Rabu, 26 Mei 2021

Vaksinasi Ikan - Penyakit Bakterial


Vaksin Patin Pertama di Indonesia Kini telah hadir vaksin patin untuk penyakit ESC, protektif, aplikasi mudah, dan harga terjangkau. Penyakit mematikan pada semua umur patin ini ditandai perut membesar dan anus memerah bahkan berdarah Budidaya ikan patin di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa merupakan salah satu usaha budidaya ikan air tawar yang berprospek cerah.
“Keunggulan budidaya patin antara lain mudahnya dibesarkan dan memiliki toleransi yang tinggi terhadap berbagai penyakit,” dituturkan Edy Barkat Kholidin Perekayasa Muda dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi. Namun, dikatakan Edy, budidaya patin bukannya tanpa ancaman penyakit. Terbukti ditemukan pertama kali kasus kematian massal pada usaha pembesaran dan pendederan ikan patin di Desa Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Jambi yang disebabkan bakteri Edwardsiella Ictaluri. “Bakteri yang menyebabkan penyakit Enteric Septicemia (ESC) itu menjadi problem baru dalam budidaya ikan patin,“ cetusnya.

Penyakit ESC Diterangkan Edi, infeksi bakteri Edwardsiella ictaluri sangat patogen pada ikan patin.“Infeksi E. ictaluri biasanya terjadi pada ukuran kecil (0.2 gram) sampai dengan ukuran konsumsi (300 gram) selama periode musim hujan dari Maret hingga Mei,” jelasnya. Dijabarkan Edi, gejala klinis infeksi bakteri E. Ictaluri pada budidaya ikan patin seperti abdomen membesar dan pendarahan atau kemerahan pada sekitar anus, terdapat bintik putih pada organ dalam misalnya limpa. Lalu, lemah, hilang nafsu makan, warna insang pucat, terkadang mata menonjol dan/atau perut bengkak (dropsy) “Kerugian yang besar bagi para pembudidaya dengan mengakibatkan kematian mencapai 80 – 100%,” sebutnya.


Bintik putih pada organ dalam


Abdomen membesar

Lanjutnya, penyakit ini menyerang ikan pada berbagai ukuran. Paling merugikan pembudidaya patin adalah jika penyakit ini menyerang pada ukuran menjelang panen.“Vaksin E. Ictaluripada budidaya ikan patin sebagai salah satu cara pengendalian penyakit ESC,” sebutnya.Vaksinasi ikan patin dengan bakteri E. Ictaluri dilakukan dengan metode perendaman dan penyuntikan. “Serta melalui pemberian pakan bervaksin,” ujarnya. Aplikasi vaksin Dijelaskan Edi, vaksinasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan ketahanan tubuh yang bersifat spesifik melalui pemberian vaksin (imunisasi aktif dan pasif).

Aplikasi vaksin untuk pencegahan ESC ini merupakan yang pertama di Indonesia. “Pernah dikembangkan di Amerika Serikat, akan tetapi beda isolat. Vaksin patin yang dikembangkan di AS menggunakan isolat yang sudah dimodifikasi atau dimutasi gen,” sebutnya. Untuk proses pembuatan inaktif vaksin, dituturkan Edi melalui 2 tahap, yaitu reaktivasi bakteri dan kultur bakteri (lihat gambar).

Terkait respon pembudidaya terhadap vaksin ini, Ia sebutkan pembudidaya patin sangat menunggu kehadiran vaksin ini. “Sekarang sudah mulai diproduksi massal oleh salahsatu perusahaan obat swasta asal Indonesia,” sebutnya. Untuk harganya disebutkan Edi, sangat terjangkau bagi para pembudidaya ikan Patin. Satu botol 60ml digunakan untuk perendaman 15.000 benih. “Pembudidaya akan jauh lebih besar mendapatkan keuntungan dengan penerapan vaksin ini,” ujarnya.

Referensi:

  1. Mulia. 2006. Keefektifan Vaksin Aero- monas hydrophilla untuk Mengen- dalikan Penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) pada Gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal Pembangunan Pedesaan. 7 (1):43-52.
  2. Nugroho, E., J. Subagja, dan Sulhi. 2010. Optimasi Budidaya Ikan Gurame. Penelitian. Balai Riset Perikanan Budidaya  Air  Tawar.  Bogor.  34 hal.
  3. Setiawan, R B., Dulm’ia, I., dan Rosidah. 2012. Efektivitas Vaksin dari Bak- teri Mycobacterium fortuitum yang Diinaktivasi dengan Pemanasan Untuk Pencegahan Penyakit Mycobacteriosis pada Ikan Gurami (Osphronemus gouramy). Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Padjajaran. Bandung. 16 hal.
  4. http://www.trobos.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar