Rabu, 26 Mei 2021

Vaksinasi Ikan - Pencegahan Penyakit pada Ikan Gurame


Ikan gurame merupakan komoditas ikan budidaya yang memiliki nilai ekonomis yang potensial.Jenis ikan tersebut banyak sekali dibudidayakan oleh pembudidaya ikan. Namun dalam usaha pem- budidayaannya sering dihadapkan pada kendala wabah penyakit.Penyakit bakterial merupakan salah satu masalah serius yang selalu dihadapi oleh pembudidaya ikan, karena penyakit tersebut selain dapat mengakibatkan kematian sekitar 50%--100% juga dapat menurunkan mutu daging dari ikan yang terinfeksi berupa borok atau luka sehingga tidak disukai oleh konsumen (Supriyadi et al., 2003).

Penyakit bakterial yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila menurut Roberts et al., 1992 dalam Angka (2001), dinamakan EUS (Ephyzootic Ulcerative Syndrome), sedangkan beberapa peneliti lain (Olga & Aisiah, 2007) menamakannya Motile Aeromonas Septicaemia (MAS). Penyakit ikan yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila juga sering disebut dengan beberapa nama yaitu “Haemorragic Septicaemia” atau “Infectious Abdominal Dropsy” (Stickney, 1979 dalam Angka, 2001).

Bakteri Aeromonas hydrophila dikenal sebagai patogen oportunis yang dapat menyebabkan ikan mengalami aeromoniasis yang dicirikan oleh adanya luka pada bagian tubuh dan siripnya, pendarahan pada luar tubuh dan organ dalam, kadang-kadang disertai oleh mata menonjol, lendir ikan banyak diproduksi tapi kemudian berkurang sehingga ikan kalau diraba terasa kesat dan ikan sering berada pada bagian permukaan perairan (Austin et al., 1996 dalam Sulistianingsih et al., 2004). Tipe serangan penyakit ini meliputi per akut, yaitu tidak menunjukkan gejala apa-apa, tetapi langsung mati, sedangkan yang akut menimbulkan pendarahan di insang, anus, dan organ dalam, serta kadang-kadang juga didapatkan adanya cairan dan darah dirongga perut. Sedangkan pada serangan yang kronis ditunjukkan adanya pembengkakan yang kemudian berkembang menjadi tukak. Masa inkubasi penyakit ini antara 10--14 hari.

Pencegahan dan pengendalian ikan harus dilakukan sedini mungkin, agar tidak terjadi kerugian ekonomi yang terlalu besar. Hingga kini, metode yang banyak digunakan untuk menanggulangi penyakit pada ikan budidaya adalah pengobatan dengan zat kimia atau antibiotik. Cara ini sangat berisiko karena dapat menimbulkan resistensi terhadap bakteri, memerlukan biaya yang cukup mahal, serta dapat mencemari lingkungan (Mariyono & Sundana,

2002). Selain itu, dapat menimbulkan residu pada tubuh ikan yang kalau dikonsumsi dapat membahayakan kesehatan konsumen.

Usaha pengendalian penyakit yang efisien adalah dengan cara pencegahan. Salah satu cara yang saat ini sudah mulai banyak dilakukan adalah melalui peningkatan kekebalan tubuh yaitu antara lain dengan vaksinasi (Setyowati et al., 2004). Vaksinasi dapat dilakukan pada berbagai ukuran ikan dari benih sampai induk (Trianto et al., 1997 dalam Mulia, 2007). Cara tersebut sangat efektif dan efisien untuk mencegah penyakit MAS (Pasaribu et al., 1990; Kamiso et al., 1997 dalam Mulia, 2007). Namun demikian keberhasilan program vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh keampuhan dari vaksin yang digunakan, tetapi juga sangat ditentukan oleh cara dan saat/waktu vaksin itu diberikan.

Aplikasi vaksin hydrovac untuk pencegahan penyakit bakterial pada gurami. 

Ikan yang digunakan adalah ikan mas (Cyprinus carpio) dan ikan gurami (Osphronemus gouramy L.) yang berasal dari Balai Benih Ikan (BBI) Pandak Kabupaten Banyumas. Jumlahnya mas uji adalah 39 ekor dengan bobot rata-rata ikan mas 1 kg dan panjang rata-rata 30 cm. Sedang ikan gurami 108 ekor dengan bobot rata-rata ikan gurami 250 g dan panjang rata-rata 10 cm.

Vaksin yang digunakan adalah “vaksin hydrovec” yang diproduksi oleh Laboratorium Patologi Ikan. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. Vaksin diaplikasikan pada ikan mas (Cyprinus carpio) dan gurami (Osphronemus gouramy Lac.) dengan cara oral (pemberian vaksin yang dicampur pelet dengan dosis 2--3 mL per kilogram bobot badan ikan yang divaksin selama 5--7 hari berturut-turut dan setelah satu bulan kemudian dilakukan vaksinasi ulangan (booster) terhadap ikan yang telah divaksin dengan cara yang sama. Pengamatan dilakukan terhadap gejala penyakit yang timbul serta kematian ikan uji, dengan interval pengamatan setiap seminggu sekali. Pengamatan juga dilakukan terhadap kualitas air selama uji aplikasi.

Kualitas air selama penelitian masih layak untuk kehidupan ikan mas dan gurami. Suhu air saat penelitian berkisar antara 24°C--30°C dan merupakan suhu yang optimum bagi kehidupan ikan mas dan gurami. pH air dalam penelitian berkisar antara 7--8 juga merupakan pH yang optimal bagi kehidupan ikan mas dan gurami.

Efektivitas vaksin hydrovac pada ikan mas dan gurami dapat dilihat dari respons tubuh dalam memproduksi antibodi. Pada minggu ke-5 terhadap ikan gurami kontrol (tanpa vaksin) mengalami kematian sebanyak 2 ekor dengan gejala penyakit pada sirip ekor, sirip punggung gripis dan pada tubuh ikan terdapat bercak merah. Sedangkan pada minggu ke-6 pada ikan mas kontrol (tanpa vaksin) mengalami morbiditas (tingkat kesakitan) sebanyak 2 ekor terdapat koreng pada tubuh ikan. Pada minggu ke-11 terdapat kematian 1 (satu) ekor pada ikan yang divaksin. Pada minggu ke-12 gurami kontrol mati 1 (satu) ekor walaupun kualitas air masih optimal. Pada minggu ke-13 gurami yang divaksin mati 1 (satu) ekor dan gurami kontrol (tanpa vaksin) 1 (satu) mati. Pada minggu ke-14 baik gurami maupun ikan mas semua dalam keadaan sehat dan memperlihatkan cukup aktif.

Ikan mas dan gurami yang tidak divaksin menunjukkan mortalitas tinggi apabila dibandingkan dengan ikan mas dan gurami yang divaksin. Sakai et al., 1995 dalam Indrawati (2006), menerangkan bahwa ikan yang divaksin menunjukkan mortalitas rendah. Hal ini menunjukkan bahwa vaksin berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh spesifik (specific immunity) yang ditunjukkan dengan adanya antibodi (immoglobin spesifik) pada ikan yang divaksin.

Hasil penelitian Konzinska, 2000 dalam Mulia, 2007; menunjukkan bahwa vaksinasi dengan vaksin anti Aeromonas hydrophila dapat meningkatkan jumlah sel leukosit, limfosit, neutrofil, dan kemampuan fagositosis ikan karper dan beberapa peneliti juga melaporkan bahwa vaksinasi Aeromonas hydrophila dapat meningkatkan titer antibodi (Mulia, 2007).

Efektivitas” vaksin Hydrovet” telah terbukti memiliki potensi untuk menginduksi respons kebal spesifik pada ikan mas maupun ikan gurami. Proses induksi kekebalan mulai dapat terdeteksi setelah 2--3 minggu dari saat pemberian vaksin terlihat pada pemberian vaksin pada minggu ke-14 ikan yang divaksin memperlihatkan aktivitas yang aktif dan sehat, begitu pula pada ikan gurami pada minggu ke-15 memperlihatkan aktivitas yang sehat sampai dengan 10 bulan ini dari pemberian vaksin hydrovec.

Aplikasi Vaksin MycofortyVac untuk Pencegahan Penyakit Mycobacteriosis pada Ikan Gurame

Pengembangan vaksin Mycobacterium fortuitum untuk pencegahan penyakit mycobacteriosis pada ikan gurami di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPPBAT) telah dimulai sejak tahun 2009. Saat ini telah diperoleh isolat kandidat, teknologi produksi skala laboratorium, serta potensi dari vaksin tersebut untuk pencegahan penyakit pada ikan air tawar. Dalam rangka pemanfaatan jenis vaksin tersebut di masyarakat, beberapa informasi teknis yang terkait dengan standarisasi vaksin tersebut harus diketahui dengan jelas sehingga dapat diterima secara ilmiah, hukum dan memenuhi standar produk vaksin.

Pembuatan Vaksin
Preparasi sediaan vaksin menggunakan isolat kode 31 hasil penelitian sebelumnya. Sebanyak 0,2 ml bakteri M. fortuitum dikultur ke dalam 1 petri media Sauton agar dengan inkubasi selama 72 jam pada suhu 37°C. Sebanyak 3 petri kultur M. fortuitum disuspensikan ke dalam 10 ml PBS steril pH 7,4. Inaktifasi dilakukan dengan sonikasi sebanyak 3 kali dengan waktu 4 menit dan interval 1 menit dan dilanjutkan dengan menggunakan neutral buffer formalin 3% selama 24 jam. Proses yang demikian menghasilkan sediaan vaksin sel utuh (whole cell). Isolat 31 merupakan hasil penapisan (screening) bertingkat dari koleksi isolat bakteri sejenis yang didasarkan pada 3 (tiga) kriteria, yaitu (1). Nilai patogenisitas tertinggi yang ditentukan dari nilai LD50 terhadap inang rentan, (2). Memiliki potensi imunogenik yang baik (protektif dan berlangsung lama) berdasarkan hasil pengukuran kadar titer antibodi spesifik dan uji tantang, serta (3). Mampu bereaksi silang terhadap beberapa bakteri sejenis yang berasal dari lokasi dan inang yang berbeda.

Sebelum digunakan pada setiap kali proses pembuatan vaksin, seed bakteri terlebih dahulu dilakukan uji Koch’s Postulate, yaitu dengan cara menginfeksikan secara buatan terhadap ikan model; selanjutnya dilakukan isolasi, purifikasi dan karakterisasi ulang. Uji Koch’s Postulate dilakukan sebanyak dua kali. Seed bakteri yang telah melewati proses uji Koch’s Postulate, selanjutnya siap untuk digunakan sebagai working seed bakteri dalam proses pembuatan vaksin, yang diberi nama MycofortyVac (Gambar 1).

Gambar 1 : Proses Pembuatan vaksin

Aplikasi Teknis
MycofortyVac dapat diberikan melalui 3 (tiga) cara, yaitu perendaman, pencampuran dengan pakan dan suntik.

(1) Perendaman dalam larutan vaksin selama 15–30 menit. Teknik ini sangat ideal untuk ikan ukuran benih. Perendaman dapat dilakukan dalam bak beton/fiber glass/ akuarium atau ember plastik. Dosis yang digunakan adalah 100 ml vaksin untuk 1.000 liter air atau 1 ml vaksin untuk setiap 10 liter air. Air bekas rendaman pertama, masih dapat digunakan sekali lagi untuk tujuan yang sama, asalkan digunakan dengan segera (tidak lebih dari 2 jam).

(2) Melalui pakan ikan (pellet). Teknik ini cocok untuk ikan yang sudah dipelihara di kolam/jaring atau sebagai vaksinasi ulang (booster). Vaksin diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Larutan vaksin tersebut disemprotkan ke pakan secara merata, pakan kemudian dikering-anginkan dan selanjutnya segera diberikan kepada ikan. Dosis yang diberikan adalah 2-3 ml/kg bobot tubuh ikan. Pemberian vaksin dilakukan selama 5-7 hari berturut-turut.

(3) Melalui penyuntikan. Teknik ini terutama untuk ikan yang berukuran lebih dari 5 gram/ekor atau calon induk. Dosis vaksin yang diberikan adalah 0,1 ml/ekor. Penyuntikan dapat dilakukan melalui rongga perut (intra peritoneal) atau dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik 30 derajat.

Referensi:
  1. Angka, S.L. 2001. Studi Karakterissasi dan Patogen Aeromonas hydrophila pada Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus). Makalah Falsafah Sains. Program Pasca Sarjana (S3) Institut Pertanian Bogor. hlm. 1—10.
  2. Indrawati. 2006. Potensi Immunologik dan Histopatologik Probiotik S trai n A 3- 51 . Terhadap Ikan Nila Gi ft (Oreochromis sp.). Tesis Program Pasca Sarjana Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. 98 hlm.
  3. Mariyono & Sundana, A. 2002. Teknik Pencegahan dan Pengobatan Penyakit Bercak Merah pada Ikan Air Tawar yang disebabkan oleh Bakteri Aeromonas hydrophila. Buletin teknik Pertanian. 7(1): 1—40.
  4. Mulia, D.S. 2007. Penggunaan Vaksin Debris Sel Aeromonas hydrophila Interval Waktu Booster Berbeda terhadap Re spons Imun Lele Dumbo (Clarias gariepi nus Burchell). Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Sains Akuatik. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. hlm 86—95.
  5. Olg a & Ai si a h, S . 2007. Va ksi n Prote i n p roduk E ks tr a s e lule r Ae r omona s hy d r op hi la U ntuk Meningkatkan tangg ap Kebal Patin (Pangasius hypophthalamus) Terhadap Motile Aeromonas Septicemia (MAS)., Sains Akuatik. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan. hlm 105—110.
  6. Setyowati, E.A., Dana, D., & Pasaribu, F.H. 2004. Potensi Spirulina platensis Sebagai Imunostimulan Pada Ikan G ur a mi ( Osphrone mus gouramy L ac) . Prosi ding Pengendalian Penyakit Ikan dan Udang Berbasis imunisasi dan Biosecurity. Seminar Nasional Penyakit Ikan dan Udang IV. Purwokerto. hlm 157—167.
  7. Sulistyaningsih, A., Sukanto, & Simanjuntak, B.I.S. 2004. Patogenitas Aeromonas pada kultur ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac) yang diberi bakteri asam laktat TE2 dengan kepadatan berbeda. Prosiding Pengendalian Penyakit Ikan dan Udang Berbasis imunisasi dan Biosecurity. Seminar Nasional Penyakit Ikan dan Udang IV. Purwokerto. hlm 161—167.
  8. Supriyadi, H., Taufik, P., & Taukhid. 2003. Karakterisasi patogen, inang spesifik dan sebaran mycobacterio- sis. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 9(2).
  9. Indrawati dan Hambali Supriyadi, 2014, Uji Aplikasi Vaksin Hydrovac untuk Pencegahab Penyakit Merah pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) dan Gurame (Osphronemus gouramy) di Balai Benih Ikan Pandak Kabupaten Banyumas. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas
  10. Sumber: Buku Rekomendasi Teknologi KP Tahun 2014, Badan Penelitian dan Pengembangan KP, Kementerian Kelautan dan Perikanan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar