Kamis, 11 Maret 2021

Budidaya Ikan Patin - Pembenihan Ikan Patin Siam



PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus) memiliki beberapa karakteristik yang unggul, yakni antara lain memiliki kemampuan reproduksi lebih besar dibandingkan dengan ikan patin lokal, khususnya dalam hal fekunditas atau jumlah telur yang diproduksi. Selain itu, patin siam memiliki daya tahan (teloransi) yang baik terhadap kondisi perairan, namun ikan hasil hibrid yaitu ikan pasupati juga memiliki ke unggulan memiliki daging putih. Segmentasi usaha ikan patin secara umum terbagi menjadi 3 kegiatan yaitu usaha pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Keuntungan yang di peroleh dengan adanya segmentasi pembenihan yaitu waktu produksi (panen) lebih singkat sehingga perputarannya juga cepat. Banyak pilihan usaha dengan posisi tawar di pasaran yang cukup baik. Pilihan usaha bisa disesuaikan dengan modal dan ketersediaan lahan bagi petani patin (Mahyuddin, 2010).

Sejalan dengan meningkatnya permintaan ikan patin untuk konsumsi lokal maupun komoditas ekspor, maka keperluan akan induk meningkat. Penyedian benih patin siam yang unggul memerlukan induk patin siam yang unggul. Untuk mengantisipasi meningkatnya keperluan induk baik untuk pembudidaya maupun di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) maka perlu dilakukan produksi induk. Lamanya waktu untuk menghasilkan calon induk menyebapkan jarang pembudidaya untuk memproduksinya, sehingga BBPBAT berkewajiban menyediakannya. Oleh karena itu, upaya menghasilkan induk patin siam yang unggul memerlukan program pemuliaan yang benar, sistematis, konsisten dan berkelanjutan oleh pihak pemerintah maupun swasta (Jauhari dkk., 2012).

Biologi Ikan Patin

Klasifikasi dan Morfologi 
Menurut Saanin (1994) dalam Susanto (2009), klasifikasi ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub Ordo : Siluroidea
Famili : Pangasidae
Genus : Pangasius
Spesies : hypophthalmus

Menurut Kordi (2005), patin mempunyai bentuk tubuh memanjang, agak pipih dan tidak bersisik. Panjang tubuhnya dapat mencapai 120 cm, suatu ukuran yang cukup besar. Warna tubuh patin pada bagian punggung keabu-abuan atau kebiru-biruan dan bagian perut putih keperak-perakan. Kepala patin relatif kecil dengan mulut terletak diujung agak kebawah. Hal ini merupakan ciri golongan ikan catfish.

Pada sudut mulutnya terdapat dua pasang sungut (kumis) pendek yang berfungsi sebagai peraba. Sirip punggung mempunyai 1 jari-jari keras yang berubah menjadi patil yang besar dan bergerigi di belakangnya sedangkan jari-jari lunak dan sirip ini 6-7 buah. Pada permukaan punggung terdapat sirip lemak yang ukurannya sangat kecil. Sirip dubur agak panjang dan mempunyai 30-33 jari-jari lunak. Sedangkan sirip dada terdapat 1 jari-jari keras yang berubah menjadi patil dan 12-13 jari-jari lunak. Sirip ekor bercagak dan bentuknya simetris. Morfologi ikan patin dapat dilihat pada Gambar 1.


Sesuai dengan ketentuan SNI : 01-6483.1-2000 kelas induk pokok, untuk membedakan antara patin siam dengan jenis patin yang lain yaitu ikan patin siam dicirikan oleh sirip punggung yaitu D.I.4-7, sirip dada P.I.5-9, sirip perut V.3-8, anal A.30-33, serta mempunyai sirip lunak tambahan (adifose fin) antara sirip punggung dan sirip ekor, bercagak dengan tepinya agak putih.

Siklus Hidup
Menurut Susanto dan Amri (2002), Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) melewati enam fase kehidupan, yaitu telur, larva, benih, konsumsi, calon induk, dan induk. Patin Siam di datangkan ke Indonesia pada tahun 1972. Kehadiran ikan ini disambut baik oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat yang tinggal di Sumatra dan Kalimantan. Siklus hidup patin dapat dilihat pada Gambar 2.


Habitat & Penyebaran
Sebagai ikan catfish lainnya, ikan patin di alam bebas biasanya selalu bersembunyi didalam liang-liang ditepi sungai atau kali. Ikan ini baru keluar dari liang persembunyiannya pada malam hari setelah hari mulai gelap. Hal ini sesuai dengan sifat hidupnya yang noctural (aktif pada malam hari). Di habitat aslinya sungai- sungai besar yang tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia ikan ini lebih banyak menetap didasar perairan ketimbang di permukaan, sehingga digolongkan sebagai ikan dasar (demersal)) hal ini dapat dibuktikan dari bentuk mulutnya yang melebar, sebagaimana mulut ikan demersal lainnya (Khairuman dan Sudenda, 2009)

Pakan & Kebiasaan Makan
Patin adalah ikan omnivora (pemakan segala, hewan dan tumbuhan) dan cenderung menjadi carnivora (pemakan hewan). Di alam patin memakan ikan-ikan kecil, cacing, detritus, serangga, biji-bijian, potongan daun tumbuh-tumbuhan, rumput-rumputan, udang kecil dan moluska. Dalam pemeliharaannya patin dapat memakan pakan buatan (artifical foods) berupa pelet. Larva dan benih patin memakan plangkton (fitoplankton dan zooplankton). Larva patin yang baru memulai memangsa pakan dari luar setelah cadangan makanan berupa kuning telurnya habis, antara lain Barachionus calicyflorus, hexartra mira sedangkan benih yang berukuran lebih besar hingga menjelang menjadi ikan muda larva artemia dan sebagainya (Kordi, 2005).

PEMIJAHAN IKAN PATIN

Pemeliharaan Induk
Menurut Hamid dkk., (2009), induk yang ideal di pelihara dalam sangkar (keramba atau jaring apung) yang dipasang di danau, sungai atau perairan alami atau dipelihara dalam penampungan kolam secara khusus. Pematangan gonad dilakukan selama 3-4 bulan dengan kepadatan 3-5 ekor/m2 dengan berat Induk 1,5-2 kg.

Kualitas induk ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal . Faktor internal dilihat dari keturunanya atau genetiknya, sedangkan faktor eksternal yaitu dilihat dari perawatannya. Dua hal yang harus diperhatikan dalam memelihara induk yaitu kolam pemeliharaan dan pakan. Sumber air harus terjaga dari pencemaran lingkungan. Kolam memiliki saluran pemasukan dan pembuangan, debit air masuk minimal 0,5 liter per detik, kedalaman air antara 100-150 cm dan tersinari oleh matahari, kepadatan 0,25 kg/m2, kolam induk jantan dan betina dibuat terpisah (Jauhari dkk., 2012).

Selama pemeliharaan, induk ikan diberi makanan khusus yang banyak mengandung protein. Pada Balai besar pengembangan air tawar Jambi untuk mendapatkan induk yang matang telur, induk diberi pakan berupa gumpalan (pasta) dengan komposisi tepung ikan 35 %, dedak halus 30 %, menir beras 25 %, tepung kedelai 10 %, serta vitamin dan mineral 0,5 %. Pakan diberikan 5 hari dalam seminggu sebanyak 5 % setiap hari dengan pembagian pagi 2.5 % dan sore 2,5 % dan diberikan ikan runcah dua kali seminggu sebanyak 10 % dari berat badan induk ikan (Pamungkas dkk., 2007).

Seleksi Induk
Menurut Purnama dkk., (2011), induk betina yang akan di pijahkan yaitu yang memiliki ciri-ciri bagian perut besar dan oosite berwarna opaque, seragam dan tidak mengandung cairan. Sedangkan untuk induk jantan memiliki kualitas sperma yang baik diciri-cirikan apabila diurut pada bagian ujung anus, keluar cairan putih kental (tidak encer). Setelah didapatkan induk yang siap memijah, induk di bawa ketempat inkubasi induk, untuk selanjutnya dilakukan penyuntikan. 

Menurut Supriyadi dkk., (1997), kriteria induk yang matang gonad adalah sebagai berikut :
  1. Induk betina bagian perut terlihat membuncit dan lunak serta daerah sekitar lubang uregenetical berwarna kemerah-merahan. Contoh telur di ambil dengan kateter, kemudian diamati tingkat dengan pengamatan visual. Induk yang siap untuk dipijahkan telurnya berwarna kekuningan, dengan diameter 1,0 – 1,2 mm dan jika direndam larutan serta terlihat inti berada dipinggir.
  2. Induk jantan bagian perut terlihat biasa, bentuk alat kelamin menonjol. Bila dipijat bagian perut kearah lubang uregenetical akan mengeluarkan cairan sperma berwarna putih susu.
Menurut Jauhari dkk., (2012) keriteria seleksi induk didasarkan pada bentuk fisik, ukuran berat, umur, tingkat kesehatan dan kematangan gonad memiliki ciri-ciri : postur tubuh cenderung melebar, perut lembek, halus dan membesar kearah anus, urogenital membengkak dan membuka serta berwarna merah tua. Sedang postur tubuh induk jantan relative lebih langsing dan panjang, apabila bagian perut dekat lubang kelamin diurut akan mengeluarkan cairan putih kental/cairan sperma. Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel telur dari induk betina. Induk yang siap dipijahkan mempunyai diameter telur yang seragam, warna putih kekuningan dengan diameter telur 1 – 1,2 mm.

Pemijahan Secara Buatan
Pemijahan yang didahului dengan proses perangsangan hormon disebut pemijahan buatan atau kawin suntik (induce breeding) hingga saat ini, teknik perangsangan hormon masih dianggap paling muttakhir untuk pemijahan buatan patin. Dosis penyuntikan harus lah tepat. Caranya untuk induk betina dilakukan dua kali penyuntikan dengan hormon yang berbeda (Khairuman, 2008).

Penyuntikan pertama menggunakan HCG (Human Chronic Gonadotropin) untuk mempersiapkan gonad, meningkatkan kepekaan oosiet pada tahap kedua pemberian hormon. Penyuntikan ke dua menggunakan ovaprim berfungsi untuk merangsang hypopthalmus mengeluarkan GnRH dan menghambat kerja dopamin, selanjutnya GnRH mempengaruhi kelenjar hipopfisa mengeluarkan gonadontropin dan merangsang pertumbuhan sel telur (Mahyuddin, 2010).

Induk betina dirangsang untuk ovulasi dengan menggunakan hormon. Rangsangan ovulasi menggunakan ovaprim dengan dosis total 0,5 ml/kg bobot ikan. Penyuntikan induk dilakukan sebanyak 2 kali dengan dosis 1/3 dari dosis total untuk penyuntikan pertama dan 2/3 dosis total untuk penyuntikan kedua. Adapun interval waktu penyuntikan adalah 6 jam dari penyuntikan pertama ke penyuntikan kedua.

Penyuntikan dilakukan secara intramuscular (punggung atas kanan/kiri) dengan sudut penyuntikan 45o. Perbandingan antara induk betina dan jantan yang dipijahkan adalah 1:3 proses penyalinan (pengurutan) dilakukan setelah 6 jam dari penyuntikan kedua. Hal pertama yang dilakukan dalam proses striping adalah melakukan pengecekan apakah induk betina sudah ovulasi atau belum dengan cara mengurut perut induk ikan dari arah kepala ke lubang genital bila telur dapat keluar dengan pijatan yang lembut berarti induk sedah ovulasi dan siap di striping. Striping pada induk jantan dilakukan apabila sudah ada induk betina yang ovulasi (BBAT Jambi, 2011).

Menurut Purnama dkk., (2011), induk betina yang sudah ovulasi di striping dan telurnya ditampung dalam baskom plstik kering, kemudian induk jantan di striping untuk diambil spermanya dan ditampung dalam baskom yang berisi telur dari induk betina. Telur dan sperma diaduk secara perlahan sampai sperma dan telur tercampur merata. Untuk memudahkan proses pencampuran sperma dengan telur dapat ditambahkan larutan NaCl 0,8%. Tahap selanjutnya adalah melakukan pembuahan (inseminasi). Pembuahan dilakukan dengan cara memasukan wadah telur yang sudah dicampur dengan sperma.

Telur kemudian ditebar ke wadah penetasan untuk ditetaskan. Wadah penetasan patin dapat berupa akuarium, hapa didalam kolam, bak semen, fibrglass atau corong penetas yang dilengkapi aerator. Telur disebar merata didalam wadah dan dijaga agar jangan sampai bertumpuk karena dapat mengakibatkan telur menjadi busuk. Untuk itu, telur-telur tersebut disebarkan dengan menggunakan bulu ayam agar telur-telur tidak pecah. Di bak penetasan telur yang dibuahi akan berkembang sedikit demi sedikit hingga menetas menjadi larva telur akan menetas pada 18-24 jam setelah ovulasi pada suhu 29 – 30 oC, sedangkan pada suhu 26 – 28 oC, telur menetas setelah 28 jam. 10 – 12 jam setelah menetas, larva mulai bergerak naik turun (Kordi, 2005). Hal ini sependapat dengan Purnama dkk., (2011), yaitu telur mulai menetas setelah 18 jam dari pembuahan pada suhu 27 – 30 oC. Wadah penetasan dilengkapi aerasi dan pemanas (water heather). Larva setelah menetas dipelihara selama 3 minggu diakuarium.

Telur ikan patin menetas menjadi larva. Bentuk larva berbeda dengan induknya dan masih belum memiliki kelengkapan tubuh seperti induknya. Fase larva merupakan fase kritis dalam daur hidup ikan sehingga tingkat mortalitas (kematian) pada fase ini sangat tinggi. Banyak faktor yang menyebapkan tingkat mortalitas pada fase larva menjadi tinggi. Faktor penyebap tersebut dapat di golongkan dalam faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal tersebut antara lain meliputi penyakit, hama, kualitas air, cuaca dan pakan. Sementara faktor internal berasal dari proses perkembangan biologi larva sendiri .Pemeliharaan benih ikan patin sebaiknaya dilakukan dalam wadah terbatas seperti akuarium, bak fiberglas, kolam tanah, dan kolan semen. Benih yang dipelihara di akuarium biasanya sampai 15 hari setelah umur 17-18 hari benih dijarangkan di kolam pendederan selain itu juga dapat dipelihara dikolam (Susanto dan Amrie, 2002).

Setelah menetas menjadi larva, 10-12 jam kemudian mulai bergerak naik turun. Larva yang berumur 1 hari dapat dipindahkan ke wadah lain untuk pemeliharaan. Sebuah aquarium berukuran 80 cm x 45 cm x 45 cm dapat diisi larva sebanyak 500 ekor. Selama 2 hari larva memanfaatkan kuning telur (yolk sack) pada tumbuhannya. Bekal kuning telur tersebut mulai habis ketika memasuki hari ke-3, sehingga segera diberi suspensi makanan alami berupa kutu air (Moina), atremia, rotifera dan jentik-jentik nyamuk. Pada hari ke-5, larva sudah dapat diberikan pakan berupa tepung hati dan pada hari ke-10 larva sudah dapat diberikan tubifex atau daging ikan yang telah digiling. Jumlah pakan yang diberikan kepada larva adalah sampai kenyang (ad libitum) (Kordi, 2005).

Menurut Khairuman dan Sudenda (2009) larva yang mempunyai banyak cadangan makanan atau ukuran kuning telurnya lebih besar biasanya memiliki kelangsungan hidup yang lebih baik. Proses pernapasan pada larva yang baru menetas menggunakan alat bantu pernapasan (respirasi) secara difusi karena insang belum berfungsi. Penyerapan oksigen terlarut melalui permukaan tubuhnya. Untuk menjaga kualitas air, pergantian air sebanyak 60-70 %. Teknik pergantian air dilakukan dengan cara penyiponan. selama pemeliharaan, dilakukan pergantian air bersih 1-2 hari sekali atau tergantung pada kebutuhan. Pergantian air dilakukan secara hati-hati dengan cara menyifon atau sambil membuang kotoran yang berada didasar wadah pemeliharaan dengan menggunakan slang kecil. Penambahan air bersih dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit guna menghindari terjadinya stres pada benih yang dipelihara sampai posisi air mendekati ketinggian semula.

Makanan yang cocok untuk larva yang dipelihara di aquarium dapat berupa plankton yang diberikan dalam kondisi hidup, segar atau awetan. Pada awal penebaran larva diberi pakan berupa Rotifera, pakan diberikan sedikit demi sedikit setiap 0,5 jam –1 jam Pada hari ke empat pakan diberikan yang ukurannya lebih besar berupa Nauplii Artemia sp. atau Paramaecium. Untuk benih 1.000.000 dalam satu minggu diberikan pakan sebanyak 3-4 liter pakan alami dengan taksiran larva akan memakan 3-4 ekor pakan alami. Pakan tambahan dapat diberikan berupa cincangan cacing Tubifex, Moina sp, Daphnia sp. emulsi telur dan pellet yang kemudian disaring dengan saringan ukuran 100-200 mikron (Susanto, 2009).

Pemanenan Benih
Telur yang telah menetas, menjadi larva dan berkembang menjadi benih akan bergerak mengikuti aliran menuju ke bak penampungan yang telah dipasang hapa halus. Proses pemanenan dilakukan pada hari ke-15 dari penebaran dengan cara benih yang ber ada di hapa penampungan diseok dengan menggunakan serok dengan jaring halus secara hati-hati, kemudian benih yang didapat ditampung dalam wadah yang telah disiapkan (BBAT Jambi, 2011).

Pemanenan dilakukan setelah benih mencapai ukuran tertentu atau satu bulan pemeliharaan. Pemanenan dapat dilakukan pada pagi dan malam hari saat suhu masih rendah guna menghindari ikan patin terkena stres. Pemanenan dilakukan dengan mengurangi air didalam media pemeliharaan sebesar 80–90 %. Setelah air dikurangi, benih ditangkap dengan menggunakan serok, dan ditampung didalam baskom (Khairuman dan Sudenda, 2009).

Menurut Kordi (2005), yang menyatakan bahwa pemanenan benih dilakukan pada akhir masa pemeliharaan. Panen dilakukan secara total dengan menangkap semua benih dan mengeringkan baknya. Air dibuang sebanyak 90 % dari total volume bak. Benih ditangkap dengan menggunakan serok, kemudian ditampung sementara dalam ember atau wadah lain.




Sumber Referensi:
  1. ................, 2019, http://www.bppp-tegal.com/web/index.php/artikel/budidaya-perikanan/521-pembenihan-ikan-patin-siam-secara-buatan
  2. Djarijah, A. S. 2001. Budidaya Ikan Patin. Kanisius. Yogyakarta. Hal 23
  3. Hamid, M, A, Wahyu Budi Wibowo, Irwan, Yuniar Riris Purba, Reni Agustina Lubis dan Atomu Furusawa. 2007. Manual Pembenihan Patin Siam (Pangasius hypophtalmus), Balai Budidaya Air Tawar Jambi
  4. Kordi K, M. G. H. 2005. Budidaya Ikan Patin. Yayasan Pustaka Nusatama.Yogyakarta. Hal 26
  5. Siregar. A. D. 2001. Budidaya Ikan Patin. Kanasius. Jakarta


1 komentar:

  1. ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus