Sabtu, 29 Desember 2018

Pembenihan Ikan Tawes (Puntius javanicus)

Hasil gambar untuk ikan tawes

Penyediaan benih yang bermutu dalam jumlah cukup dan kontinyu merupakan faktor penting dalam upaya pengembangan budidaya ikan konsumsi. Dengan demikian, pengetahuan serta keterampilan dalam usaha pembenihan ikan merupakan hal yang sangat penting untuk dipelajari dan dikuasai.
Beraneka ragam jenis ikan konsumsi yang bernilai ekonomis tinggi. Namun tidak sedikit keberadaan akan benih ikan konsumsi masih dikatakan kurang. Oleh karenaya perlu dilakukan pembenihan.


Ikan tawes merupakan salah satu jenis ikan konsumsi air tawar yang telah banyak dikenal orang, ikan Tawes memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi dan banyak diminati masyarakat, selain rasanya yang lezat juga mengandung protein yang cukup tinggi. Permintaan konsumen akan ikan tersebut pun tidak sedikit, maka kita perlu melakukan suatu usaha untuk menjaga kontinuitasnya. Salah satu usaha yang dapat dilakukan yakni melalui kegiatan pembenihan.

II. MENGENAL IKAN TAWES

2.1. Klasifikasi
Ikan tawes merupakan salah satu ikan asli Indonesia, ikan ini dapat ditemukan di perairan sungai yang berarus deras, hal ini tampak dari morfologi tubuhnya yang langsing dengan pangkal ekor yang kuat (bercabang). Ikan tawes merupakan famili Cyprinidae dan genus Puntius, secara lengkap klasifikasi tawes adalah sebagai berikut :

Filum : Chordata
Ordo : Ostariophysi
Famili : Cyprinidae
Subfamili : Cyrininae
Genus : Puntius
Spesies : Puntius javanicus
Inggris : Java carp
Indonesia : Tawes, Bander, Putihan, Badir, Kendia, Lempam.


Gambar 1. Ikan tawes


2.2. Morfologi
Ikan tawes memiliki bentuk badan sedikit gepeng pipih kesamping dan memanjang dengan bentuk punggung relatif tinggi. Tinggi badannya 2,4 – 2,6 kali panjang standar. Bentuk mulut runcing terletak diujung terminal (tengah) dan memiliki dua pasang sungut yang sangat kecil. Tubuhnya ditutupi oleh sisik yang berwarna putih keperak-perakan dan pada bagian punggung berwarna lebih gelap kehijau-hijauan sedangkan warna sisik dibagian perut lebih putih. Panjang tubuhnya dapat mencapai 55 cm dengan berat kurang lebih 2,5 kg.

2.3. Kebiasaan hidup
Ditinjau dari bentuk tubuhnya, ikan tawes adalah penghuni sungai yang berarus deras dengan bentuk tubuh langsing dan ekor bercagak. Ikan tawes ini tumbuh dengan baik di daerah yang terletak antara 0 - 800 m dari permukaan laut, akan tetapi yang lebih baik untuk pemeliharaan tawes adalah antara 50 – 500 m di atas permukaan laut, dengan suhu optimum sekitar 25 – 33o C. Selain itu, tawes juga tumbuh baik di rawa-rawa, danau dan perairan yang agak payau dengan kadar garam 7 pro mil.

2.4. Kebiasaan makan
Ikan tawes termasuk golongan pemakan tumbuh-tumbuhan (herbivora), dengan jenis makanannya terdiri dari daun-daunan seperti daun singkong, rumputan-rumputan serta daun talas. Larva tawes memakan alga bersel satu (uniseluler), plankton, lumut-lumutan, dan ganggang penempel (epiphyton) sedangkan tawes dewasa memakan tanaman air seperti hydrilla dan daun-daunan.

2.5. Kebiasaan berkembang biak
Secara umum ikan tawes mudah berkembang biak di alam aslinya. Pemijahannya terjadi pada awal musim penghujan, karena pada kondisi seperti ini permukaan tanah dipinggir sungai, rawa dan danau yang kering saat musim kemarau akan digenangi air pada saat musim penghujan yang dapat menimbulkan rangsangan berupa bau tanah (petrichor). Telur-telur ikan tawes bersifat demersal (melayang didasar perairan) tanpa perlindungan dari induknya sehingga telur tersebut berserakan didalam air.
2.6. Potensi Ikan Tawes
Ikan tawes sebenarnya bukan termasuk ikan air tawar yang harganya mahal, tetapi termasuk juga salah satu ikan dengan nilai ekonomis penting karena disamping mencukupi kebutuhan gizi juga sebagai tambahan penghasilan bagi pendapatan keluarga. Permintaan konsumen akan ikan tawes menyebabkan kegiatan pembesaran makin berkembang dan menuntut usaha pembenihan untuk menghasilkan benih yang siap tebar dalam usaha pembesaran. Umumnya ikan tawes dalam usaha budidaya mudah dikawinkan setiap saat tanpa mengenal musim dengan melakukan manipulasi lingkungan, sehingga tidak jarang pembudidaya melakukan usaha pembenihan bersamaan dengan kegiatan pemijahan, penetasan dan pendederan didalam satu kolam.
Kolam yang digunakan biasanya berukuran 200 m2 dengan kedalaman 0,5 - 0,75 meter. Jika akan melakukan pemijahan, ikan tawes tidak memerlukan obat perangsang untuk mempercepat proses pemijahan atau alat bantu seperti kakaban sebagai tempat untuk melindungi telur-telurnya, ini dikarenakan telur ikan tawes bersifat demersal atau melayang didalam kolam. Telur-telur ikan tawes ini memiliki dinding atau kulit yang sangat tipis dan akan menetas dalam waktu yang relatif singkat sekitar 13 jam dengan suhu antara 24 – 32 0C. Setelah berumur 6 bulan, ikan tawes sudah dapat dijadikan lauk di meja makan, sahabat nasi hangat yang nikmat. Jika ikan tawes diproduksi berlimpah, maka jalan penyelamatannya selain sebagai induk baru (regenerasi) dan dipasarkan dalam bentuk segar, dapat juga diawetkan sebagai ikan dendeng atau ikan asin yang sangat digemari oleh masyarakat.

III. PEMBENIHAN IKAN TAWES

3.1. Pemilihan Lokasi
Beberapa pertimbangan dalam menentukan lokasi untuk pembuatan kolam dalam usaha pembenihan ikan tawes adalah sebagai berikut :
1. Tanah
Jenis tanah yang berlumpur tidak dianjurkan dalam pemijahan ikan tawes karena menyababkan air keruh dan menutupi telur yang sudah dibuahi, pada saat pengeringan tanah dasar akan terlalu retak sehingga pada saaat pemijhan telur akan terperangkap masuk kedalam calah tanah yang retak. Jenis tanah yang ideal untuk dijadikan kolam pemijahan adalah tanah liat berpasir karena bersifat kokoh sebagai pematang kolam (Heru, S. 1993).

2. Air
Kualitas dan kuantitas serta kontuinitas air sangat menentukan keberhasilan usaha pembenihan tawes. Kualitas air secara umum tidak tercemar oleh limbah atau bahan beracun. Kualitas air yang layak digunakan dalam pembenihan ikan tawes adalah :

  • Suhu air 25 – 30 0C
  • Oksigen terlarut 5 – 6 ppm
  • Kecerahan lebih besar dari 10 % penetrasi cahaya sampai dasar perairan.
  • CO2 maksimum 25 ppm
  • pH air berkisar 6,7 – 8,6
  • Air tidak tercemar oleh limbah dan bahan beracun lainnya.
  • Debit air antara 10 -15 liter/detik/ha.
  • Air terjamin sepanjanga tahun atau minimal 9 bulan/tahun


3. Sosial Ekonomi Masyarakat
Disamping kedua unsur dari pemilihan lokasi tersebut yang lebih penting harus didukung oleh soisal masyarakat yang meliputi beberapa hal diantaranya :
a. Lokasi mudah dijangkau atau dekat dengan jalan (transportasi) untuk mempermudah kelancaran usaha pembenihan
b. Lokasi dekat dengan areal pembesaran atau dekat dengan pasar untuk mempermudah pemasaran benih
c. Keamanan lokasi usaha terjamin
d. Lokasi usaha merupakan daerah pengembangan budidaya ikan
e. Tenaga kerja tersedia dengan harga yang terjangkau (upah tenaga kerja)

3.2. Sarana dan Prasarana
Kelancaran usaha pembenihan ikan tawes didukung adanya ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, sarana dan prasana yang diperlukan tersebut meliputi sebagai berikut :
1. Kolam
Kolam yang diperlukan dalam usaha pembenihan ikan tawes tidak jauh berbeda dengan usaha pembenihan ikan air tawar lainnya. Kolam yang digunakan dibuat sesuai dengan peruntukannya seperti kolam induk, kolam pemijahan, kolam penetasan dan kolam pendederan. Kolam-kolam tersebut dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pembuangan agar kontuinitas air dapat terjaga. Kolam yang ideal untuk pemijahan berbentuk persegi panjang dengan luas 200 m2. Dasar kolam sebaiknya tidak terlalu berlumpur karena akan menyebabkan air menjadi keruh dan telur-telur ikan tawes tidak menetas jika tertutup lumpur. Pada dasar kolam dibuat kemalir berukuran 40 x 20 cm yang digunakan untuk mempermudah penangkapan induk dan benih hasil pemijahan.

2. Hapa
Hapa digunakan untuk memijahkan ikan tawes dengan sistem induksi (imbas) bersama dengan ikan mas pada kolam dan waktu yang sama, hapa yang diperlukan dalam pemijahan tersebut sebanyak dua buah. Pada hapa untuk memijahkan ikan mas dilengkapi dengan kakaban sebagai penempel telur, sedangkan pada pemijahan ikan tawes tidak perlu dilengkapi dengan kakaban karena sifat telurnya yang demersal sehingga tidak memerlukan alat penempel.

3. Prasarana
Sarana lainnya yang dimakud adalah cangkul, garpu, seser, skop net, jaring untuk menangkap induk dan waring yang digunakan untuk menampung benih-benih tawes. Peralatan tersebut digunakan sebagai penunjang dalam operasional pemijahan ikan tawes.

3.3. Pemijahan di Kolam
Pemijahan ikan tawes pada wadah budidaya dapat dilakukan secara alami dengan manipulasi lingkungan. Biasanya kolam pemijahan sekaligus digunakan untuk penetasan dan pendederan larva. Tahapan pemijahannya meliputi antara lain pemilihan induk, persiapan kolam, pelepasan induk, penetasan telur, pemungutan hasil dan pendederan.
1. Pemilihan induk
Induk ikan tawes sebaiknya dipelihara pada kolam yang terpisah antara induk jantan dan betina, hal ini dimaksudkan untuk memudahkan dalam pengontrolan dan penyeleksian induk yang matang gonad. Padat penebaran induk dalam kolam adalah 1 – 2 kg/m2. Pemilihan untuk dijadikan calon induk dilakukan dengan seleksi bertahap berdasarkan kecepatan tumbuhnya, setelah berumur sekitar setengah tahun dilakukan seleksi berdasarkan bentuk morfologi dengan dicirikan sebagai berikut :

  • Kepala agak mengecil dan meruncing.
  • Sisik besar dan teratur.
  • Letak lubang urogenital relatif dekat dengan pangkal ekor
  • Pangkal ekor lebar dan kokoh

Bila dalam pemeliharaan induk kondisi pakan mencukupi, induk betina dapat dipijahkan setiap 3 – 4 bulan, sedangkan untuk induk jantan 1 – 2 bulan sekali. Induk ikan tawes dapat dipijahkan dengan baik selama 5 atau 6 kali setelah lebih dari itu kualitas induk mulai menurun sehingga tidak baik dijadikan induk. Selama masa pemeliharaan, induk ikan tawes diberi makan dedak halus dan dedaunan seperti daun talas, daun singkong dan daun pepaya. Meskipun demikian, induk ikan tawes ini dapat diberikan pakan berupa pelet dengan kandungan protein lebih besar dari 20 %. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari dengan dosis 3 – 4 % dari biomasa.

2. Persiapan kolam
Ikan tawes memerlukan kolam yang relatif luas untuk pemijahannya yaitu berkisar antara 200 – 300 m2 hal ini karena kolam pemijahan digunakan pula sebagai tempat penetasan dan perawatan benih. Sebelum kolam digunakan, dilakukan pengeringan tanah dasar kolam selama 2 – 3 hari, namun perlu dihindari dasar kolam jangan sampai retak-retak yang nantinya menyebabkan sebagian telur jatuh didalamnya dan tertutup lumpur. Pengeringan tanah dasar ini bertujuan untuk membunuh bibit penyakit dan menguapkan zat beracun dalam tanah.
Tujuan pokok pengeringan tanah dasar kolam adalah untuk menimbulkan semacam bau (petrichor) yang dapat merangsang terjadinya pemijahan yaitu setelah bersinggungan dengan air baru. Pematang kolam diperbaiki dengan menampal bagian pematang yang bocor agar air tidak merembes pada saat diisi air, pada dasar kolam dibuat saluran berupa caren atau kemalir dengan ukuran 40 x 20 cm. Selanjutnya kolam diisi air pada pagi hari dengan kedalaman 20 cm dan induk dimasukkan kedalamnya. Pintu pemasukan dan pengeluaran air dipasang saringan, pada pintu pemasukan ditempatkan agak ke tengah kolam mengingat ikan tawes ini punya kebiasaan unik mengejar arus, sehingga seringkali melompat keluar kolam.

3. Pemilihan induk
Pemilihan induk dalam proes pemijahan sangat menentukan tingkat keberhasilan dari kegiatan pemijahan itu sendiri. Umumnya ikan tawes dapat dipijahkan mulai umur 10 bulan sampai 1 tahun untuk induk jantan, dan induk betina umur 14 bulan sampai 1,5 tahun.
Induk yang akan dipijahkan adalah induk hasil seleksi dan merupakan stok pemeliharaan induk agar benih yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapakan. Perbandingan untuk pemijahan ikan tawes didasarkan atas perbandingan berat yaitu 1 : 1 namun, karena induk jantan berukuran lebih kecil dari betina sehingga jumlah induk jantan yang diperlukan adalah 5 – 36 ekor dan betina 2 ekor. Induk ikan tawes yang telah matang gonad dan siap untuk dipijahkan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

a. Induk betina

  • Perutnya membesar kearah urogenetal (pelepasan)
  • Tubuhnya tidak cacat
  • Gerakannya lamban dan jinak
  • Bila perut diraba terasa lembek
  • Lubang urogenital berwarna kemerah-merahan
  • Pembuluh darah pada sirip tampak kemerah merahan
  • Tutup insang bila diraba lebih licin
  • Sisik besar-besar dan teratur karena mengandung telur.

Induk betina yang akan dipijahkan sebaiknya jangan terlalu tua dan terlalu sering dikawinkan, sebagai batas yang ideal induk betina tidak lebih dari 6 kali dikawinkan. Ikan yang sudah terlalu tua biasanya sisiknya berwana kusam dan fekunditas telur menjadi turun.

b. lnduk jantan

  • Bentuk tubuh lebih langsing
  • Bila perut diurut kearah anus akan keluar sperma berwarna putih
  • Gerakannya lebih lincah, agresif dan sedikit garang
  • Tutup insang bila diraba terasa kasar

Induk yang telah diseleksi kemudian ditampung didalam hapa atau bak khusus untuk diberok secara terpisah, pemberokan dilakukan selama 4 – 5 hari.

4. Pelepasan induk
Induk-induk yang telah diberok dimasukkan kedalam kolam pemijahan pada pukul 10.00 pagi, pemasukan induk tersebut dilakukan pada saat ketinggian air mencapai ketinggian kurang lebih 20 cm. Ketika menjelang malam atau pukul 16.00 sore, pemasukan air diperbesar untuk memberikan rangsangan alami selama proses pemijahan sehingga ketinggian air kolam menjadi antara 40 cm pada pintu pemasukan dan 70 cm pada pintu pembuangan. Pada saat itulah induk tawes biasanya mulai berkejar-kejaran dan sesekali terlihat rombongan ikan tawes jantan bersama seekor tawes betina muncul di permukaan kolam.
Jika tidak ada aral melintang atau penyimpangan prinsipal ikan tawes akan memulai memijah pukul 19.00 sampai dengan pukul 22.00 yang biasanya ditandai dengan adanya suara berdengung seperti kawanan kumbang (Susanto, H. 2003). Pemijahan itu biasanya terjadi pada bagian tepi kolam yang dangkal atau dekat dengan pintu pemasukan hal ini karena dipicu adanya bunyi gemericik air masuk. Induk tawes tersebut akan memijah sepanjang malam sampai perut induk betina benar-benar kosong. Selanjutnya pada pagi hari induk-induk tawes tetap dibiarkan didalam kolam pemijahan, dan pemasukan air harus diperkecil untuk menghindari hanyutnya telur tawes dan juga menghindari meloncatnya induk tawes melalui saluran pemasukan maupun pembuangan air.

5. Penetasan telur
Penetasan telur-telur ikan tawes dilakukan didalam kolam pemijahan, kemudian pada pagi hari telur-telur itu diperiksa, telur yang menumpuk disekitar kolam disebar rata agar penetasan terjadi sempurna. Telur-telur tersebut akan menetas dalam waktu yangt singkat yaitu sekitar 13 jam pada suhu antara 24 – 32 0C Penetasan yang relatif singkat ini dimungkinkan karena telur tawes berdinding sangat tipis, namun untuk penetasan total membutuhkan waktu antara (2 – 3) hari.
Selama proses penetasan, induk-induk tawes diberi pakan berupa dedak halus atau dedaunan. Beberapa hari kemudian barulah benih tawes berwarna putih keperakan mulai terlihat dan memakan dedak halus seperti induknya. Benih-benih tawes tersebut dipelihara selama kurang lebih 25 hari dan selanjutnya dapat dilakukan pemanenan untuk dibesarkan menjadi ukuran konsumsi.

6. Pemanenan hasil
Pemungutan hasil dilakukan dengan memanen benih tawes setelah berumur 25 hari dengan menangkapnya menggunakan waring halus atau dengan mengeringkan kolam secara total. Pemanenan benih harus dilakukan pada saat suhu air masih rendah untuk menghindari stres yang dapat menyebabkan kematian. Waktu yang tepat untuk pemanenan adalah pagi atau sore hari, untuk penangkapan pada pagi hari, pengeringan kolam dilakukan pada tengah malam, sehingga menjelang matahari terbit air akan tersisa pada kemalir. Benih yang terkumpul didalam kemalir kemudian ditangkap menggunakan sekop net. Sementara itu, induk-induk tawes dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk untuk menunggu kematangan telur berikutnya sehingga pada waktu yang diinginkan dapat kembali dipijahkan.
Benih tawes kemudian ditampung didalam hapa dan ditempatkan pada air yang baru atau di depan pintu pemasukan kolam lain. Didalam hapa kemudian dilakukan sortasi, benih yanag pertumbuhannya bagus dengan morfologi lengkap sebagian dijadikan stok untuk calon induk. Benih yang pertumbuhannya kurang bagus, dapat dibesarkan tersendiri dan dilakukan pengontrolan agar pertumbuhannya dapat dikedalikan.

3.4. Pemijahan Sistem Imbas
Pemijahan ikan tawes dapat juga dilakukan melalui sistem imbas atau induksi bersama dengan ikan mas. Dalam pemijahan sistem imbas ini, tawes akan terangsang oleh adanya bau amis (telur dan sperma) dari ikan mas yang telah memijah terlebih dahulu. Pemijahan sistem imbas sebenarnya dilakukan untuk merangsang ikan mas agar memijah karena aktifitas pemijahan tawes, tetapi tidak jarang pemijahan ini menjadi terbalik justru tawes menjadi terimbas sebagai akibat ikan mas yang memijah terlebih dahulu.

1. Persiapan kolam pemijahan
Kolam yang digunakan untuk pemijahan dengan sistem imbas pada perinsipnya tidak jauh berbeda seperti pemijahan dikolam tanah, hanya saja perlu disiapkan sesuai dengan kondisi alami seperti habitat aslinya meskipun yang diharapkan tawes dapat terimbas karena pemijahan ikan mas. Ukuran kolam pemijahan yang digunakan berkisar antara 50 – 100 m2 yang di tembok diseluruh dindingnya atau pada kolam tanah biasa yang dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pembuangan air agar air dapat dikontrol. Kolam kemudian dipasang satu pasang hap yang ditempatkan saling berseberangan, hapa yang satu dipasang kakaban sesuai dengan jumlah induk ikan mas yang akan dipijahkan, Sedangkan pada hapa lainnya tidak diberikan kakaban sebagai pemijahan tawes.

2. Pelepasan Induk
Induk tawes dan induk mas yang akan di pijahkan dipilih yang berkualitas baik, yaitu tingkat kematangan gonadnya harus Sudah benar-benar matang dan siap untuk memijah hal ini karena dalam pemijahan sistem imbas dimaksudkan untuk menjamin keberhasilan pemijahan tawes atau ikan mas yang telah matang kelamin. Disamping tingkat kematangan gonadnya, induk juga harus dipilih bentuk morfologi yang sempurna dan tidak cacat dan bebas dari penyakit. Induk tawes dan induk mas yang telah diseleksi kemudian dimasukkan kedalam hapa yang telah disiapkan. Pelepasan induk dilakukan seperti halnya pada pemijahan ikan tawes secara sendiri dikolam tanah.

3. Penetasan telur
Penetasan telur antara ikan mas dan ikan tawes berbeda cara penanganannya. Hal ini disebabkam karena perbedaan sifat telur di antara keduanya. Telur ikan mas bersifat adesif (melekat) dan tidak dapat terlepas dari alat penempelnya (substrat) sehingga penetasannya pun harus dilakukan sekaligus dengan substratnya. Sebaliknya, telur tawes bersifat melayang (demersal) sehingga penetasan perlu dilakukan dengan alat khusus. Penetasan telur dilakukan di corong penetasan yang terbuat dari kain kasa yang sangat halus. Corong penetasan ini di buat dengan diameter 30 cm dan panjang (20 – 30) cm. Bagian rangka corong di buat dari besi. Sementara itu, diujung corong yang berbentuk kerucut diberi lubang untuk selang plastik. Sebelum telur dipindahkan ke tempat penetasan maka corong – corong perlu dipersiapkan dulu.
Corong penetasan yang sudah pernah di pakai harus dicuci dulu dan direndam dalam larutan PK supaya bebas hama. Besi penggantungnya di pasang di atas penetasan. Keran-keran air yang akan dihubungkan dengan corong penetasan sebaiknya di cek kembali, masih baik atau sudah tersumbat. Jika tersumbat sebaiknya keran tersebut dibetulkan terlebih dahulu agar nantinya tidak akan menggagalkan penetasan telur-telur ikan tawes, kemudian dipindahkan dari hapa pemijahan kedalam corong-corong penetasan tersebut. Pada tiap corong ditetaskan sebanyak 30.000 butir telur. Telur-telur yang ada di dalam corong akan mengendap di dasar corong yang berbentuk kerucut. Agar telur-telur tersebut dapat mengambang maka keran air di buka agar air masuk kedalam corong.
Setelah aliran air masuk maka telur-telur akan mulai berputar mengikuti sIrkulasi aliran air sehingga tidak menumpuk di dasar corong. Selain itu, telur-telur di dalam corong penetasan juga mendapatkan suplai oksigen yang dibawa oleh aliran air tersebut. Beberapa jam Setelah telur ditetaskan maka akan tampak lapisan minyak yang berasal dari telur tawes yang biasanya berkumpul di bagian permukaan air.
Dengan permukaan air yang baru dari keran maka permukaan air bak penetasan akan lebih tinggi dibandingkan pintu pembuangan, akibatnya, lapisan minyak yang berada di permukaan air akan hanyut terbawa aliran air. Setelah 13 jam maka benih-benih akan mulai menetas dan mengikuti aliran air dari keran, sama seperti telur-telur tawes. Oleh karena masih lemah maka benih-benih ini akan terbawa aliran air. Untuk itu, agar benih-benih tersebut tidak terhanyut keluar dari corong, sebaiknya aliran air diperkecil. Sampai dua hari setelah menetas benih belum memerlukan makanan dari luar karena benih tersebut masih mangandung telur. Dalam waktu dua hari itu juga telur-telur yang terlambat menetas sudah manetas semuanya.

4. Pemindahan benih
Pemindahan benih tawes dilakukan pada hari ketiga Setelah menetas. Pada hari itu, benih tawes mulai membutuhkan makanan dari luar. Pemindahan benih ini harus dilakukan dengan hati-hati karena kondisinya masih lemah. Untuk memindahkan benih ini dilakukan dengan cara mematikan keran-keran air lalu tunggu beberapa saat sampai benih berkumpul. Dengan mengunakan gelas atau cangkir beremail, benih di pindahkan kedalam ember lalu dibawa kekolam pendederan. Jumlah benih yang dihasilkan setiap kg induk tawes berkisar antara 50.000 – 100.000 ekor umur 3 hari.

3.5. Pendederan
Persiapan kolam pendederan untuk ikan tawes ini sama halnya untuk ikan-ikan lainnya. Mula-mula kolam dikeringkan selama 2 – 3 hari, kemudian dilakukan perbaikan pematang dan pembuatan caren/saluran. Dasar kolam diolah, dicangkul, kemudian dipupuk dengan Urea & SP 36 10 gr/m2. Setelah kolam dipupuk, diairi setinggi 2 – 3 cm dan dibiarkan 2 – 3 hari, kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman 50 cm. Kolam yang dipergunakan sebagai tempat pendederan biasanya berukuran antara 300 – 600 m2. Tinggi air dalam kolam pendederan pada pintu pemasukannya 45 cm, dan 75 cm di pintu pengeluaran air. Padat penebaran benih yang berukuran 2 cm atau berumur 3 – 4 minggu sebanyak 10 – 20 ekor/ m2. Dalam kolam seluas 300 m2 dapat ditebarkan benih sebanyak 4.500 ekor.
Pendederan ini biasanya lamanya 3 – 4 minggu dan benih yang di panen dapat mencapai ukuran 3 – 5 cm. Lebih jauh untuk menjaga keselamatan ikan tersebut, kemalir harus dibebaskan dari lumpur yang masuk secara tidak sengaja. Pembersihan lumpur ini dapat dilakukan sehari sebelum kolam dikeringkan dengan mempergunakan kaki pada saat kolam masih terisi penuh oleh air. Jika ini diabaikan dapatlah dipastikan ikan-ikan tawes yang dipanen nanti akan mabuk oleh lumpur yang teraduk pada kemalir ini. Pendederan selanjutnya dapat kembali dilakukan dengan padat penebaran kurang lebih 4 – 6 ekor/ m2 luas kolam untuk benih-benih ikan yang berukuran 5 cm. Setelah pendederan ini selesai, maka dapat dipanen dan hasil benih dapat dijual atau ditebar lagi di kolam pendederan II.

DAFTAR PUSTAKA

Balai Informasi Penyuluh Pertanian Magelang; Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id, Maret 2001.

Arisman. 1985. Perikanan Darat. Angkasa: Bandung.

Asmawi. Suhaili. 1983. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. PT Gramedia, Jakarta.

Susanto, Heru. 1993. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya, Jakarta.

Susanto, Heru. 2003. Usaha Pembenihan Dan Pembesaran Tawes. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sumber : http://syamsulhadi42.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar