Rabu, 25 Februari 2015

Tehnik Memijahkan Ikan Bandeng


Ikan bandeng biasanya memijah pada fase ke enam . ikan ini memijah dalam 2 musim setiap tahunnya di Indonesia. Musim 1 antara bulan februari sampai mei dengan puncaknya pada bulan maret sampai april . musim 2 pada bulan juli sampai desember dengan puncak bulan september sampai oktober.
A.         TEHNIK PEMIJAHAN
Ada dua teknik pemijahan ikan bandeng:
1.   Pemijahan Alami.
a.   Ukuran bak induk 30-100 ton dengan kedalaman 1,5-3,0 meter berbentuk bulat dilengkapi aerasi kuat menggunakan “diffuser” sampai dasar bak serta ditutup dengan jaring.
b.   Pergantian air minimal 150 % setiap hari.
c.   Kepadatan tidak lebih dari satu induk per 2-4 m3 air.
d.   Pemijahan umumnya pada malam hari. Induk jantan mengeluarkan sperma dan induk betina mengeluarkan telur sehingga fertilisasi terjadi secara eksternal.
2.   Pemijahan Buatan.
a. Pemijahan buatan dilakukan melalui rangsangan hormonal. Hormon berbentuk cair diberikan pada saat induk jantan dan betina sudah matang gonad sedang hormon berbentuk padat diberikan setiap bulan (implantasi).
b. Induk bandeng akan memijah setelah 2-15 kali implantasi tergantung dari tingkat kematangan gonad. Hormonyang digunakan untuk implantasi biasanya LHRH –a dan 17 alpha methyltestoterone pada dosis masingmasing 100-200 mikron per ekor induk (> 4 Kg beratnya).
c.   Pemijahan induk betina yang mengandung telur berdiameter lebih dari 750 mikron atau induk jantan yang mengandung sperma tingkat tiga dapat dipercepat dengan penyuntikan hormon LHRH- a pada dosis 5.000-10.000IU per Kg berat tubuh.
d. Volume bak 10-20 kedalaman 1,5-3,0 meter berbentuk bulat terbuat dari serat kaca atau beton ditutup dengan jaring dihindarkan dari kilasan cahaya pada malam hari untuk mencegah induk meloncat keluar tangki.
B.         PERANGSANGAN PEMIJAHAN
Ikan Bandeng sulit memijah secara alami sehingga perlu dilakukan suatu bantuan dalam proses pemijahannya. Teknik yang dapat digunakan adalah Teknologi rekayasa hormonal.  Hormon yang digunakan adalah hormon LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) atau Methyl Testosteron.  Hormon ini biasanya Diberikan dalam bentuk pellet hormon dengan cara penyuntikan
Cara penyuntikan pellet hormon ke ikan bandeng :
·         Induk bandeng diletakkan di atas bantalan busa.
·         Lendir yang melapisi bagian punggung  sebelah kanan indukan dibersihkan. Salah satu sisik dilepas dengan pisau kecil kemudian pisau tersebut ditisukkan untuk membuat lubang untuk menanam pellet hormon.
·         Pellet hormon dimasukkan dengan bantuan implanter.
·         Indukan kemudian dimasukkan lagi ke bak pemeliharaan.
Pemijahan telur dan spermatozoa bandeng yaitu :
Pemijahan ini terjadi pada malam hari dan memerlukan paling sedikit 300 ton air dengan salinitas 30 permil. bak tempat pemijahan tersebut diaerasi. Kemudian terjadi pembuahan telur sehingga dihasilkan zigot.
telur akan terapung dalam air bak pemijahan sehingga harus dipindahkan ke bak inkubasi telur dimana pengambilan telur menggunakan aliran air yang diberi saringan berukuran 850 mikron.
Inkubasi telur
·           Telur tersebut diinkubasi selama 6 jam
·           Inkubasi pada bak inkubasi
·           salinitas bak sebesar 30 permil
·           Setelah selesai kemudian dipindahkan ke bak penetasan
·           Pemindahan dilakukan dengan peningkatan salinitas menjadin 40 per mil dengan tujuan mempermiudah penyerokan.
C.         PENANGANAN TELUR
a.   Telur ikan bandeng yang dibuahi berwarna transparan, mengapung pada salinitas > 30 ppt, sedang tidak dibuahi akan tenggelam dan berwarna putih keruh.
b. Selama inkubasi, telur harus diaerasi yang cukup hingga telur pada tingkat embrio. Sesaat sebelum telur dipindahkan aerasi dihentikan. Selanjutnya telur yang mengapung dipindahkan secara hati-hati ke dalam bak penetasan/perawatan larva. Kepadatan telur yang ideal dalam bak penetasan antara 20-30 butir per liter.
c.   Masa kritis telur terjadi antara 4-8 jam setelah pembuahan. Dalam keadaan tersebut penanganan dilakukan dengan sangat hati-hati untuk menghindarkan benturan antar telur yang dapat mengakibatkan menurunnya daya tetas telur. Pengangkatan telur pada fase ini belum bisa dilakukan.
d. Setelah telur dipanen dilakukan desinfeksi telur yang menggunakan larutan formalin 40 % selama 10-15 menit untuk menghindarkan telur dari bakteri, penyakit dan parasit.
D.         PEMELIHARAAN LARVA
a.   Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran, suhu 27-310 C salinitas 30 ppt, pH 8 dan oksigen 5-7 ppm diisikan kedalam bak tidak kurang dari 100 cm yang sudah dipersiapkan dan dilengkapi sistem aerasi dan batu aerasi dipasang dengan jarak antara 100 cm batu aerasi.
b.   Larva umur 0-2 hari kebutuhan makananya masih dipenuhi oleh kuning telur sebagai cadangan makanannya. Setelah hari kedua setelah ditetaskan diberi pakan alami yaitu chlorella dan rotifera. Masa pemeliharaan berlangsung 21-25 hari saat larva sudah berubah menjadi nener.
c.   Pada hari ke nol telur-telur yang tidak menetes, cangkang telur larva yang baru menetas perlu disiphon sampai hari ke 8-10 larva dipelihara pada kondisi air stagnan dan setelah hari ke 10 dilakukan pergantian air 10% meningkat secara bertahap sampai 100% menjelang panen.
d. Masa kritis dalam pemeliharaan larva biasanya terjadi mulai hari ke 3-4 sampai ke 7-8. Untuk mengurangi jumlah kematian larva, jumlah pakan yang diberikan dan kualitas air pemeluharan perlu terus dipertahankan pada kisaran optimal.
e. Nener yang tumbuh normal dan sehat umumnya berukuran panjang 12- 16 mm dan berat 0,006-0,012 gram dapat dipelihara sampai umur 25 hari saat penampakan morfologisnya sudah menyamai bandeng dewasa.





·          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar