Kamis, 26 Maret 2015

Teknik Pembibitan dan Penanaman Mangrove


PEMBIBITAN DAN PENANAMAN MANGROVE



Pembuatan Bedeng
Tahap pertama dalam penanaman mangrove yaitu pembuatan bedeng. Lokasi pembuatan bedeng, dipilih yang berdekatan dengan lokasi penanaman mangrove. Hal ini, bertujuan untuk mempermudah distribusi bibit mangrove pada saat penanaman. Selain itu, harus diperhatikan juga tentang kondisi lingkungan, seperti tipe pasang surut di lokasi bedeng. Informasi mengenai kondisi pasang surut yang tepat sangat dibutuhkan untuk menjaga sirkulasi air dan mengenali pola penggenangan di bedeng. Mengingat pembangunan bedeng sangat tergantung dengan pasang surut, maka suatu lokasi yang tidak memiliki pola sirkulasi pasang surut yang baik, sudah seharusnya tidak dipilih sebagai lokasi peletakan bedeng.
Bedeng bisa dibuat dengan berbagai macam tipe, disesuaikan dengan kondisi, situasi, budaya setempat dan tentunya anggaran yang dimiliki. Pembangunan bedeng persemaian untuk menyemaikan benih – benih mangrove. Terdapat 3 tipe tempat persemaian, yaitu dua buah bedeng dan satu buah tempat persemaian mangrove.

Bedeng Tingkat
Bedeng tingkat artinya, dasar bedeng ditinggikan beberapa sentimeter dari atas tanah dengan tujuan untuk menghindari dari pemangsaan bibit mangrove oleh pemangsa misalkan kepiting. Bedeng tingkat ini dibuat dari potongan bambu dan bisa dibuat beberapa buah dengan ukuran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran yang tersedia. Sebagai naungan, bisa digunakan daun kelapa dan atau bahan penutup lainnya. Intinya, bibit – bibit mangrove tidak boleh terkena sinar matahari secara langsung karena akan mengakibatkan pada kematian bibit mangrove yang sedang disemaikan.
Kelebihan dari bedeng ini adalah konstruksinya yang kuat, bagus dan mampu bertahan kurang lebih selama 4 tahun. Dengan pemeliharaan bibit yang baik dan benar. Sedangkan kelemahannya adalah biaya yang dibutuhkan untuk membangun bedeng tingkat berukuran 2m x 3m dengan tinggi 1,5m membutuhkan biaya sekitar RP 600.000,00. Padahal, setidaknya dibutuhkan enam buah bedeng untuk menyemaikan enam jenis mangrove.

Bedeng Tanpa Tingkat
Bedeng tanpa tingkat artinya, dasar bedeng tidak ditinggikan melainkan langsung menggunakan tanah sebagai dasarnya. Kelebihan bedeng ini adalah bisa cepat dibangun hanya dengan membutuhkan biaya yang murah. Kelemahan dari bedeng jenis ini adalah bagi daerah persemaian yang memiliki kelimpahan kepiting yang besar, maka ketahanan hidup bibit mangrove bisa mencapai minimal, apabila program pemeliharaan bibit mangrove tidak berjalan secara optimal.

Tanpa Bedeng
Persemaian dilakukan tanpa bedeng, dengan cara benih langsung disemaikan di bawah pohon indukannya.
Hal yang paling penting untuk diperhatikan dalam pembuatan bedeng dan tempat persemaian mangrove adalah bibit – bibit mangrove harus tertutup dari sinar matahari secara langsung. Menurut penelitian, persentase penutupan yang baik adalah 50 % sampai dengan 75%.

Pengambilan Benih
Benih mangrove diambil dari pohonnya secara langsung. Buah – buah mangrove dari jenis Rhizopora dan Avicennia, terletak bervariasi di ketinggian yang berbeda. Buah Rhizopora yang diambil adalah buah yang sudah matang, yang ditandai dengan adanya cincin kuning dibagian propagulnya. Untuk propagul yang belum muncul cincin kuningnya, tidak diambil karena belum bisa disemaikan.





Gambar 1. Buah Mangrove jenis (kiri). dan buah mangrove Rhizopora dan Avicennia (kanan)

Bentuk Buah (Propagul) Mangrove
Tipe buah mangrove ada dua buah, yaitu Vivipari dan Kriptovivipar. Vivipar adalah biji yang telah berkecambah ketika masih melekat pada pohon induknya dan kecambah telah keluar dari buah. Sedangkan kriptovivipar adalah biji yang telah berkecambah ketika masih melekat pada pohon induknya, tetapi masih tetutup oleh kulit biji.
Dibawah ini adalah gambar propagul (buah vivipar) jenis mangrove Rhizopora opiculata. Bisa dilihat bagian – bagiannya mulai dari tangkai, kelopak buah, plumula (bakal buah), buah, keping buah, hipokotil dan radikula.
Keterangan mengenai beberapa bagian dalam propagul ini telah jelas. Plumula adalah bakal daun yang tertutupi oleh keping buah. Selanjutnya, keping buah bisa dijadikan indikator bagi pemasakan buah. Apabila warna keping buah berubah menjadi kuning atau coklat, maka bisa dipastikan bahwa buah Rhizopora opiculata telah masak. Tidak hanya jenis Rhizopora spp saja, jenis lainnya juga akan menunjukkan “gejala” kematangan buah yang sama.
Hipokotil adalah semai antara batang dan akar. Bagi beberapa jenis tumbuhan mangrove, hipokotil merupakan bagian yang sangat penting untuk menyimpan cadangan makanan dan bahan cadangan lainnya. Hipokotil merupakan “kecambah” yang keluar dari buahnya. Sementara itu radikula adalah bakal akar yang akan menjelma menjadi akar – akar mangrove yang kuat yang akan bisa melindungi pesisir pantai kita dari abrasi dan gelombang tsunami.

Perlakuan Benih
Setelah diambil dari sumbernya, buah mangrove kemudian diletakkan di tempat yang terlindung. Buah mangrove bisa diletakkan sementara di bedeng atau di pohon indukannya. Bibit mangrove kemudian diberikan perlakuan sedemikian rupa sehingga pada saat disemaikan bisa mencapai ketahanhidup yang maksimal.
Secara sederhana, buah mangrove yang ditemukan di lapangan biasanya terdiri dari dua tipe, yaitu tipe propagul dan tipe buah bulat. Tipe propagul berbentuk bulat – lonjong – memanjang dan tipe buah bulat berbentuk bulat dengan variasi bulat lancip seperti pada jenis Avicennia spp dan bulat penuh yang terdepat pada Sonnerita spp. Kedua tipe benih mangrove ini mendapatkan perlakuan yang sama setelah dipetik dari lapangan, yaitu direndam kurang lebih dua hari atau menyesuaikan dengan jarak waktu antara pembibitan dan penanaman, sebelum kemudian disemaikan di bedeng. Perendaman ini berfungsi untuk menghilangkan bau manis pada benih, yang disukai oleh kepiting. Dengan demikian, pada saat disemaikan, maka pemangsaan benih oleh kepiting bisa dikurangi.



Pembibitan

Alat dan bahan yang dibutuhkan untuk melakukan pembibitan mangrove adalah polybag, benih mangrove berbagai jenis, lumpur, cetok dan bedeng. Sebagai informasi, polybag terdiri dari dua tipe, yaitu polybag kecil untuk benih berukuran kecil, seperti Avicennia spp, Sonneratia spp, dan Ceriops spp. Dan polybag besar untuk benih Rhizopora spp dan Bruguiera spp. Polybag memiliki lubang di bagian samping dan bawahnya, yang berguna untuk sirkulasi air dan udara.

Selanjutnya, lumpur yang digunakan pada tahap pembibitan ini, sebaiknya diambil dari sekitar lokasi penanaman. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan ketahananhidup benih sewaktu pembibitan. Bedeng persemaian yang dipergunakan bisa disesuaikan dengan tiga buah jenis bedeng yang ada diatas.
Tahap pembibitan dilakukan setelah tahap perlakuan bibit selesai. Pembibitan dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Ambil polybag, lalu isi dengan lumpur yang ada disekitar bedeng.
2. Isi poly bag dengan sedimen, tetapi jangan terlalu penuh melainkan ¾ dari isi polybag.
3. Setelah diisi lumpur, lipat bagian atas polybag ke bagian luar dengan tujuan pada saat surut dan cuaca kering, Kristal –kristal garam air laut tidak terjebak di dalam polybag yang bisa menghambat pertumbuhan benih mangrove.
4. Selanjutnya, tanam benih mangrove yang telah dipilih dan berkondisi baik ke dalam sedimen dengan kedalaman yang cukup.
5. Jangan lupa untuk menanam benih Ceriops, Sonneratia dan Avicennia ke dalam polybag kecil dan benih Rhizopora dan Bruguiera ke dalam polybag yang berukuran besar.
6. Setelah itu, masukkan satu per satu polybag yang sudah terisi dengan benih – benih mangrove tersebut ke dalam bedeng. Sebaiknya diusahakan agar satu buah bedeng bisa digunakan untuk satu jenis mangrove saja, agar mempermudah distribusi pada saat pengambilannya di tahap penanaman mangrove.

Pembuatan Pemecah Gelombang (Apo)
Pembuatan pemecah gelombang ini disarankan apabila diperlukan sebaiknya setelah melakukan tahap pembibitan. Hal ini dilakukan untuk melindungi bibit – bibit mangrove yang telah ditanam di lokasi penanaman. Perlu diketahui bahwa mangrove baru bisa berfungsi sebagai penahan abrasi, setelah berumur kurang lebih lima tahun disaat akarnya telah kuat sehingga mampu mengurangi kekuatan gempuran gelombang.
Pemecah gelombang memiliki empat macam model pemecah gelombang (Apo). Keempat jenis apo – apo tersebut bisa dibedakan dari jenis bahan pembuatnya. Apo – apo pertama terbuat dari beton dan semen berbentuk bundar. Apo – apo kedua terbuat dari beton dan semen berbentuk segiempat. Selnjutnya, pemecah gelombang ketiga terbuat dari potongan bambu yang dianyam, dan yang terakhir adalah apo – apo yang terbuat dari ban bekas yang dikuatkan dengan potongan bambu.
Masing – masing model dari pemecah gelombang ini memiliki kelebihan dan kekurangannya. Untuk pemecah gelombang dari semen dan beton (baik yang bundar maupun yang berbentuk segiempat), kelebihannya terletak dari konstruksinya yang tahan lama sehingga mampu lebih banyak mereduksi kekuatan gelombang laut. Kelemahan jenis ini adalah biaya pembangunannya yang sangat mahal sehingga tidak sesuai dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Biaya pemecah gelombang yang hanya dimonopoli oleh pihak penyandang dana telah menempatkan masyarakat sebagai obyek dan bukan subyek dari penanaman mangrove.
Selanjutnya, pemecah gelombang yang terbuat dari potongan bambu yang dianyam memiliki kelebihan dianggarannya yang lebih kecil dan bahan bakunya juga bisa diperoleh dari warga sekitar sehingga mampu memberdayakan warga sekitar untuk turut serta dalam penanaman mangrove sebagai subyek dan bukan obyek.
Sementara model pemecah gelombang yang terakhir, yaitu yang terbuat dari ban bekas, selain biayanya yang murah juga memiliki kekuatan penahan gelombang yang lebih baik dibandingkan denga pemecah gelombang yang lainnya. Namun masih dipertanyakan mengenai keramahan lingkungannya.

Penanaman dan Penyulaman Mangrove
Sebelum melakukan tahap penanaman mangrove, maka lokasi penanaman mangrove harus sudah disepakati bersama antara tenaga pendamping, para mitra kerja dan masyarakat. Tenaga pendamping bisa menyampaikan sebuah rekomendasi tentang letak lokasi penanaman mangrove yang tepat yang berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan pada penelitian awal.
Beberapa faktor lingkungan penting yang harus diperhatikan sebelum melakukan tahap penanaman mangrove antara lain adalah tipe substrat, salinitas, temperature, ketinggian tanah, pH, musim dan saluran air. Substrat untuk penanaman mangrove harus sesuai dengan jenis mangrove yang akan ditanam. Secara sederhana, pada sedimen yang berlumpur, maka jenis Rhizopora spp adalah jenis mangrove yang tepat untuk ditanam. Avicennia spp dan Sonneratia spp, menyukai tanah berpasir yang berada di pinggiran pantai. Jenis mangrove lainnya seperti Ceriops spp dan Bruguiera spp bisa hidup bervariasi di substrat lumpur berpasir. Salinitas atau kadar garam juga perlu diperhatikan, karena mangrove hidup pada salinitas yang bervariasi. Kadar salinitas yang bervariasi ini ikut pula menentukan pola penyebaran mangrove di habitatnya.
Perlu diketahui bahwa penentuan jenis mangrove untuk ditanam disuatu lokasi harus disesuaikan dengan kondisi substratnya dan budaya masyarakat lokal setempat. Beberapa hal yang kami temui dilapangan menginformasikan bahwa jenis – jenis mangrove tertentu cenderung “tidak” disukai untuk ditanam di daerah tertentu, sebagai contoh di Surodadi, misalnya jenis mangrove Rhizopora spp cenderung tidak bnyak ditanam tetapi ditebangi, karena di wilayah tersebut perakaran Rhizopora spp ditengarai telah menyebabkan jebolnya tanggul pertambakan mereka. Untuk itu, mangrove jenis Avicennia spp yang dianggap memiliki sistem perakaran yang lebih rapat dan mampu menstabilkan tanah tambak.
Secara teori penanaman mangrove dengan mempergunakan bibit mangrove akan memiliki tingkat kelulusanhidupan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan penanaman mangrove dengan menggunakan propagul. Namun demikian, penanaman mangrove dengan propagul tanpa penyemaian sebaiknya juga dilakukan terutama pada saat penyulaman. Faktanya, penanaman mangrove menggunakan propagul juga seringkali dilakukan dengan alasan bibit mangrove lebih mudah menyesuaikan diri terhadap lingkungan. Sementara itu, penggunaan propagul sebagai “bahan baku” penanaman mangrove, walaupun diklaim memiliki daya adaptasi yang lebih tinggi, tetapi tidak demikian dengan daya tahannya terhadap gelombang.
Selanjutnya, penanaman bibit mangrove harus dikelompokkan sesuai dengan jenisnya. Hal ini dilakukan mengingat pada kondisi alami, mangrove memamng membentuk tegakan murni yang berarti ditemukan secara berkelompok sesuai dengan jenisnya. Penanaman mangrove sebaiknya dilakukan pada saat air laut surut. Namun demikian, apabila keadaan tidak memungkinkan, maka penanaman mangrove bisa tetap dilaksanakan pada saat air tergenang dengan syarat pada saat melakukan penanaman akar bibit benar – benar tertancap dengan baik di sedimen dan terikat kuat di smaping ajirnya. Alat dan bahan yang dipergunakan untuk melakukan tahapan penanaman mangrove adalah bibit mangrove berbagai jenis, cetok, ajir dan tali rafia.

Gambar Penanaman Mangrove

Teknik penanamannya sendiri adalah sebagai berikut :

1. Ambil satu bibit mangrove di bedeng.
2. Buka polybag yang menutupi sedimen dan akar bibit. Jangan buang polibag secara sembarangan, tetapi letakkan polybag di atas ajir.
3. Tanam langsung bibit mangrove ke tanah dengan cara melubangi tanah dengan cetok, sedemikian rupa hingga lubang penanaman cukup dalam, sehingga akar bisa tertanam dengan baik.
4. Setelah itu, ikat batang bibit mangrove ke ajir dengan menggunakan tali rafia yang telah disediakan. Penggunaan ajir berguna untuk menjaga bibit mangrove agar tidak tumbang ketika terkena ombak. Jarak tanam adalah 1m x 1m.
5. Timbun dengan tanah. Jangan terlalu menekan tanah, sehingga oksigen bisa dengan leluasa ke luar dan masuk ke tanah.
6. Ambil polybag yang terletak di atas ajir, kumpulkan menjadi stu di sebuah keranjang atau plastik. Selanjutnya polybag bisa didaur ulang menjadi berbagai macam barang plastik daur ulang.
Tidak semua bibit mangrove harus ditanam pada saat penanaman, melainkan bisa disisihkan untuk tahapan selanjutnya, yaitu penyulaman. Penyulaman adalah tahapan penting setelah tahapan penanaman, karena bertujuan untuk memelihara bibit – bibit mangrove yang telah ditanam agar mendapatkan kelulushidupannya yang maksimal. Penyulaman dilakukan dengan cara mengganti bibit – bibit mangrove yang telah mati dengan bibit – bibit mangrove yang baru. Sebagai contoh, dari 10 ribu bibit yang ada, bisa disisihkan 2 ribu bibit untuk penyulaman.

Pemeliharaan Kawasan Mangrove
Tahap ini adalah tahap lanjutan setelah tahap penyulaman selesai dilakukan. Tahapan pemeliharaan mangrove memiliki tujuan jangka panjang untuk memastikan agar bibit – bibit mangrove, bisa hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal yang harus dilakukan pada tahapan ini adalah program penjarangan, yaitu berupa penebangan beberapa buah dan batang pohon mangrove muda. Jika ditenggarai bibit mangrove yang berhasil tumbuh memiliki kepadatan yang sangat tinggi. Hal ini penting dilakukan untuk memaksimalkan pertumbuhan pohon mangrove lainnya. Hal seperti ini dilakukan agar pertumbuhan pohon mangrove bisa tumbuh secara optimal.
Selain penjarangan, dilakukan juga pembersihan lokasi terhadap hama dan gangguan lainnya seperti rumput liar, pencemaran minyak dan gangguan lainnya, serta pengelolaan saluran air. Jika didapati terjadinya penutupan saluran air sebagai akibat dari perubahan alam di daerah pesisir.
Selanjutnya tata aturan seperti larangan melakukan penebangan pohon mangrove yang telah berhasil tumbuh dengan baik dilokasi penanaman, juga harus dibuat untuk memberikan informasi dan pendidikan kepada masyarakat luas akan pentingnya penjagaan terhadap kelestarian mangrove di pesisir.

Sumber:

https://suksemina.wordpress.com
https://www.mangrovesforthefuture.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar