Akuakultur tumbuh paling cepat dalam memproduksi bahan pangan bagi masyarakat dunia. Penyakit merupakan hambatan karena:
- menyebabkan kematian ikan budidaya
- penurunan produksi
- kerugian ekonomi pagi pembudidaya.
Kemoterapi (obat dan antibiotika) salah satu upaya pengendalian penyakit parasitik dan bakterial, tetapi Antibiotika menimbulkan masalah-masalah antara lain:
- resistensi bakteri
- residu antibiotika di ikan à keamanan pangan
- residu antibiotika di perairan à kerusakan lingkungan
Tujuan Vaksinasi yaitu antara lain:
- Sebagai upaya Pencegahan terhadap serangan penyakit (patogen) tertentu
- Menumbuhkan kekebalan spesifik: pembentukan antibodi yang tinggi dan tahan lama
- Menghasilkan memori kekebalan
- Meningkatkan SR hingga 30 %
- mempertahankan tubuh terhadap
- serangan agensia penyakit (penempelan,
- infeksi, target organ, berkembang, menyebar
Bentuk pertahanan sistem immune yaitu SELULER, HUMORAL yang terdiri:
- Yang selalu ada (bawaan, alami)
- Yang timbul setelah ada serangan (adaptive immunity)
- Immune memory yang diproduksi setelah ada serangan.
1. Sistem Kekebalan Non Spesifik
Pertahanan terhadap berbagai patogen, selalu ada pada tubuh ikan.
a. Pertahanan Pertama
Fisik : Lendir, sisik dan kulit
Kimia : pH, enzim proteolitik, lisosim, neutrofil, respon inflamatori.
b. Pertahanan Kedua (seluler)
Darah, banyak faktor kekebalan dalam serum dan butir darah a.l. enzim, komplemen, makrofag, PMN termasuk neutro/baso/eusinophils, interferon > inflamatori, kapsulasi.
2. Sistem Kekebalan SPESIFIK
Peran Ab, dibuat oleh limfosit (sel beta & TH) karena ada benda asing (Ag, patogen, VAKSIN).
Umur ikan sangat berpengaruh thd kelengkapan organ dan daya tahan.
Apakah Respons Imun Bisa Ditingkatkan?Jawabannya Bisa, baik spesifik maupun non-spesifik
Respon Non-Spesifik: dapat menggunakan komponen tertentu dari organisme lain seperti dinding sel bakteri, inaktif LPS, glukan, dan sebagainya untuk meningkatkan jumlah sel fagositik dan aktifitasnya dalam darah ikan Upaya tersebut dikenal dengan istilah imunostimulasi. Efek imunostimulasi dapat berupa peningkatan produksi sel fagositik, atau meningkatkan sensitas dan aktifitas fagositosis LPS (lipopolisakarida) merupakan imunostimulan yang dapat menstimulasi sel B
Levamisol dan Glukan merupakan imunostimulan yang dapat menstimulasi sel T
Respons Spesifik:
melalui vaksinasi yaitu memasukkan patogen yang dilemahkan/dimatikan, sub-unit patogen maupun DNA patogen ke dalam tubuh ikan sehingga dapat memicu bekerjanya mekanisme kekebalan spesifik (humoral/seluler).
Prinsip dasar vaksinasi adalah mengenalkan patogen tertentu pada sistem imunitas untuk diingat dan disimpan oleh sel memori tanpa harus berhadapan dengan resiko infeksi.
Jenis-jenis vaksin yaitu antara lain:
Killed vaccine (vaksin in-aktif):
Patogen yang dimatikan, Paling banyak dipakai: bakteri utuh yang diinaktivasi dengan formalin atau pemanasan. Efektif menginduksi respon humoral (antibodi), tetapi kurang efektif merangsang kekebalan selular dan mukosal. Vaksin Vibriosis di Eropa tahun 1970-an Aeromonas hydrophila (formalin 0,03%)
Live-vaccine (vaksin hidup):
Patogen dilemahkan (live-attenuated), Seperti infeksi oleh patogen tapi tidak menimbulkan penyakit.
Terpapar antigen dalam waktu yang lama sehingga efektif dalam merangsang kekebalan selular. Kemungkinan patogen menjadi ganas kembali à sulit mendapatkan ijin.
Rekayasa genetik:
gen virulensi dihilangkan sehingga patogen tidak ganas cth: KV-3 (Kovac, Israel)
Vaksin sub-unit (vaksin rekombinan):
Vaksin dari bagian/komponen mikroorganisme misalnya kapsul polisakarida, exotoksin, atau Protein rekombinan hasil rekayasa genetik:
- Kloning gen imunogenik ke dalam bakteri
- Bakteri sebagai ‘pabrik’ produksi protein imunogenik.
- Cocok untuk membuat vaksin dari patogen yang sulit dikultur masal seperti virus, Piscirickettsia dan Renibacterium salmoninarum (Vaksin gen VP2 untuk IPN pada ikan salmon) Kecil resiko patogen menjadi ganas.
Tabel 1. Macam Penyakit Ikan, Komoditas Ikan yang banyak diserang dan jenis vaksin yang digunakan
No. | Penyakit/Patogen | Komoditas | Vaksin |
1 | Streptococcosis/ Sterptococcus iniae | Ikan Laut (Kakap Putih , Bawal Bintang) | Norvax Strep Si |
2. | Streptococcosis/ Sterptococcus agalactiae | Ikan Air Tawar (Nila) | Aquavac Strep Sa Dan StreptoVac |
3 | Koi Herpes / Koi Herpesvirus | Ikan Koi dan Mas | KV3 |
4 | Motil Aeromonas Septicemia (MAS)/ Aeromonas hydrophilla | Ikan Air Tawar (Lele, Mas, Gurame, Patin, Nila) | Caprivac Aero – L dan HydroVac |
5 | Vibriosis pada ikan/ Vibrio sp | Kerapu | Caprivac Vibrio L |
6 | Grouper Sleepy Disease | Kerapu | Aquavac®Irido-V |
7 | Enteric Septicemia of Catfish | Patin | Caprivac ICTA |
Tabel 2. Merk dan Jenis Vaksin yang Terdaftar di Indonesia
No. | Nama Vaksin | Penggunaan | No. Registrasi |
1. | Norvax Strep Si | Pencegahan bakteri Streptococcus iniae | DKP RI. No. I 060641 VKC |
2. | Aquavac Garvetil | Pencegahan bakteri Streptococcus iniae | DKP RI. No. I 0703071 VKC |
3. | Aquavac Garvetil Oral | Pencegahan bakteri Streptococcus iniae | DKP RI. No. I 0703070 VKC |
4. | KV3 | Pencegahan Koi Herpes Virus | KKP RI. No. I 1101152 VKC |
5. | Himmvac Agilban S – Plus | Pencegahan bakteri Streptococcus iniae | KKP RI. No. I 1105165 VKC |
6. | Aquavac Strep Sa | Pencegahan bakteri Streptococcus agalactiae | KKP RI. No. I 1101166 VKC |
7. | Caprivac Aero – L | Pencegahan bakteri Aeromonas hydrophila | KKP RI. No. D 1206201 BKC |
8. | Caprivac Vibrio – L | Pencegahan bakteri Vibrio sp | KKP RI. No. D 1206202 BKC |
9. | HydroVac | Pencegahan bakteri Aeromonas hydrophila | KKP RI. No. D 1206203 BKC |
10. | Caprivac Vibrio | Pencegahan bakteri Vibrio sp | KKP RI. No. D 1207206 BKC |
11. | Caprivac Aero | Pencegahan bakteri Aeromonas hydrophila | KKP RI. No. D 1208207 BKC |
12. | Aquavac ® Irrido V | Pencegahan Irrido Virus | KKP RI. No. I 1211221 BKC |
13. | Caprivac ICTA | Pencegahan bakteri Edwardsiella ictaluri | KKP RI. No. D 1211222 BKC |
14. | Streptovac | Pencegahan bakteri Streptococcus agalactiae | KKP RI. No. D 1305224 BKC |
Prinsip Dasar Vaksinasi:
1. Ikan sehat:
- cek gejala klinis dan tingkah laku (visual)
- cek parasit, bakteri, jamur (laboratorium)
2. Tepat aplikasi:
- oral, rendam, suntik
- jenis ikan~jenis vaksin
- umur ikan
3. Tepat dosis.
4. Tepat sarana: air dan wadah yang “bersih”
5. Keamanan pasca vaksinasi: sterilisasi (vaksin yang dilemahkan + dimatikan)
Persyaratan Vaksin
1. Aman pada lingkungan, ikan & konsumen atau Terdaftar
2. Vaksin masih efektif atau Belum kadaluarsa
3. Level proteksi tinggi
4. Aplikasi mudah
5. Ekonomis
6. Halal
Bahan dan Peralatan
1. Air yang digunakan saat dan sesudah vaksinasi harus bebas dari penyakit ikan dan diaerasi
2. Injektor dan Jarum Suntik harus selalu dalam kondis steril sebelum atau sesudah digunakan
3. Ukuran Jarum Suntik
4. Gunakan volume injektor yang sesuai
Penyimpanan dan Pengangkutan
Simpan dan angkut vaksin sesuai dengan petunjuk pada setiap jenis vaksin (suhu, kemasan, dll)
Penanganan Limbah Vaksin
Penanganan Botol/ampul bekas vaksin dan air bekas perendaman sesuai dengan pedoman pada setiap jenis vaksin
Pasca Vaksinasi
Selama masa induksi dan pemulihan, pelihara ikan dalam kondisi kualitas air yang optimal selama 1 – 2 minggu setelah vaksinasi
Hindari stress pada ikan, stress dan menurunkan efikasi vaksin sehingga dapat menurunkan level dan durasi proteksi.Vaksinator
1. Memiliki Standar Kompetensi Kerja Khusus
2. Level Supervisor dan Fasilitator
3. Bersertifikat
Metode Vaksinasi
1. Perendaman
2. Melalui Pakan
3. Penyuntikan
Perendaman
1. Ideal untuk benih ikan dalam jumlah banyak
2. Tingkat stress ikan sedang
3. Perendaman selama 15 – 30 menit
4 Dosis vaksin 100 ml vaksin untuk 1.000 liter air
5 Sebaiknya dilengkapi aerasi, dan kepadatan ikan tidak terlalu tinggi (antara 100 – 200 gram/L air).
Tahapan-tahapan vaksinasi dengan perendaman adalah:
- Siapkan alat dan bahan: ember/jolang/bak; instalasi aerasi; serok; termometer; vaksin; air bersih; benih ikan.
- Isi air ke dalam ember sebanyak 10 liter. Pasang aerasi. Cek suhu dengan termometer. Suhu optimal untuk vaksinasi adalah >25 0C.
- Ambil vaksin. Kocok beberapa saat lalu tuangkan ke dalam ember sebanyak 30 ml. Aduk hingga merata.
- Masukkan benih ikan ukuran 2-3 cm ke dalam ember (maks.3.750 ekor).
- Rendam selama 15-30 menit. Amati kondisi ikan. Jika ada ikan yang bermasalah, sebaiknya dipisahkan lalu dimusnahkan (dibakar/dikubur).
- Setelah perendaman, pindahkan ikan ke wadah penampungan/inkubasi yang bersuhu >25 0C minimal selama 1 minggu.
- Sterilisasi Air larutan vaksin yang telah digunakan sebelum dibuang.
- Sterilisasi dengan pemberian kaporit/deterjen sebanyak 2 gram/100 liter larutan sisa vaksinasi.
- Perendaman selama 24 jam.
Penyuntikan
1. Terutama untuk ikan-ikan yang berukuran relatif besar dan berharga
2. Keuntungan vaksinasi melalui penyuntikan adalah 100% masuk ke dalam tubuh ikan.
3. Tingkat stress ikan tinggi
4. Dosis vaksin adalah 0,2 ml/kg bobot tubuh ikan (Hydrovac), 0,1 ml per dosis (Norvax Strep Si, Caprivac Vibrio L dan Caprivac Vibrio) dan 0.05 ml per dosis (Aquavac Strep Sa)
Tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut:
- Siapkan alat dan bahan: ember/jolang/bak; instalasi aerasi; serok; Syringe/spuit; timbangan; vaksin; alkohol 70%; larutan iodine; ikan.
- Ambil vaksin lalu kocok beberapa saat. Siapkan vaksin dalam spuit. Jangan ada gelembung udara pada tabung syringe/spuit. Kondisikan larutan vaksin sesuai suhu tubuh ikan.
- Lakukan sterilisasi bagi vaksinator (dengan alkohol 70%).
- Timbang bobot ikan. Jika bobot ikan bervariasi, kelompokkan ikan dengan bobot yang relatif sama. Misal: 1 kg; 1,5 kg; 2 kg; dst.
- Jika diperlukan, untuk mengurangi tingkat stress, dapat dilakukan pembiusan dengan minyak cengkeh (dosis 0,2 ml/5 liter air).
- Ambil ikan, lalu suntikan vaksin sesuai dosis (0,1-0,2 ml/kg ikan).
- Penyuntikan dapat secara Intra Peritoneal atau Intra Muscular, dengan sudut kemiringan jarum suntik 300.
- Oleskan larutan iodine pada bekas titik penyuntikan.
- Setelah penyuntikan, pindahkan ikan ke wadah penampungan/ inkubasi yang bersuhu >25 0C minimal selama 1 minggu.
- Penyuntikan induk ikan yang akan dipijahkan, minimal 1 minggu sebelum dipijahkan.
- Bila melakukan pembiusan, aerasi pada wadah penampungan harus dibesarkan.
Tabel 3. Macam-Macam Vaksin dengan Perlakuan Inject, Rendam dan Oral
Vaksin | Inject | Dipping (Rendam) | Oral |
Hydrovac | 0,1-0,2ml/kg ikan | 1 ml/10 lt air selama 15-30 menit untuk 1.000 ekor (2-3 cm) | 2-3 ml/kg pakan ikan selama 5-7 hr |
Streptovac | 0,1-0,2ml/kg ikan | 1 ml/10 lt air selama 15-30 menit Untuk 1.000 ekor (2-3 cm) | 2-3 ml/kg pakan ikan selama 5-7 hr |
Caprivac Aero-L | 0,2-0,4ml/kg ikan | 30 ml/10 lt air selama 15-30 Untuk 7.500 ekor (2-3 cm) | X |
Strepsa | Single Dosage 0,05 ml/ekor | X | X |
KV3 | X | 100 ml/m3 air selama 45 menit untuk 250 kg ikan (3 bln) | X |
KHV (dna Plasmid) | Uk. 20-100 g: 0,1 ml/ekor Uk. >200g: 0,3 ml/ekor | X | X |
KHV (dna serbuk) | X | 5 g/100 lt air selama 30 menit untuk 10.000 ek (5-8 cm) | X |
Pakan
- Sesuai untuk ikan-ikan yang sudah dipelihara dalam kolam/karamba ataupun sebagai booster
- Tingkat stress ikan rendah
- Dosis vaksin 2-3 ml/kg pakan ikan
- Vaksinasi diberikan selama 5 – 7 hari
- Alifuddin, M. 1999. Peran Imunostimulan (Lipopolisakarida, Saccharomyces cere-visiae and Levamisol) terhadap Peningkatan Respons Imunitas Ikan Jambal Siam (Pangasius hypopthalmus). Tesis. Program Studi Ilmu Perairan. Program Pascasarjana IPB, Bogor. 50 hal.
- Alifuddin, M., Waryat, A. Putra, D. Setyani & Soewidah. 2001a. Uji Adaptasi Usaha Penanggulangan Penyakit pada Budidaya Ikan Hias di DKI Jakarta.. Laporan Akhir Penelitian Kerjasama LP-IPB dengan BPTP/PAATP Wilayah DKI Jakarta. 26 hal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar