Rabu, 25 Februari 2015

Mengenal Udang Vannamae



A.      KLASIFIKASI & MORFOLOGI
Klasifikasi udang vaname adalah sebagai berikut:
Phylum               :     Arthropoda
Kelas                   :     Crustacea
Sub-kelas           :     Malacostraca
Series                 :     Eumalacostraca
Super order      :     Eucarida
Order                 :     Decapoda
Sub order          :     Dendrobranchiata
Infra order         :     Penaeidea
Famili                  :     Penaeidae
Genus                 :     Penaeus
Sub genus          :     Litopenaeus
Spesies               :     Litopenaeus vannamei

B.      MORFOLOGI
Udang penaeid mempunyai ciri khas yaitu: kaki jalan 1,2, & 3 bercapit dan kulit citin.Udang penaeid termasuk crustaceae yang merupakan binatang air memiliki tubuh beruas-ruas, pada setiap ruasnya terdapat sepasang kaki. Udang vaname termasuk salah satu famili penaide termasuk semua jenis udang laut, udang air tawar.
Secara morfologi udang dapat di bedakan menjadi 2 bagian:
-     Cephalothorax (bagian.kepala dan badan yang dilindungi carapace)
-     Abdomen (bagian perut terdiri dari segmen/ruas-ruas)
a).     Bagian kepala
Pada ruas kepala terdapat mata majemuk yang bertangkai. Selain itu, memiliki 2 antena yaitu: antenna I dan antenna II. Antena I dan antenulles mempunyai dua buah flagellata pendek berfungsi sebagai alat peraba atau penciuman. Antena II atau antenae mempunyai dua cabang, exopodite berbentuk pipih disebut prosantema dan endopodite berupa cambuk panjang yang berfungsi sebagai alat perasa dan peraba. Juga, pada bagian kepala terdapat mandibula yang berfungsi untuk menghancurkan makanan yang keras dan dua pasang maxilla yang berfungsi membawa makanan ke mandibula.
b).     Bagain dada (thorax)
Bagian dada terdiri 8 ruas, masing-masing mempunyai sepasang anggota badan disebut thoracopoda. Thoracopoda 1-3 disebut maxiliped berfungsi pelengkap bagian mulut dalam memegang makanan. Thoracopoda 4-8 berfungsi sebagai kaki jalan (periopoda); sedangkan pada periopoda 1-3 mempunyai capit kecil yang merupakan ciri khas udang penaeidae.
c).     Bagian perut (abdomen)
Bagian abdomen terdiri dari 6 ruas. Ruas 1-5 memiliki sepasang anggota badan berupa kaki renang disebut pleopoda (swimmered). Pleopoda berfungsi sebagai alat untuk berenang bentuknya pendek dan ujungnya berbulu (setae). Pada ruas ke 6, berupa uropoda dan bersama dengan telson berfungsi sebagai kemudi.

C.      TENTANG UDANG VANAME    
1).     Penyebaran
Daerah penyebaran alami L.vaname ialah pantai Lautan Pasifik sebelah barat Mexiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan dimana suhu air laut sekitar 20 o C sepanjang tahun. Sekarang L.vaname telah menyebar, karena diperkenalkan diberbagai belahan dunia karena sifatnya yang relatif mudah dibudidayakan, termasuk di Indonesia.

2).     Daur Hidup.
L.vaname adalah binatang catadroma , artinya ketika dewasa ia bertelur dilaut lepas berkadar garam tinggi, sedangkan ketika stadia larva ia migrasi ke daerah estuaria berkadar garam rendah. Pada awalnya udang vaname ditemukan setelah matang kelamin akan melakukan perkawinan di laut dalam sekitar 70 m diwilayah Pasifik lepas pantai (depan) Mexico dan Amerika tengah dan Selatan pada suhu air 26-28oC dan salinitas 35 ppt. Telurnya menyebar dalam air dan menetas menjadi nauplius diperairan laut lepas (off shore) bersifat zooplankton. Selanjutnya dalamperjalanan migrasi kearah estuaria, larva L.vaname mengalami beberapa kali metamorfosa, seperti halnya pada udang P.monodon.
Diwilayah estuaria yang subur dengan pakan alaminya, larva udang-udang itu berkembang cepat sampai stadia juwana dimana telah terbentuk alat kelaminnya. Tetapi, tidak dapat matang telur karena masih berada pada salinitas rendah. Sehingga ia bermigrasi kembali ketengah laut yang berkadar garam tinggi, tempat udang itu menjadi dewasa, dapat matang kelamin dan kawin serta bertelur.
3).     Pakan & Kebiasaan Makan
Semula udang Penaeid dikenal sebagai hewan bersifat omnivorous scavenger artinya ia pemakan segala bahan makanan dan sekaligus juga pemakan bangkai. Namun penelitian selanjutnya dengan cara memeriksa isi usus, mengindikasikan bahwa udang Penaeid bersifat karnivora yang memangsa berbagai krustasea renik amphipoda, dan polychaeta (cacing).
Oceanic Institute di Hawai membuktikan bahwa bacteria dan algae yang banyak tumbuh di badan (kolom) air kolam yang agak keruh, ternyata berperan penting sebagai makanan udang, menyebabkan udang tumbuh lebih cepat 50% dibanding dengan udang L.vannamei yang dipelihara didalam kolam/bak yang berair sangat bersih. Catatan ini membuktikan bahwa udang tumbuh optimum dikolam karena adanya komunitas microbial (Wyban & Sweeney,1991).
L.vannamei bersifat nocturnal. Sering ditemukan L.vannamei memendamkan diri dalam lumpur/pasir dasar kolam bila siang hari, dan tidak mencari makanan. Akan tetapi pada kolam budidaya jika siang hari diberi pakan maka udang vaname akan bergerak untuk mencarinya, ini berarti sifat nocturnal tidak mutlak
L.vannamei memerlukan pakan dengan kandungan protein 35 %. Ini lebih rendah dibanding dengan kebutuhan untuk udang P.monodon, dan P.japonicus yang kebutuhan protein pakannya mencapai 45 % untuk tumbuh baik. Ini berarti dari segi pakan L.vannamei lebih ekonomis, sebab bahan pangan yang mengandung protein banyak tentu lebih mahal. L.vannamei tumbuh cepat jika pakannya mengandung cumi-cumi. Cumi-cumi telah diketahui mengandung banyak lemak tak jenuh (HUFA) antara lain Cholesterol yang diperlukan untuk pertumbuhan gonada udang, maupun untuk percepatan pertumbuhannya
4).     Pertumbuhan
Kecepatan tumbuh pada udang dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu frekuensi     molting (ganti kulit) dan kenaikan berat tubuh setelah setiap kali ganti kulit.Karena     daging tubuh tertutup oleh kulit yang keras, secara periodik kulit keras itu akan lepas     dan diganti dengan kulit baru yang semula lunak untuk beberapa jam, memberi kesempatan daging untuk bertambah besar, lalu kulit menjadi keras kembali.  Proses molting dimulai dari lokasi kulit diantara karapas dan intercalary sclerite (garis molting dibelakang karapas) yang retak/ pecah memungkinkan cephalothorax dan kaki-kaki (appendiges) depan ditarik keluar. Udang dapat lepas sama sekali dari kulit yang lama dengan cara sekali melentikkan ekornya. Semula kulit yang baru itu lunak, lalu mengeras yang lamanya tak sama menurut ukuran/umur udangnya. Udang yang masih kecil, kulitnya yang baru akan mengeras dalam 1-2 jam, pada udang yang besar bisa sampai 1-2 hari.
Kondisi lingkungan dan faktor nutrisi juga mempengaruhi frekuensi molting. Misalnya, suhu semakin tinggi semakin sering molting. Ketika sedang molting, penyerapan oksigen kurang efisien, sehingga seringkali udang mati disebabkan hypoxia (kurang oksigen). Udang yang menderita stress, dapat melakukan molting secara tiba-tiba, karena itu tehnisi harus waspadadengan keadaan yang menyebabkan stress itu (molting merupakan proses fisiologi). Secara alamiah, udang yang sedang molting membenamkan diri didalam pasir dasar perairan untuk menyembunyikan diri terhadap predator









Tidak ada komentar:

Posting Komentar