Minggu, 03 Mei 2015

Teknis Pemeliharaan Lele Organik

I. Pendahuluan.
Lele merupakan jenis ikan yang digemari masyarakat, dengan rasa yang lezat, daging empuk, duri teratur dan dapat disajikan dalam berbagai macam menu masakan.

II. Pembenihan Lele.
Adalah budidaya lele untuk menghasilkan benih sampai berukuran tertentu dengan cara mengawinkan induk jantan dan betina pada kolam-kolam khusus pemijahan. Pembenihan lele mempunyai prospek yang bagus dengan tingginya konsumsi lele serta banyaknya usaha pembesaran lele.

III. Sistem Budidaya.
Terdapat 3 sistem pembenihan yang dikenal, yaitu :
1. Sistem Massal. Dilakukan dengan menempatkan lele jantan dan betina dalam satu kolam dengan perbandingan tertentu. Pada sistem ini induk jantan secara leluasa mencari pasangannya untuk diajak kawin dalam sarang pemijahan, sehingga sangat tergantung pada keaktifan induk jantan mencari pasangannya.
2. Sistem Pasangan. Dilakukan dengan menempatkan induk jantan dan betina pada satu kolam khusus. Keberhasilannya ditentukan oleh ketepatan menentukan pasangan yang cocok antara kedua induk.
3. Pembenihan Sistem Suntik (Hyphofisasi).
Dilakukan dengan merangsang lele untuk memijah atau terjadi ovulasi dengan suntikan ekstrak kelenjar Hyphofise, yang terdapat di sebelah bawah otak besar. Untuk keperluan ini harus ada ikan sebagai donor kelenjar Hyphofise yang juga harus dari jenis lele.

IV. Tahap Proses Budidaya.
A. Pembuatan Kolam.
Ada dua macam/tipe kolam, yaitu bak dan kubangan (kolam galian). Pemilihan tipe kolam tersebut sebaiknya disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Secara teknis baik pada tipe bak maupun tipe galian, pembenihan lele harus mempunyai :
Kolam tandon. Mendapatkan masukan air langsung dari luar/sumber air. Berfungsi untuk pengendapan lumpur, persediaan air, dan penumbuhan plankton. Kolam tandon ini merupakan sumber air untuk kolam yang lain.
Kolam pemeliharaan induk. Induk jantan dan bertina selama masa pematangan telur dipelihara pada kolam tersendiri yang sekaligus sebagai tempat pematangan sel telur dan sel sperma.
Kolam Pemijahan. Tempat perkawinan induk jantan dan betina. Pada kolam ini harus tersedia sarang pemijahan dari ijuk, batu bata, bambu dan lain-lain sebagai tempat hubungan induk jantan dan betina.
Kolam Pendederan. Berfungsi untuk membesarkan anakan yang telah menetas dan telah berumur 3-4 hari. Pemindahan dilakukan pada umur tersebut karena anakan mulai memerlukan pakan, yang sebelumnya masih menggunakan cadangan kuning telur induk dalam saluran pencernaannya.

B. Pemilihan Induk
Induk jantan mempunyai tanda :
– tulang kepala berbentuk pipih
– warna lebih gelap
– gerakannya lebih lincah
– perut ramping tidak terlihat lebih besar daripada punggung
– alat kelaminnya berbentuk runcing.

Induk betina bertanda :
– tulang kepala berbentuk cembung
– warna badan lebih cerah
– gerakan lamban
– perut mengembang lebih besar daripada punggung alat kelamin berbentuk bulat.

C. Persiapan Lahan.
Proses pengolahan lahan (pada kolam tanah) meliputi :
  • Pengeringan. Untuk membersihkan kolam dan mematikan berbagai bibit penyakit.
  • Pengapuran. Dilakukan dengan kapur Dolomit atau Zeolit dosis 60 gr/m2 untuk mengembalikan keasaman tanah dan mematikan bibit penyakit yang tidak mati oleh pengeringan.
  • Perlakuan TON (Tambak Organik Nusantara). untuk menetralkan berbagai racun dan gas berbahaya hasil pembusukan bahan organik sisa budidaya sebelumnya dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100m2. Penambahan pupuk kandang juga dapat dilakukan untuk menambah kesuburan lahan.
  • Pemasukan Air. Dilakukan secara bertahap, mula-mula setinggi 30 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari untuk menumbuhkan plankton sebagai pakan alami lele.
  • Pada tipe kolam berupa bak, persiapan kolam yang dapat dilakukan adalah :
  • Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.
  • Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air fapat langsung penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama

D. Pemijahan.
Pemijahan adalah proses pertemuan induk jantan dan betina untuk mengeluarkan sel telur dan sel sperma. Tanda induk jantan siap kawin yaitu alat kelamin berwarna merah. Induk betina tandanya sel telur berwarna kuning (jika belum matang berwarna hijau). Sel telur yang telah dibuahi menempel pada sarang dan dalam waktu 24 jam akan menetas menjadi anakan lele.

E. Pemindahan.
Cara pemindahan :
  • kurangi air di sarang pemijahan sampai tinggi air 10-20 cm.
  • siapkan tempat penampungan dengan baskom atau ember yang diisi dengan air di sarang.
  • samakan suhu pada kedua kolam
  • pindahkan benih dari sarang ke wadah penampungan dengan cawan atau piring.
  • pindahkan benih dari penampungan ke kolam pendederan dengan hati-hati pada malam hari, karena masih rentan terhadap tingginya suhu air.

F. Pendederan.
Adalah pembesaran hingga berukuran siap jual, yaitu 5 – 7 cm, 7 – 9 cm dan 9 – 12 cm dengan harga berbeda. Kolam pendederan permukaannya diberi pelindung berupa enceng gondok atau penutup dari plastik untuk menghindari naiknya suhu air yang menyebabkan lele mudah stress. Pemberian pakan mulai dilakukan sejak anakan lele dipindahkan ke kolam pendederan ini.

V. Manajemen Pakan.
Pakan anakan lele berupa :
  • pakan alami berupa plankton, jentik-jentik, kutu air dan cacing kecil (paling baik) dikonsumsi pada umur di bawah 3 – 4 hari.
  • Pakan buatan untuk umur diatas 3 – 4 hari. Kandungan nutrisi harus tinggi, terutama kadar proteinnya.
  • Untuk menambah nutrisi pakan, setiap pemberian pakan buatan dicampur dengan POC NASA dengan dosis 1 – 2 cc/kg pakan (dicampur air secukupnya), untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh karena mengandung berbagai unsur mineral penting, protein dan vitamin dalam jumlah yang optimal.

VI. Manajemen Air.
Ukuran kualitas air dapat dinilai secara fisik :
– air harus bersih
– berwarna hijau cerah
– kecerahan/transparansi sedang (30 – 40 cm).

Ukuran kualitas air secara kimia :
– bebas senyawa beracun seperti amoniak
– mempunyai suhu optimal (22 – 26 0C).

Untuk menjaga kualitas air agar selalu dalam keadaan yang optimal, pemberian pupuk TON sangat diperlukan. TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, lemak, protein, karbohidrat dan asam humat mampu menumbuhkan dan menyuburkan pakan alami yang berupa plankton dan jenis cacing-cacingan, menetralkan senyawa beracun dan menciptakan ekosistem kolam yang seimbang. Perlakuan TON dilakukan pada saat oleh lahan dengan cara dilarutkan dan di siramkan pada permukaan tanah kolam serta pada waktu pemasukan air baru atau sekurang-kurangnya setiap 10 hari sekali. Dosis pemakaian TON adalah 25 g/100m2.

VI. Manajemen Kesehatan.
Pada dasarnya, anakan lele yang dipelihara tidak akan sakit jika mempunyai ketahanan tubuh yang tinggi. Anakan lele menjadi sakit lebih banyak disebabkan oleh kondisi lingkungan (air) yang jelek. Kondisi air yang jelek sangat mendorong tumbuhnya berbagai bibit penyakit baik yang berupa protozoa, jamur, bakteri dan lain-lain. Maka dalam menejemen kesehatan pembenihan lele, yang lebih penting dilakukan adalah penjagaan kondisi air dan pemberian nutrisi yang tinggi. Dalam kedua hal itulah, peranan TON dan POC NASA sangat besar. Namun apabila anakan lele terlanjur terserang penyakit, dianjurkan untuk melakukan pengobatan yang sesuai. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa, bakteri dan jamur dapat diobati dengan formalin, larutan PK (Kalium Permanganat) atau garam dapur. Penggunaan obat tersebut haruslah hati-hati dan dosis yang digunakan juga harus sesuai.

Sumber :
https://budidayaagrokompleks.blogspot.com

Budidaya Ikan dan Udang Organik

Perikanan organic merupakan upaya baru dalam peningkatan produksi dibidang perikanan dengan memanfaatkan keseimbangan ekosistem, polusi air yang disebabkan adanya kotoran ikan dan makan yang tidak habis menyebabkan produksi menurun dikarenakan banyaknya kasus kematian ikan dikolam, belum lagi polusi alam yang disebabkan aroma air kolam akan menimbulkan problem tersendiri dikalangan para petani ikan.
Dengan tehnologi organic untuk menekan polusi dikolam perikanan adalah cara yang cukup efektif untuk mengatasi berbagai masalah kematian ikan, penggantian air setiap kolam mulai keruh dan bau bukan sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini, disamping akan menambah biaya perawatan dan produksi kemungkinan stress karena pemindahan akan air akan terjadi.
Salah satu cara adalah dengan menggunakan bio activator mikroba yang bisa mengurai limbah menjadi unsur yang bermanfaat bagi ekosistem kolam ikan, selain itu secara alami bisa menggunakan beberapa jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis seperti kangkung, selada air, dan genjer bisa sedikit membantu polusi air kolam, disamping juga sebagai komoditi tambahan bagi petani ikan dari hasil panen sayuran, jenis sayuran ini bisa dijadikan sebagai makanan tambahan bagi ikan peliharaan.seperti halnya metode tumpang sari pada lahan sayuran bisa diterapkan juga dikolam perikanan dengan cara diatas.
Dengan mikroba akan meningkatkan produktifitas dan akan menghemat biaya pakan hingga 40%. Bio activator ini berfungsi sebagai penumbuh plankton sebagai makanan tambahan ikan dan meningkatkan kesuburan tanah disekitar lahan perikanan

Untuk Perluas Kolam / Tambak 1 are ( 100 m2 ) :

1. Menyiapkan Lahan Tambak Pemeliharaan
  • Siapkan tambak / kolam dengan kedalam yang diinginkan baik dengan pola tradisional maupun moderen ( super Intensive )
  • kolam siap aplikasikan Produk RI 1 pakan ikan dan udang dengan koposisi 30cc : 3 liter air, semprotkan diatas permukaan dasar kolam dengan merata, bertujuan untuk menguraikan kandungan kimia atau residu kimia yang terkandung dalam tanah.
  • Bilamana Tambak atau kolam sudah tersedia dan sudah seringkali dipergunakan untuk pemeliharaan, kuras airnya terlebih dahulu sampai kering kemudian kupas permukaan dasar kolam + 5 – 10 cm dengan tujuan agar sisa – sisa kotoran ikan & udang dapat terbuang keluar dari dasar kolam, karena kotoran ikan & udang adalah bersifat racun yang dapat meracuni ikan maupun udang.
  • aplikasikan RI 1 Nutrisi Ikan & Udang dengan komposisi 30cc : 3 liter air diatas permukaan dasar kolam tadi, bertujuan untuk mengembalikan humus dan kandungan organik tanah sehingga limbah kotoran ikan & udang dapat terurai, diamkan selama + 2 hari.
  • pupuk kandang pola Bokasi.

2. Cara Kerja Olah Bokasi
  • Sediakan wadah untuk adonan ( Drum/Ember )
  • 100 kg pupuk kandang kering dan bersih
  • pupuk kandang tersebut kedalam wadah, kemudian is air sampai jenuh + 2cm dari permukaan pupuk kandang tersebut kemudian masukkan 500cc Nutrisi RI1 pakan Ikan & Udang aduk sampai merata.
  • wadah adonan dengan rapat supaya proses olah bokasi menjadi sempurna selama 7 hari.
  • proses olah bokasi terjadi dan pupuk kandang muali mengental, tuangkan kedalam kantung plastik kemudian remas dan lumatkan adonan pupuk kandang tersebut hingga membentuk adonan halus.
  • Pupuk pola olah bokasi siap ditebarkan, untuk perluas lahan 1m2 menghabiskan 5 kg pupuk dasar pola olah bokasi.
  • air kedalam kolam dengan kedalaman + 10 cm diamkan selama 2 hari biarkan dasar kolam menjadi jenuh air sehingga gelembung udara tidak terjadi lagi proses oksidasi sudah selesai, kemudian tambahkan air kedalam kolam sesuai kedalamam yqang diinginkan diamkan selama 3 hari setelah itu lanjutkan dengan tebar benih ikan maupun udang.

3. Tebar Benih Ikan maupun udang ( Pemeliharaan )

Dengan pakan buatan dan Nutrisi Pakan Ikan & Udang RI1 Organik
  • Tebar benih sesuai kapasitas yang diinginkan idealnya + 50 s/d 60 ekor per 1M2 atau 5000 s/d 6000 ekor per 100 m2 atau 1 Are.
  • Pada saat penebaran benih tidak perlu lagi memberikan pakan bagi ikan dan udang karena kesediaan pakan sudah cukup untuk kebutuhan selama 1 minggu.
  • Aplikasi selanjutnya dilakukan setelah ikan & udang berumur 1 minggu, pada minggu ke 2 aplikasikan Nutrisi RI 1 Organik pakan Ikan & Udang dengan komposisi 30cc : 3 liter air tebarkan merata pada permukaan air kolam.
  • selanjutnya pada minggu ke 3 aplikasikan RI1 Organik pakan Ikan & Udang 50 cc : 30 liter air tebarkan merata pada permukaan air kolam.
  • Pada minggu ke 4 aplikasikan RI1 Organik 150 cc : 30 liter air tebarkan merata pada permukaan kolam sampai panen sesuai target umur dan besar ikan & udang yang diinginkan.
(Perhatian ! Untuk pakan buatan/pelet Volume pemakaiannya dapat dikurangi hingga 40 % atau pemberian pakan buatan/pelet dapat dilakukan 1 minggu 3 kali dengan volume normal setiap kali tebar)

Pemeliharaan & perawatan dengan Pakan RI1 Saja

  • Tebar benih sesuai kapasitas yang diinginkan idealnya + 50 s/d 60 ekor per 1M2 atau 5000 s/d 6000 ekor per 100 m2 atau 1 Are.
  • Pada saat penebaran benih tidak perlu lagi memberikan pakan bagi ikan dan udang karena kesediaan pakan sudah cukup untuk kebutuhan selama 1 minggu.
  • Aplikasi selanjutnya dilakukan setelah ikan & udang berumur 1 minggu, pada minggu ke 2 aplikasikan Nutrisi RI 1 Organik pakan Ikan & Udang dengan komposisi 500cc : 30 liter air tebarkan merata pada permukaan air kolam.
  • selanjutnya pada minggu ke 3 aplikasikan RI1 Organik pakan Ikan & Udang 750 cc : 30 liter air tebarkan merata pada permukaan air kolam.
  • Pada minggu ke 4 aplikasikan RI1 Organik 1500 cc : 30 liter air tebarkan merata pada permukaan kolam sampai panen sesuai target umur dan besar ikan & udang yang diinginkan.

Manfaat & Kegunaannya
  • Dapat mengurangi kebutuhan pakan sampai maximum 40%
  • Dapat meniadakan 100 % pakan buatan / pelet cukup dengan RI1.
  • Dapat mrningkatkan daya tahan ikan & udang terhadap penyakit
  • Dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi ikan & Udang
  • Dapat memenuhi kebutuhan pakan bagi Ikan & Udang
  • Dapat membentuk aqua plankton & zooplankton sebagai pakan pokok Ikan & Udang
  • Dapat menjaga dan memperbaiki proses 
  • Tidak meninggalkan residu kimia didasar kolam
  • Dapat mencegah serangan penyakit
  • Cara aplikasi sangat mudah dan hemat
  • Pemakaian sedikit untuk lahan yang luas
  • Biaya murah
  • Meningkatkan pendapatan bagi petani
  • Membuka peluang kerja baru karna biaya tidak mahal.
  • Layak untuk dikonsumsi dan sehat
Perhatian ! :
  • Aplikasi dilakukan 1 minggu sekali
  • Aplikasi terbaik dilakukan pada pagi hari antara jam 06.00 s/d 09.00.
  • Dilarang mempergunakan Pupuk dan Obat – obatan anorganik.
Diolah dari berbagai sumber
https://defishery.wordpress.com

Better Management Practice

Salah satu kendala dalam bidang budidaya perikanan adalah permasalahan pemasaran produk perikanan yang seringkali menghadapi kendala yaitu tidak mampu memenuhi permintaan dari konsumen yaitu kontinuitas dan juga kualitas dari ikan itu sendiri. Permasalahan mengenai kontinuitas masih bisa dipahami mengingat sebagian besar pembudidaya ikan di Indonesia termasuk small scale farmers atau petani dengan skala usaha yang kecil. Adapun pembudidaya ikan seringkali menghadapi permasalahan dalam produksi ikan akibat berbagai hal.

Bila diuraikan satu per satu permasalahan pembudidaya cukup banyak antara lain kurangnya kemampuan teknis pembudidaya, kurangnya dukungan finansial (permodalan) untuk meningkatkan skala usaha akibat sulitnya mengakses permodalan, kualitas ikan seringkali tidak memenuhi standar akibat masih mengandung zat antibiotik yang sudah tidak diperbolehkan maupun permasalahan penyakit yang melanda berbagai tahapan budidaya dari mulai pembenihan hingga pembesaran.

Pengembangan dan adopsi Better Management Practices di tingkat pembudidaya menjadi salah satu upaya untuk menanggulangi permasalahan di tingkat pembudidaya sehingga produk perikanan budidaya dapat diterima oleh pasar lokal maupun pasar internasional. Better Management Practices (BMP) di bidang budidaya seringkali disalah artikan sebagai upaya standarisasi oleh pemerintah maupun upaya sertifikasi.

Definisi Better Management Practices (BMP) dapat kita definisikan sebagai norma-norma yang patut dijalankan. Secara garis besar BMP memuat aturan-aturan yang bertujuan membentuk pemahaman akuakultur atau budidaya ikan yang bertanggungjawab terhadap lingkungan. BMP memiliki implikasi mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk budidaya yang aman, lestari dan ramah lingkungan dan pada akhirnya secara tidak langsung mampu meningkat profitabilitas dari usaha akuakultur. Implementasi BMP pada akhirnya akan mampu membantu petani untuk mencapai standar-standar yang terukur bila mana pada akhirnya sebuah unit budidaya diminta melakukan standarisasi oleh lembaga nasional maupun internasional.

Standarisasi biasanya dibuat berdasarkan permintaan dari konsumen sehingga memenuhi syarat komoditas pangan yang aman untuk dikonsumsi dan juga aman bagi lingkungan. Standar BMP biasanya dibentuk dari apa yang dilakukan oleh pembudidaya sehingga BMP ini bisa dikategorikan bukan sebagai kebijakan top-down akan tetapi sebagai kebijakan pragmatis yang bottom-up.

Bagaimana formulasi BMP dilakukan?

BMP merupakan kegiatan yang bisa dikatakan spesies spesifik dan spesifik untuk berbagai jenis lokasi budidaya. Langkah awal untuk memahami BMP adalah dengan secara komprehensif teknis budidaya dari satu spesies ikan budidaya. Pemahaman teknis dilanjutkan dengan pemahaman bagaimana sebuah unit budidaya berkorelasi terhadap lingkungan, pemasaran, sosial budaya dan hal-hal lain yang berpengaruh terhadap sustainability dari unit budidaya. Pertimbangan-pertimbangan yang sudah dianalisa selanjutnya menjadi pijakan untuk menganalisa faktor resiko yang mampu mempengaruhi unit budidaya, sehingga standar BMP disesuaikan dengan apa yang diperlukan oleh pembudidaya untuk menjaga keberlangsungan unit budidaya.

Aplikasi BMP di tingkat pembudidaya merupakan sebuah hal yang tidak instan dan memerlukan proses yang lama karena berkaitan dengan upaya merubah kultur atau pemahaman seseorang dan hali ini tentunya memerlukan waktu lama. Perlu ada manajemen yang kontinyu dari pihak yang berkompeten untuk membantu terwujudnya BMP di unit pembudidaya dan kesuksesan BMP biasanya tidak terkait dengan individu tetapi harus bersifat menyeluruh sehingga terdapat koordinasi antar unit pembudidaya di sebuah daerah tertentu.

Salah satu wujud BMP yang baik adalah aplikasi kerjasama dalam kelompok tani sehingga hal-hal yang perlu dirubah dapat didiskusikan bersama. Keuntungan membuat kelompok tani tentunya akan lebih memudahkan untuk mempelajari bersama dan menggalang kekuatan sehingga akan memudahkan petani untuk mencapai hal yang lebih baik seperti sertifikasi ataupun mendapatkan kredit usaha.

Demikian kiranya bahasan mengenai BMP di bidang akuakultur semoga bisa menjadi masukan berharga.

Sumber: http://konsultanperikanan.com

Sabtu, 11 April 2015

Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan)

Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) & Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) Gemarikan diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 April 2014 oleh Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarno Putri. Peluncuran Gemarikan dilakukan bersamaan dengan peresmian Pasar Ikan Higienis (PIH) Pejompongan Jakarta Pusat. Pencanangan Gemarikan merupakan momentum yang sangat penting dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang kuat, sehat, cerdas dan berpenampilan prima sekaligus membangun karakter bangsa, yakni mencerdaskan masyarakat secara fisik dan mental dengan mengkonsumsi ikan. Gemarikan sebagai gerakan nasional dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh komponen bangsa (seperti instansi pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, swasta, LSM, asosiasi, lembaga profesional, lembaga/organisasi kemasyarakatan, lembaga keagamaan dan pelaku usaha) Ruang lingkup Gemarikan adalah penyebarluasan informasi dan penguatan edukasi kepada masyarakat luas tentang ikan dan manfaatnya bagi kesehatan, kekuatan, dan kecerdasan melalui berbagai kegiatan promosi, safari Gemarikan, pemberian makanan tambahan berbahan baku ikan (PMTAS), ceramah/seminar/simposium manfaat makan ikan, penyebarluasan materi promosi, keikutsertaan pada pameran, iklan layanan masyarakat, talkshow serta lomba masak serba ikan. Gemarikan dilaksanakan di provinsi, kabupaten/kota diseluruh Indonesia, terutama pada daerah pedesaan dan perkotaan dengan tingkat konsumsi ikan rendah dan daerah dengan kasus gizi buruk atau rawan pangan serta daerah khusus sesuai kepentingan dengan target massa seluruh unsur masyarakat seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, anak sekolah, LSM, DPR dan lembaga/organisasi kemasyarakatan lainnya. Dengan adanya program Gemarikan diharapkan masyarakat Indonesia akan memperoleh asupan nutrisi dari sumber pangan ikan yang kaya gizi, menguatkan, menyehatkan dan mencerdaskan. Disamping itu, diharapkan pula dapat mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya nelayan, pembudidaya, pengolah dan pemasaran hasil perikanan melalui peningkatan rata-rata konsumsi ikan; FORUM PENINGKATAN KONSUMSI IKAN (FORIKAN)

Selamatkan Ekosistem Pantai dengan Mangrove



Hutan mangrove secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah pasang surut (pantai, laguna, muara ataupun sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut serta komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut. Tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove adalah tumbuhan yang bersifat halophyteatau mempunyai toleransi yang tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut dan pada umumnya bersifat alkalin.

Hutan mangrove di Indonesia sering juga disebut hutan bakau. Tetapi istilah ini sebenarnya kurang tepat karena bakau (rhizophora) adalah salah satu family tumbuhan yang sering ditemukan dalam ekosistem hutan mangrove. Mangrove merupakan salah satu tumbuhan yang ada di ekosistem pantai atau pesisir. Keberadaannya sangatlah menunjang bagi kelangsungan hidup biota yang ada di sekitar pantai atau laut, seperti kehidupan ikan, kerang, burung dan biota lainnya.

Lingkungan pesisir yang di dalamnya juga terdapat mangrove sebagai sumberdaya alam didukung oleh berbagai fungsi spesifik yaitu: sebagai sumber daya pariwisata dan rekreasi, sebagai sumberdaya perikanan, sumberdaya pertanian, sumberdaya ekologis dan konservasi alam serta sebagai tempat tinggal penduduk.

Polikultur Gracillaria, Udang dan Bandeng

Polikultur dapat dilakukan pada tambak biasa dan tambak yang ditanami mangrove. Sistem budidaya polikultur yang berkembang antara lain : 
  • Udang + Bandeng 
  • Udang + Nila 
  • Bandeng +Rumput Laut Glacillaria sp 
  • Udang + Bandeng/NIla + Rumput laut Glacillaria sp 
Keuntungan dengan sistem polikultur ini dapat meningkatkan produktivitas lahan dengan menghasilkan lebih dari satu komoditi. Pada satu petakan akan terjadi hubungan yang saling menguntungkan dan termanfaatkannya potensi yang ada di tambak. Misalnya polikultur udang, rumput laut Glacillaria sp., dan bandeng. Rumput laut sebagai sumber oksigen pada siang, dapat memanfaatkan unsur hara. Bandeng dan udang memanfaatkan pakan alami yang tumbuh pada sekitar batang rumput laut. Udang akan berlindung pada sekitar rumput laut.

Budidaya Udang Vanname Hemat Biaya Untung Besar

Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) merupakan varietas udang asli dari perairan Amerika latin. Masuk ke Indonesia sekitar tahun 1999. Perkembangannya cukup pesat terutama petambak yang ada di Jawa dan luar Jawa banyak mengalihkan komoditi udang windu ke komoditi udang vannamei. Mengingat tambak-tambak udang windu banyak mengalami masalah gagal panen.

Selama ini budidaya udang vannamei dilakukan dengan teknologi intensif dan semi intensif oleh petambak berkantong tebal, dengan rata-rata masa pemeliharaan 100-120 hari dengan modal puluhan hingga ratusan juta rupiah per siklus. Berbeda dilakukan oleh P.Kasau, penyuluh perikanan swadaya dan Abdul Salam Atjo penyuluh perikanan PNS di desa Wiringtasi kecamatan Suppa. Hanya menginves modal operasional sekitar Rp.8 jutaan dalam tempo 55 hari masa pemeliharaan mampu mendapatkan omzet Rp. 38,5 Juta. Cukup singkat, modal tipis dan menguntungkan.

Menurut P. Kasau, budidaya udang vannamei tidak perlu modal besar dan waktu yang lama bagi petambak yang bermodal sedikit. Hal ini telah dibuktikan oleh ayah dari dua orang anak ini di satu petakan seluas sekitar 1 hektare. Kajian berkali-kali yang telah dilakukan P. Kasau ingin menghapus kesan bahwa budidaya udang vannamei hanya mampu dilakukan oleh pemilik modal besar. “Tapi, kenyataan lapangan membuktikan dengan modal operasional yang pas-pasan dengan teknologi seadanya mampu juga menghasilkan untung berlipat,” ungkapnya. Cara budidaya udang yang diterapkan P. Kasau sebetulnya masuk kategori teknologi tradisional plus. Sebab, padat tebarnya masih dibawah 10 ekor permeter namun pemberian pakan sudah dilakukan sejak awal tebar.

Persiapan Tambak

Untuk mengawali pemeliharaan udang vannamei pola tradisional plus lebih dahulu dilakukan persiapan tambak. Seperti hal dengan budidaya udang windu persiapan tambak dimulai dengan rehab dengan petakan tambak yang sudah ada dengan menambal bocoran, menaikkan lumpur dari dalam tambak ke pematang, meratakan tanah dasar dan perbaikan pintu air tambak. Kemudian tambak dikeringkan hingga redoks mencapai lebih dari 50 mV, pemberantasan hama dengan saponin 20 ppm, pembilasan tambak, pengapuran dengan kapur dolomite. Disini tidak melakukan pemupukan karena melihat kondisi air sudah cukup plankton sebagai makanan alami benur.

Tebar Benur Sehat

Setelah plankton dalam tambak dipastikan sudah tumbuh subur ditandai warna air hijau kecoklatan. Pada 13 Oktober 2014 dipilih waktu tepat untuk tebar benur. Benur udang vannamei ukuran berat awal 0,001 gram/ekor (PL.12) yang diperoleh dari hatchery PT. Kencana Suppa (Grobest Group) telah dinyatakan lolos uji virus dan bebas pathogen Spesific Pathogen Free ( SPF) dari Laboratorium pengujian kesehatan benur. Ciri-ciri benur vannamei yang baik antara lain ukuran PL 10 yang ditandai organ insang telah sempurna, tubuh transparan, bergerak aktif, hepatopankreas terlihat jelas, dan jika berenang melawan arus. Sebelum benur ditebar lebih awal dilakukan penyesuaian (aklimatisasi) terhadap kadar garam, suhu air dan parameter kualitas air lainnya. Caranya, kantong plastik atau wadah berisi benur vannamei diapungkan dan secara perlahan disiram air tambak . Agar salinitas dalam wadah pengangkutan bisa mendekati salinitas air tambak maka tutup kantong plastik dibuka dan diberi sedikit demi sedikit air tambak selama 15-20 menit. Selanjutnya kantong benur dimiringkan secara perlahan benur vannamei akan keluar dengan sendirinya bila lingkungnnya yang baru sudah sesuai. Penebaran benur dilakukan pagi hari dengan padat tebar 70.000 ekor/ha.

Pemeliharaan

Selama masa pemeliharaan kegiatan yang dilakukan antara lain pemberian probiotik RICA, pemberian pakan tambahan, penambahan volume air tambak agar kedalaman tetap bertahan sekitar 60-70 cm. Pengapuran susulan berupa kapur dolomite super dilakukan apabila pengamatan terhadap pH memperlihatkan variasi yang tidak normal atau alkalinitas drop. Pemberian pakan buatan pabrik dapat dilakukan mulai hari pertama dengan kadar protein tinggi. Tujuannya agar benur yang masih bayi memerlukan asupan gizi yang cukup untuk daya tahan tubuhnya. Dosis pakan buatan yang diberikan 2 kg perhari dengan frekuensi pemberian 2 kali/ hari yakni 30 persen pada jam 06.00 dan 70 persen jam 18.00. Memasuki umur ke 31-55 pemberian pakan ditingkatkan frekwensinya menjadi 4 kali sehari yaitu jam 06.00, jam 11.00, jam 17.00 dan jam 22.00 dengan jumlah pakan 2,5-3 kg per sekali pemberian.

Kualitas air tambak untuk budidaya udang vannamei yang optimal tetap dipertahankan.

No.
Parameter Kualitas Air
Ppt
Derajat Celsius
ppm
ppm

1.
Salinitas
10-25




2.
Suhu

28-31



3.
Oksigen Terlarut


>4


4.
Ammoniak



< 0,1

5.
Ph




7,5-8,2

Pemberian Probiotik RICA

Berbeda dari sebagian petambak udang di kecamatan Suppa. P. Kasau sudah rutin melakukan kultur probiotik RICA untuk memperbaiki lingkungan dasar tambak sehingga udang tetap sehat dan lingkungan tambak tetap bersih. Aplikasi bakteri probiotik RICA (”Research Institute for Coastal Aquaculture”) terbukti mampu mencegah serangan penyakit melalui perbaikan kualitas air tambak. Menurut peneliti Balai Penelitian Perikanan Budidaya Air Payau Maros, Ir. Muharjadi Atmomarsono, M.Sc, bakteri probiotik mampu mengurangi kandungan total ammonium nitrogen (TAN), nitrit-nitrogen, dan H2S, serta menekan jumlah bakteri Vibrio spp dalam air tambak dan dapat meningkatkan sintasan dan produksi udang vannamei. Probiotik RICA 1,2 dan 3 merupakan hasil isolat bakteri asal tambak kelompok Bacilllus (Brevibacillus laterosporus), Serratia marcescens dari daun mangrove dan isolat Pseudoalteromonas sp. Edeep-1 yang berasal dari laut. Sedangkan probiotik RICA 4 dan 5 diisolasi dari bakteri bacillus mikro algae dan makro algae rumput laut.

Dalam aplikasi di tambak P.Kasau menebar probiotik RICA 1 sebanyak 10 liter setiap lima hari sampai umur udang memasuki hari ke 25. Selanjutnya RICA 2 ditebar mulai umur 26-50 hari dengan dosis sama dengan RICA 1. Mendekati usia panen 55 hari pemberian probiotik RICA 3 sebanyak 10 liter per untuk memperbaiki kualitas udang.

Panen

Karena pertimbangan aspek harga, pertumbuhan dan kesehatan udang maka pada tanggal 8 Desember 2014 (umur 55) hari dilakukan panen. Panen dilakukan dengan cara memasang kantong saringan di mulut pintu air lalu udang mengalir bersamaan keluarnya air dari petakan ke saluran pembuang. Cukup perlu waktu 2-3 jam udang sudah panen total. Sebelum panen lebih dahulu dilakukan pemberian kapur dolomite sebanyak 8 ppm dan mempertahankan ketinggian air atau tidak ada pergantian air selama 2-4 hari menjelang panen untuk menghindari terjadi moulting (ganti kulit).

Berdasarkan analisis ekonomi dari tambak P. Kasau untuk luas 1 ha ditebar 70.000 ekor /ha dengan masa pemeliharaan 55 hari memerlukan modal operasional sekitar Rp.8 juta terdiri dari harga benur, pakan 250 kg, kapur dolomit, saponin, dan probiotik 110 liter. Sedangkan produksi udang vannamei 700 kg ukuran 90 ekor/kg dengan harga Rp.55.000/kg. maka keuntungan kotor hasil budidaya udang vannamei pola tradisional plus sekitar Rp.30 juta.

Disunting/di Edit dari :http://pusluh.kkp.go.id/cyberextemsion

Alat Penangkapan Ikan - Purse Seine


Pukat cincin atau purse seine merupakan alat penangkap ikan dari jaring yang dioperasikan dengan melingkari gerombolan ikan. Pukat cincin dilengkapi dengan cincin/ring dan tali kerut yang diletakkan dibagian bawah jaring. Prinsip kerja pukat cincin adalah melingkari gerombolan ikan dengan cepat, kemudian menarik tali kerut sehingga jaring akan bebentuk seperti mangkuk. Beberapa nama lain pukat cincin adalah jaring kursin, pukat kantong dan lainnya. Tipe pukat cincin di Indonesia diantaranya pukat

cincin dua kapal, pukat cincin satu kapal, pukat cincin mini dan pukat cincin skala besar.

Bagian-bagian pukat cincin biasanya terdiri dari pelampung tanda, tali selambar, pelampung jaring, tali pelampung, tali ris, serampat, webbing (bagian sayap, dan kantong), tali pemberat, pemberat, tali cincin/ring, cincin/ring dan tali kerut. Pengoperasian pukat cincin juga dibantu dengan mesin bantu seperti alat penarik gardan, line hauler, winch hauler, dan power block. Sedangkan pada pukat cincin tipe dua kapal, penarikan tali kerut dilakukan dengan menggunakan kapal yang bergerak maju dengan kecepatan tertentu.

Ikan sasaran tangkap pukat cincin adalah ikan pelagis yang bergerombol seperti ikan Layang, Lemuru, Tongkol, Cakalang, Selar, Kembung, dan lain sebagainya. Untuk memudahkan pengoperasian

pukat cincin, nelayan biasa menggunakan alat bantu pengumpul ikan berupa rumpon dan lampu, sehingga pukat cincin biasa dioperasikan pada malam hari. Pada kapal pukat cincin yang modern, pengoperasian dapat dilakukan pada siang hari dengan mengejar gerombolan dan menghadang arah laju gerombolan. namun kapal tersebut sudah dilengkapi dengan alat pendeteksi ikan dan alat navigasi lainnya. Sebelum pengoperasian pukat cincin dilakukan, terlebih dahulu dilakukan persiapan alat tangkap diatas deck kapal. Penyusunan alat tangkap harus sudah dipersiapkan sebelum kapal berangkat menuju fishing ground. Penataan jaring dilakukan dengan memisahkan pelampung, badan jaring dan pemberat (termasuk cincin). Cincin disusun secara berurutan sehingga jaring tidak kusut pada saat diturunkan.

Tahapan operasi penangkapan pukat cincin dimulai dengan menurunkan alat tangkap dari kapal yang bergerak maju dengan melingkari gerombolan ikan sesempurna mungkin berbentuk lingkaran penuh. Kemudian dilanjutkan dengan segera menarik tali kerut dengan menggunakan line hauler atau winch hauler agar ikan terperangkap dan tidak sempat lolos. tahap selanjutnya adalah menaikkan bagian badan jaring ke kapal dengan cara menarik selambar menggunakan alat bantu power block pada pukat cincin skala besar, atau dengan manual (tenaga manusia) pada pukat cincin mini hingga bagian kantong. kemudian mengambil hasil tangkapan dengan jaring serok/tanggok untuk dinaikkan ke atas

kapal. Langkah terakhir adalah melakukan penanganan hasil tangkapan di atas kapal dengan penyortiran dan pendinginan ikan.

Sumber : http://pusluh.kkp.go.

Jumat, 10 April 2015

Standar Kompetensi Penyuluh Perikanan Terbaru


Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan dengan dukungan sepenuhnya Komite Standar Kompetensi KKP pada tahun 2014 yang lalu selesai melakukan kaji ulang terhadap SKKNI Penyuluh Perikanan untuk mengganti SKKNI Penyuluh Perikanan yang sudah ditetapkan sejak tahun 2010. Berbagai rangkaian kegiatan dalam rangka kaji ulang telah selesai dilakukan sampai tahap konvensi dan penetapan SKKNI oleh Kemenankertrans. SKKNI hasil konvensi sudah digunakan dalam sertifikasi profesi penyuluh perikanan pada bulan November 2014 yang lalu yang hasilnya saat ini masih dalam proses di BNSP.

Pemerintah telah menetapkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 403 Tahun 2014 Tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia Kategori Jasa Profesional, Imliah Dan Teknis Golongan Pokok Jasa Profesional, Ilmiah dan Teknis Lainnya Bidang Penyuluh Perikanan. Legislasi selengkapnya dapat diunduh (IH).

Sumber : www.pusluh.kkp.go.id

Unduh lampiran : skkni penyuluh perikanan

Larangan Penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan

Janji Menteri Kelautan dan Perikanan pada berbagai kesempatan menyampaikan keinginan yang kuat untuk menjaga kelestarian sumberdaya lobster, kepiting dan rajungan agar berkelanjutan dibuktikan dengan ditetapkannya legislasi yang mengatur hal dimaksud. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1/PERMEN-KP/2015 tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp.) dan Rajungan (Portunius pelagicus spp) telah ditetapkan Menteri Kelautan dan Perikanan pada tanggal 6 Januari 2015 yang lalu.

Hal yang menjadi pertimbangan ditetapkan legislasi tersebut yaitu keberadaan dan ketersediaan lobster, kepiting dan rajungan telah mengalami penurunan populasi, sehingga perlu dilakukan pembatasan penangkapan terhadap lobster, kepiting dan rajungan.

Secara umum legislasi ini menetapkan larangan setiap orang atau pun koorporasi untuk menangkap lobster, kepiting dan rajungan dalam kondisi bertelur. Penangkapan lobster, kepiting dan rajungan hanya dapat dilakukan dengan ukuran:

· Lobster dengan ukuran panjang karapas di atas 8 cm.

· Kepiting dengtan ukuran lebar karapas lebih dari 15 cm.

· Rajungan dengan ukuran lebar karapas lebih dari 10 cm.

Berkenaan dengan ditetapkan legislasi tersebut, mohon kerja sama penyuluh perikanan di seluruh Indonesia untuk turut bersama-sama menyampaikan atau mensosialisasikan legislasi ini kepada pelaku utama dan pelaku usaha di wilayah kerja masing-masing (IH).

Sumber : www.pusluh.kkp.go.

Peaturannya dapat diunduh disini :PermenKP No.1 Th. 2015