Senin, 05 Januari 2015

Mengenal Rumput Laut



Algae atau ganggang terdiri dari empat kelas, yaitu Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae (ganggang cokelat), Chlorophyceae (ganggang hijau), dan Cyanophyceae (ganggang hijau-biru). Pembagian ini berdasarkan pigmen yang dikandungnya. Bila dilihat dari ukurannya, ganggang terdiri dari mikroskopik dan makroskopik. Ganggang makroskopik inilah yang kita kenal sebagai rumput laut.
Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira-kira tahun 2700 SM. Di masa itu, rumput laut digunakan untuk sayuran dan obat-obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi menggunakannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun, dari waktu ke waktu pengetahuan tentang rumput laut pun semakin berkembang. Spanyol, Prancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas, sedangkan Irlandia, Norwegia, dan Scotlandia mengolahnya menjadi pupuk tanaman.
Rumput laut memang telah lama dikenal dan dimanfaatkan, tetapi publikasinya baru dimulai pada abad ke-17 oleh Jepang dan Cina. Jepang dan Cina merupakan bangsa yang maju dalam bidang rumput laut, baik produksi maupun pemanfaatan rumput laut.
Kapan pemanfaatan rumput laut di Indonesia tidak diketahui. Hanya pada waktu bangsa Portugis datang ke Indonesia kira-kira tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran. Pengiriman rumput laut ke luar negeri pun belum diketahui secara pasti. Dari catatan yang ada hanya mengatakan bahwa sebelum PD II Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika,  Denmark, dan Prancis. Rumput laut yang diekspor adalah dari jenis Gracilaria. Namun, hingga kini rumput laut yang banyak diminta adalah jenis Eucheuma sp, Gracilaria sp, dan Gelidium sp.

A.  KANDUNGAN DAN MANFAAT

Pada mulanya orang menggunakan rumput laut hanya untuk sayuran. Waktu itu tidak terbayang zat apa yang ada di dalam rumput laut. Yang diketahui hanyalah rumput laut yang tidak berbahaya untuk dimakan. Dengan berjalannya waktu, pengetahuan tentang rumput laut pun semakin berkembang. Orang pun semakin tahu zat apa yang terkandung dalam rumput laut. Pengetahuan itu digunakan agar rumput laut dapat bermanfaat seoptimal mungkin.
Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah karena mengandung agar-agar, keraginan,  porpiran, maupun furcelaran. Untuk jenis-jenis yang ada di Indonesia (lihat Tabel 2) selain hanya mengandung agar-agar dan karaginan, juga mengandung  pigmen fikobilin,  terdiri dari fikoeretrin danfikosianin, merupakan cadangan makanan berupa karbohidrat (Floridean starch).
Sebenarnya tidak hanya ganggang merah saja yang dapat dimanfaatkan, jenis dari ganggang cokelat pun potensial untuk dibudidayakan, seperti Sargassum dan Turbinaria. Ganggang cokelat mengandung pigmen klorofil a dan c; beta karotin; violasantin dan fukosantin; pirenoid dan filakoid (lembaran fotosintesis); cadangan makanan berupa laminarin; dinding sel yang terdapat selulose dan algae. Selain bahan-bahan tadi, ganggang merah dan cokelat merupakan bahan makanan yang baik sebagai penghasil jodium.

TABEL 1. KANDUNGAN UNSUR-UNSUR MIKRO PADA GANGGANG MERAH DAN COKELAT

Unsur

Kisaran Kandungan Dalam % Berat Kering

Ganggang Merah

Ganggang Cokelat
Klor
Kalium
Natrium
Magnesium
Belerang
Silicon
Fosfor
Kalsium
Besi
Iodium
Brom
1,5 – 3,5
1,0 – 2,2
1,0 – 7,9
0,3 – 1,0
0,5 – 1,8
0,2 – 0,3
0,2 – 0,3
0,4 – 1,5
0,1 – 0,15
0,1 – 0,15
0,005
9,8 – 15,0
6,4 – 7,8
2,6 – 3,8
1,0 – 1,9
0,7 – 2,1
0,5 – 0,6
0,3 – 0,6
0,2 – 0,3
0,1 – 0,2
0,1 – 0,8
0,03 – 0,14

Sumber : Winarno, 1990

AGAR-AGAR

Masyarakat pada umumnya mengenal agar-agar dalam bentuk tepung yang biasanya digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi, orang tidak tahu secara pasti apa agar-agar itu. Agar-agar merupakan asam sulfanik, yaitu ester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggang Agarophyte (ganggang yang mengandung agar-agar). Telah diketahui, agar-agar bersifat tidak larut dalam air dingin, tetapi larut dalam air panas.
 Dewasa ini penggunaan agar-agar semakin berkembang, yang dulunya hanya untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dalam industri tekstil, kosmetik, dan lain-lain. Fungsi utama agar-agar adalah sebagai bahan pemantap, bahan penolong atau pem- buat emuisi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat gel Kelebihan ini digunakan dalam beberapa industri antara lain sebagai barikut.

MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA

Agar-agar yang ditambahkan zat gizi tertentu sangat baik untuk tempat pertumbuhan mikroba, seperti bakteri dan jamur. Zat yang ditambahkan tergantung dari jenis mikroba yang ditumbuhkan. Agar-agar ini mempunyai persyaratan tersendiri, yaitu kadar air maksimal 5 %, kadar organik asing maksimal 1 %, dan kadar abu tidak larut dalam asam maksimal 1 %.

 

Industri makanan

Penggunaan agar-agar terbanyak adalah pada industri makanan, seperti dalam pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat.

Industri farmasi
Agar-agar bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkus kapsul obat antibiotik dan vitamin, atau campuran bahan pencetak contoh gigi.

Industri kosmetik
Agar-agar digunakan dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun.

Industri tekstil
Agar-agar yang bennutu tinggi digunakan untuk melindungi kemilau sutera, sedangkan yang bermutu lebih rendah untuk jenis tekstil lain seperti macao, muslin, dan voil.

Industri kulit
Agar-agar digunakan sebagai pemantap permukaan yang halus dan kekakuan kulit, serta sebagai campuran pembuatan pelekat plywood.

Industri lain
Agar-agar digunakan dalam pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, serta bantalan transport ikan, pengalengan ikan, dan daging.

Karaginan
Karaginan merupakan senyawa polisakarida tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1-4 glikosilik. Setiap unit galaktosa mengikat gugusan sulfat. Jumlah sulfat pada karaginan lebih kurang 35,1 %.
Berdasarkan strukturnya, karaginan dibagi menjadi tiga jenis, yaitu kappa, iota, dan lambda karaginan. Kappa karaginan tersusun dari (1 - > 3) D-galaktosa-4 sulfat dan/(l- > 4) 3,6 anhydro-D-galaktosa. Iota karaginan mengandung 4-sulfat ester pada setiap residu D-glukosa dan gugusan 2 sulfat ester pada setiap gugusan 3,6 anhydro-D-galaktosa. Sedangkan lambda karaginan memiliki sebuah residu disulphated (1-4) D-galaktosa. Perbedaan yang lain adalah daya kelarutan pada berbagai media pelarut.

TABEL 2. DAYA KELARUTAN KARAGINAN PADA BERBAGAI MEDIA PELARUT

MEDIUM

KAPPA
IOTA
LAMBDA

Air panas

Air dingin




Susu panas
Susu dingin



Larutan gula pekat
Larutan garam pekat
Larut diatas 60 oC
Garam natrium, larut, garam K, Ca, tidak larut


Larut
Garam Na, Ca, K tidak larut tetapi akan mengembang

Panas, larut
Tidak larut
Larut diatas 60oC garam Na, larut garam Ca memberi dispersi thixotropic

Larut
Tidak larut



Larut, sukar
Larut, panas
Larut
Larut




Larut
Larut



Larut, panas
Larut, panas
Sumber : Moraina, 1977 dalam Winarno, 1990.

Kegunaan karaginan hampir sama dengan agar-agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, bahan pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Karaginan digunakan dalam beberapa industri, antara lain :
-   makanan : pembuatan kue, roti, makaroni, jam, jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging.
-   farmasi : pasta gigi dan obat-obatan, serta
-   kosmetik, tekstil, dan cat.

ALGIN

Algin merupakan polimer mumi dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linear panjang. Selain selulosa, algin juga menyusun dinding sel pada ganggang cokelat. Bentuk algin di pasaran bisa berupa tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang larut dalam air maupun tepung kalsium atau asam alginat yang tidak larut dalam air.
Kegunaan algin dalam industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemuisi, dan pembentuk lapisan tipis yang taharrterhadap minyak. Algin antara lain digunakan dalam industri :
-       Makanan : pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup dan puding,
-        Farmasi : tablet, salep, kapsul, plester, filter,
-        kosmetik : cream, lotion, sampo, cat rambut, serta
-        tekstil, kertas, keramik, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.

Referensi:
Indriani H dan Sumiarsih A, 1991. Rumput Laut. Jakarta
Wahyono, Untung, 1991. Potensi Sumberdaya dan Produksi Rumput Laut Indonesia. Direktorat Bina Produksi, Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
Winarno, F.G. 1990. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber Tulisan : http://komunitaspenyuluhperikanan.blogspot.com,  
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar