Rabu, 26 Mei 2021

Vaksinasi Ikan - Pencegahan Penyakit pada Ikan Lele

Lele adalah salah satu jenis ikan yang banyak di konsumsi. Oleh karena itu semakin hari kian bertambah pembudidaya lele. Pasalnya ikan lele memang sangat laris di pasaran, sehingga banyak yang melirik bisnis ini. Mungkin anda salah satunya yang menginginkan penghasilan baik. Bisnis lele inilah jawaban yang tepat bagi anda yang mencari peluang rupiah tambahan.Namun setiap kali melakukan budidaya, tentu saja pemilik selalu menanggung resiko yang pasti ada entah besar atau kecil. Untuk budidaya lele ini, kebanyakan kasus yang terjadi adalah banyaknya yang mati mendadak.  Lele yang mati bukan tanpa penyebab, hanya saja kebanyakan orang tidak mengetahui apa penyebabnya. Berikut ini beberapa penyebab dari lele anda mati dan cara untuk mengatasinya.

Penyebab Ikan Lele Mati Mendadak dan Cara Mengatasinya

1. Zat Beracun Kolam
Salah satu penyebab dari ikan lele yang mati mendadak adalah akibat adanya zat di dalam kolam yang beracun. Hal ini bahkan bisa membuat banyak lele yang mati, bukan hanya satu atau beberapa saja mengingat pengaruh zat beracun di dalam kolam yang mampu mematikan seketika dalam jumlah besar. Jika seperti ini yang terjadi, bukan tidak mungkin lagi bahwa anda akan mengalami kerugian besar.

Zat beracun pada kolam biasanya disebabkan dari sisa makanan yang mengendap pada kolam. Cara mengatasinya, rajinlah membersihkan kolam lele anda meskipun mungkin berat, mintalah bantuan orang lain untuk membersihkan. Jika tidak telaten membersihkan kolam maka ikan lele akan semakin dalam kondisi buruk. 

2. Obat-Obatan
Zat beracun yang ada di kolam lain bukan saja di sebabkan oleh makanan, namun hal itu juga di akibatkan karena adanya pengaruh obat-obatan yang mengandung atau membawa zat kimia seperti pestisida. Ditambah lagi jika sumber air kolam berasal dari sungai atau saluran irigasi yang juga dimanfaatkan oleh para petani. Sehingga secara tidak langsung banyak obat-obatan untuk pupuk padi atau perkebunan yang mengandung pestisida.

Cara mengatasinya adalah dengan membuatkan kolam lele sendiri dengan sumber air kolam sendiri, baik dengan air diesel atau cara lain asalkan tidak saluran air persawahan. Serta perhatikan pula dalam pemberian obat untuk budidaya lele anda, jika setelah memberikan obat bisa melakukan pengurasan air.

3. Perubahan Ph Air yang Mendadak Secara Ekstrem
PH air adalah hal yang sepatutnya anda khawatirkan, pada saat awal pembuatan kolam pH harus serta di kondisikan sedemikian rupa agar mampu memenuhi syarat yang ideal bagi perkembangan dan pertumbuhan ikan lele. Adanya penyebab pH air yang berubah dalam waktu cukup singkat tersebut yakni air hujan pertama yang jatuh pada kolam.

Cara mengatasinya adalah, segera mengganti air kolam yang dapat dilakukan secara sebagian. Akan lebih baik lagi jika anda mengganti air kolam menggunakan mesin diesel. 

4. Suhu Air Kolam yang Terlalu Panas
Penyebab Ikan Lele mati mendadak lain yang perlu Anda ketahui yakni diakibatkan oleh suhu air kolam yang terlalu panas. Pertahankanlah suhu air kolam dalam kisaran cukup ideal yakni mulai 25 – 30 derajat celcius. Hal ini karena benih ikan lele sangatlah sensitive terhadap suhu panas. Sehingga hal itu akan menyebabkan ikan lele mulai stress dan penurunan nafsu makan. Selain pencernaan metabolism tubuh juga tidak akan berfungsi baik, dan ujung-ujungnya hal itu beresiko pada lele yang mati mendadak.

Cara mengatasinya yakni, memasang terpal plastic guna mencegah masuknya sinar matahari secara langsung ke air kolam anda. Cara lain yang bisa di lakukan yakni dengan menggunakan tanaman enceng gondong yang dapat menjadi pelindung untuk sang lele. Bahkan dengan adanya tanaman enceng gondong, fungsi lainnya adalah sebagai inang sejumlah mikroorganisme yang mampu menjadikan sumber pakan alami lele.

5. Kurang Tepat dalam Hal Manajemen
Masalah lain dari penyebab Ikan Lele mati mendadak adalah mengenai pengaturan manajemen yang kurang baik. Mengapa? Karena hal itu sama saja tidak sesuai kaidah atau tata cara yang tepat seperti penerapan kaidah budidaya lele yang tak sesuai. Sehingga demikian akan mengakibatkan pertumbuhan lele yang lambat dan atau bahkan sampai mati.

Cara mengatasinya adalah dengan mempelajari manajemen yang benar dalam budidaya lele. Selain itu, usahakan belajar mengenai ternak lele yang baik. 

6. Belum Dilakukan Vaksinasi
Vaksin pada ikan lele sangat penting sekali guna meningkatkan kekebalan tubuh, yang mana tidak akan mudah terserang penyakit. Umumnya vaksin yang diberikan di pasaran adalah jenis Aeromonas. Akan tetapi masih cukup banyak yang belum melakukan vaksin pada ikan lele. Sehingga bukan tidak mungkin jika ikan lele yang tidak di vaksin bisa mati dengan mendadak. Cara Mengatasinya, lakukan vaksinasi pada lele secara teratur.

Vaksin untuk Penyakit Aeromonas pada Lele
Para peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar Badan Litbang Kelautan dan Perikanan menemukan Vaksin untuk Penyakit Aeromonas pada Lele yang dinamakan Vaksin HydroVac. Temuan ini berhasil membasmi bakteri Aeromonas hydrophila yang kerap menyerang ikan. 

Penyakit MAS adalah penyakit yang paling ditakuti oleh para pembudidaya ikan air tawar terutama ikan lele karena dapat menimbulkan kerugian yang besar (dapat mengakibatkan kematian ikan hingga 100 %), dan penyebab utama penyakit ini adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Bakteri Aeromonas hydrophila termasuk dalam bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan lebar 0,7 – 0,8 mikron dan panjang 1,0 – 1,5 mikron, bersifat patogen karena mengandung eksotoksin dan endotoksin berupa racun dan enzim protese yang dapat menyebabkan nekrosis pada jaringan otot ikan.

Menurut Afianto dan Evi L (1992) bakteri Aeromonas sp umumnya hidup di air tawar terutama yang mengandung bahan organik tinggi. Penularan bakteri jenis ini dapat melalui air, kontak badan, kontak dengan peralatan yang telah tercemar atau pemindahan ikan yang terserang. Masa inkubasi serangan bakteri ini hanya 3- 4 hari, dapat terjadi setiap saat dan tidak mengenal musim.

Bakteri tersebut berkembang, antara lain karena budidaya ikan yang kian intensif dan perubahan iklim, yang membuat kualitas perairan menurun. Semua itu bisa memicu merebaknya wabah penyakit bakterial tersebut.

Serangan bakteri Aeromonas hydrophila menyebabkan “penyakit merah” atau Motile Aeromonas Septicaemia (MAS). Penyakit MAS bersifat akut, menginfeksi semua umur dan jenis ikan air tawar, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%. Gejala klinis penyakit MAS, antara lain warna tubuh kusam, nafsu makan menurun, ekses lendir, pendarahan pada pangkal sirip dan bagian tubuh lainnya, dropsy, sisik lepas, luka dan akhirnya berkembang menjadi ulcer (borok).

Metode yang banyak digunakan untuk menanggulangi penyakit pada ikan budidaya adalah pengobatan dengan zat kimia atau antibiotik. Meski terlihat dengan cepat mengatasi penyakit, ternyata cara ini sangat berisiko karena justru dapat menimbulkan resistansi terhadap bakteri, selain biaya yang cukup mahal, juga dapat mencemari lingkungan. Antibiotik biasanya diberikan melalui makanan, perendaman atau penyuntikan, sehingga residu antibiotik dapat terakumulasi pada ikan.

Untuk menghindari dampak negatif dari penggunaan antibiotik, penanggulangan penyakit ikan dapat diupayakan melalui peningkatan kekebalan ikan dengan vaksinasi. Vaksinasi adalah upaya memasukkan antigen dari agen penginfeksi ke dalam tubuh ikan dengan harapan ikan tahan terhadap agen penginfeksi tersebut. Vaksinasi mampu menimbulkan antibodi dan daya lindung yang baik pada ikan. Dalam usaha pencegahan penyakit, vaksinasi juga menguntungkan karena tidak menimbulkan residu dan pencemaran lingkungan. Maka para peneliti pun mencoba mencari dan menemukan vaksin untuk penyakit aeromonas pada lele yang tepat dan dapat digunakan oleh banyak pembudidaya lele.

Mengenal Vaksin HydroVac
Hasil studi epidemiologi disimpulkan bahwa patogen yang dianggap paling bertanggung jawab atas kasus kematian massal pada budidaya ikan lele, gurame, nisa, dan gabus yang terjadi pada tahin 80-an di wilayah Jawa Barat dan merebak ke daerah lain di hampir seluruh wilayah Indonesia adalah bakteri Aeromonas hydrophila. Sejak saat itu, penelitian dan kajian tentang biologi, karakterisasi, serta mekanisme serangan penyakit tersebut dilakukan secara intensif untuk mendapatkan teknologi penanggulangannya yang paling rasional, murah, aman, efisien dan efektif. Hingga pada akhirnya ditemukan vaksin monovalen anti-Aeromonas hydrophilayang mampu bekerja untuk pencegahan infeksi jenis bakteri tersebut.

Hasil penelitian Ir. Taukhid, M.Sc dan rekan-rekan di Balai Penelitian dan Pengambangan Perikanan Air Tawar (Balitkanwar) Bogor menemukan solusi yakni vaksin HydroVac. Sejak tahun 2007, Ia dan sejumlah peneliti mulai meneliti tentang vaksinasi pada ikan. Inspirasi tersebut Ia peroleh dari negara Norwegia yang telah sejak lama mengatasi penyakit pada ikan dengan cara vaksinasi.

Vaksin Hydrovac kemudian dikerjasamakan dengan Capri berubah nama menjadi CAPRIVAC AERO-L®. Kerjasama alih teknologi yang dilakukan Capri dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan KKP-RI ini juga dimaksudkan untuk menyebarluaskan dan menerapkan hasil penelitian Perikanan Budidaya melalui produk vaksin. Dengan demikian manfaat penelitian vaksin ikan dapat sampai kepada pembudidaya kecil sehingga mampu mengatasi problem penyakit ikan yang selama ini menghantui kegagalan budidaya.

Vaksin Hydrovac mengandung sel utuh (whole cell) bakteri Aeromonas hydropilla strain AH26, Phospate Buffered Saline (PBS) dan bahan preservatif. Hydrovac dapat menginduksi respon kebal spesifik pada ikan dan kekebalan tersebut mulai terdeteksi 2-3 minggu kemudian. Untuk meningkatkan kadar antibodi hingga level protektif, perlu dilakukan vaksinasi ulang (booster) yang diberikan 1,5 bulan kemudian. Booster akan meningkatkan level antibodi yang sangat signifikan selama 3-12 bulan.

Aplikasi atau Cara Pemberian Vaksin untuk Penyakit Aeromonas pada Lele

Persyaratan yang perlu diperhatikan sebelum melakukan vaksinasi terhadap ikan yaitu:
  1. Ikan telah berumur 3 minggu atau lebih,
  2. Status kesehatan ikan harus dalam kondisi baik, hindari memberikan vaksin pada populasi ikan yang sedang sakit,
  3. Suhu air relatif hangat (di atas 25 °C) dan stabil.
Aplikasi Vaksin Hydrovac dapat dilakukan dalam 3 (tiga) cara, yaitu:
  1. Perendaman, teknik ini dilakukan dengan cara merendam ikan dalam larutan Hydrovac selama 15-30 menit. Perendaman dapat dilakukan dalam bak beton/fiber glass/akuarium atau ember plastik. Dosis yang digunakan adalah 100 ml vaksin untuk setiap 10 liter air;
  2. Melalui pakan ikan (pellet), teknik ini cocok untuk ikan yang sudah dipelihara di kolam atau vaksinasi ulang (booster). Vaksin diencerkan terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian dimasukkan ke dalam alat semprot. Semprotkan larutan vaksin tersebut ke pakan secara merata, dikeringanginkan dan selanjutnya segera diberikan kepada ikan. Dosis yang diberikan adalah 2-3 ml/Kg bobot tubuh ikan. Pemberian vaksin melalui pakan sebaiknya dilakukan selama 3-7 hari berturut-turut; dan
  3. Aplikasi vaksin melalui suntikan, cara pemberian vaksin dengan melalui suntikan lebih tepat untuk ikan-ikan yang berukuran relatif besar (misalnya induk ikan) dengan dosis 3-5 ml/Kg bobot tubuh ikan. Keuntungan pemberian vaksin melalui penyuntikan adalah 100 % vaksin dapat masuk ke dalam tubuh ikan. Cara penyuntikan yang biasa dilakukan, yaitu dimasukkan ke rongga perut (intra peritoneal) dan dimasukkan ke otot/daging (intra muscular) dengan sudut kemiringan jarum suntik (needle) kira-kira 30°.
Gambar Produk Vaksin untuk Penyakit Aeromonas pada Lele


Kenali penyakit Aeromonas untuk tahu bagaimana cara menanggulanginya agar bisa terhindar dari kerugian besar.

Referensi
  1. Gina, S. 1997. Gambaran Sistem Kekebalan Non Spesifik pada Ikan Gurame (Osphronemus gouramy Lac. 1973) Akibat Pemberian Imunostimulan. Tesis. Program Studi Sains Veteriner. Program Pascasarjana IPB, Bogor. 44 hal.
  2. Alifuddin, M. 2002. Imunostimulasi pada Hewan Akuatik. Jurnal Akuakultur Indonesia. 1 (2): 87-92.
  3. Campbell, N. A., Jane B. R., and Lawrence G. M. 1999. Biologi. Terjemahan: W. Manatu. Erlangga. Jakarta. Hal 74-81.
  4. Mulia, D. S., dan C. Purbomartono. 2007. Perbandingan Efikasi Vaksin Pro- duk Intra dan Ekstraseluler Aero- monas hydrophila untuk Menang- gulangi Penyakit Motile Aero- monas Septicemia (MAS) pada Lele Dumbo (Clarias sp.). Jurnal of Fisheries Sciences. 9(2): 173-181.
  5. Prinsip-prinsip Budidaya Ikan. Gramedium. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar