurami di akuarium. Dengan menggunakan akuarium, kita dapat mengamati pertumbuhan ikan dan dapat mengontrolnya dengan lebih mudah. Selain itu, kendala kendala yang ada seperti pH air, suhu air, kebersihan dan tingginya mortalitas dapat diatasi.


Adapun tahapan-tahapannya sebagai berikut :

Pengambilan telur
Telur yang akan didederkan bisa berasal dari kolam pemijahan milik sendiri, bisa juga berasal dari sumber lain. Jika berasal dari kolam milik sendiri , langkah lanjutan (setelah menyiapkan akuarium) dalam melakukan pendederan adalah mengambil telur-telur tersebut dari sarangnya. Sarang yang boleh dipanen untuk diambil telurnya adalah sarang yang sudah tertutup penuh. Pengambilan harus dilakukan secara hati-hati sebab biasanya induk gurami lebih galak saat menjaga sarang tersebut.
Setelah sarang diambil, kumpulan telur di sarang dikeluarkan. Dengan menggunakan saringan teh, bersihkan sarang dari kotoran dan minyak yang ada. Pekerjaan tersebut dapat dilakukan di bak terbuka atau ember besar. Setelah bersih, kumpulan telur siap untuk dimasukan ke dalam akuarium yang telah disiapkan.
Penetasan telur
Memasukan telur yang telah bersih ke dalam akuarium bisa dilakukan dengan menggunakan saringan the. Ciduklah telur dari dalam bak atau ember besar, lalu masukan dalam akuarium. Saat menciduk, jangan lupa untuk menghitung jumlah telur. Jumlah maksimal telur yang dimasukan ke dalam setiap akuarium adalah 800 telur (besarnya akuarium 100 cm x 50 cm x 40 cm).
Pastikan bahwa telur yang dimasukan adalah telur yang hidup. Telur yang hidup mempunyai ciri berwarna kuning kemerahan dan mengkilat. Sebaliknya telur yang mati berwarna kuning keputihan dan kusam. Telur mengalami kematian karena tidak dibuahi. Telur tersebut dengan cepat diserang cendawan berwarna putih yang disebut  Saprolignea. Setelah terserang, telur yang mati akan membusuk dan akan mengganggu perkembangan telur yang hidup. Karenanya, telur yang mati lebih baik secepatnya dibuang dari akuarium dengan cara mengambilnya dengan saringan the.
Telur hidup yang berkembang dengan baik akan menetas menjadi larva. Untuk menjaga agar larva yang terbentuk tidak mengalami kelelahan akibat naik ke permukaan air dan turun lagi ke dasar akuarium, akuarium pada tahap awal cukup diisi air setinggi 6 cm. Oksigen dialirkan dalam jumlah tidak terlalu besar sehungga tidak terjadi guncangan besar yang akan mematikan telur.

Perawatan larva
Setelah berumur 3 hari, larva sudah mulai bergerak berputar-putar dan ekor larva mulai tumbuh, sehingga memungkinkan larva dapat berenang. Pada hari ke 7, larva sudah berbentuk ikan kecil, dan memiliki tanda bulatan warna kuning di bagian perutnya. Bagian kuning ini berfungsi sebagai sumber makanan cadangan. Karenanya, larva tidak memerlukan makanan tambahan. Makanan cadangan tersebut akan habis (ditandai dengan hilangnya warna kuning di perut larva) pada hari ke sembilan atau kesepuluh. Pada saat ini kondisi larva sangat lemah dan mudah sekali mati. Untuk menghindari terjadinya kematian pada larva, sebaiknya makanan tambahan disiapkan sebelum makanan cadangan di tubuh larva habis.

Perwatan benih

Tahap pembenihan dimulai ukuran gabah (umur 10 hari) ke ukuran kuku (umur 3 minggu) atau dari ukuran gabah ke ukuran jempol (1 bulan) atau dari ukuran gabah ke ukuran silet (umur 2 bulan). Setelah mencapai ukuran kuku atau silet, benih siap dipindahkan ke kolam tanah (tradisional). Dari pengalaman, pembenihan sampai ukuran jempol idealnya di akuarium, setelah itu dipindahkan ke kolam. Pasalnya, pada ukuran jempol benih sudah mempunyai daya tahan tubuh yang cukup terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah.

Sumber : http://penyuluhankelautanperikanan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar