Sabtu, 06 Mei 2017

Penyakit Jamur Saprolegniasis pada Ikan



Selama ini, kasus saprolegniasis belum pernah dilaporkan sebagai pathogen primer pada kasus penyakit ikan. Penyakit ini sangat nyata sebagai penginfeksi sekunder, setelah dipicu oleh beberapa faktor seperti: penanganan yang kurang baik (terutama transportasi) sehingga menimbulkan luka pada tubuh ikan, kekurangan gizi, suhu dan oksigen terlarut yang rendah, bahan organik tinggi, kualitas telur buruk/tidak terbuahi, dan kepadatan telur pada kakaban terlalu tinggi. 

Zoospore kelompok jamur ini mencari substrat yang subur (luka fisik infeksi atau telur infertile), kemudian menetap dan mulai memproduksi hypha vegetatif. Mycelia tumbuh menutupi jaringan yang luka atau tempat infeksi, kemudian menyebar ke jaringan normal di sekitar lokasi infeksi. Enzim pelisis yang dikeluarkan jamur akan merusak jaringan di sekitarnya, mematikan sel dan perkembangan mycelia semakin progresif, sangat padat dan menjulur ke air sehingga terlihat seperti kapas.
Keberadaan ikan/telur yang mati di suatu perairan merupakan media yang sangat baik untuk pertumbuhan jamur. Pada kondisi tersebut produksi spora infektif juga akan berlangsung secara eksponensial, sehingga peluang terjadinya infeksi jamur pada seluruh populasi tersebut akan sangat mudah meskipun hanya dengan luka atau stressor yang sangat kecil. Hampir semua jenis ikan air tawar termasuk telurnya rentan terhadap infeksi ketiga jenis jamur tersebut, dan transmisi (penularan) yang paling potensial adalah melalui spora di air (horizontal transmission) .
Menurut Carlson (2007) jamur Saprolegnia sp umumnya merupakan patogen sekunder, meskipun dalam lingkungan yang bagus, namun tidak menutup kemungkinan ia bertindak sebagai pathogen primer. Umumnya target dari saprolegnia ini adalah ikan, baik yang hidup di alam liar ataupun yang sudah dibudidayakan. Melalui necrosis seluler dan kerusakan epidermal lainnya, Saprolegnia sp akan menyebar ke permukaan dari host-nya seperti kapas. 

Meskipun sering berada di lapisan-lapisan epidermal, namun jamur ini tidak muncul pada jaringan tertentu saja. Infeksi jamur saprolegnia biasanya berakibat fatal, yang pada akhirnya menyebabkan heamodilution yaitu "penurunan konsentrasi (sebagai pendarahan) dari sel dan cairan didalam darah yang disebabkan oleh meningkatnya zat cair dari jaringan tersebut. " Hal ini menyebabkan darah kehilangan elektrolit (garam darah) dan membuatnya tidak mampu mendukung kehidupan. 

Selanjutnya seiring dengan penetrasi hyphae Saprolegnia sp ke lapisan jaringan dari kulit ikan akan menyebabkan air masuk dan akan ikan mengganggu garam ikan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa ikan yang dipengaruhi oleh Saprolegnia sp akan terlihat lethargic dan seringkali kehilangan keseimbangan, selanjutnya dapat menyebar dengan cepat ke jaringan-jaringan permukaan dari ikan tersebut. Sementara itu terkadang terjadi bahwa Saprolegnia spakan menyerang sampai kedalam lapisan jaringan, bahkan kerusakan dangkal pada lapisan jaringan awal ikan (dan khususnya anak ikan) dapat menyebabkan kematian. Oleh karena itu, semakin banyak infeksi Saprolegnia sp yang menyebar maka semakin tinggi tingkat hemodilution dan semakin kecil kemungkinan bagi si ikan untuk bisa sembuh kembali. Oleh karena itu, menangani infeksi Saprolegnia sp harus dilakukan dengan cepat (Meyer, F.P ., 1991).

Penyebab : Saprolegnia spp. dan Achlya spp.

Bio – Ekolgi Patogen :
• Memiliki hifa yang panjang dan tidak bersepta, hidup pada ekosistem air tawar namun ada yang mampu hidup pada salinitas 3 promil.
• Tumbuh optimum pada suhu air 18-26 oC. Reproduksi secara aseksual, melalui hifa fertil untuk memproduksi spora infektif.
• Menginfeksi semua jenis ikan air tawar dan telurnya.
• Serangan bersifat kronis hingga akut, dapat mengakibatkan kematian hingga 100%.

Gejala Klinis :
• Terlihat adanya benang-benang halus menyerupai kapas yang menempel pada telur atau luka pada bagian eksternal tubuh ikan.
• Miselia (kumpulan hifa) berwarna putih atau putih kecoklatan.

Diagnosa :
• Pengamatan hifa dan/atau miselia cendawan pada tubuh ikan, terutama pada luka dan/atau di sekitar sirip ikan.
• Pengamatan hifa dan/atau miselia cendawan secara mikroskopis pada slide glass.
• Isolasi cendawan pada media agar dan diidentifikasi secara morfometris.



Gambar 1. Benih ikan patin (Pangasius spp.) yang terserang penyakit saprolegniasis akibat penanganan yang kurang baik.




Gambar 2. Ikan mas (Cyprinus carpio) yang terlebih dahulu terinfeksi oleh virus, selanjutnya diperparah dengan serangan penyakit saprolegniasis


Pengendalian :
• Menaikkan dan mempertahankan suhu air ≥ 28 oC dan/atau penggantian air baru yang lebih sering.
• Pengobatan dapat dilakukan dengan cara perendaman dengan :
  1. Kalium Permanganate (PK) pada dosis 1 gram/100 liter air selama 90 menit.;
  2. Formalin pada dosis 100-200 ppm selama 1-3 jam.;
  3. Garam dapur pada konsentrasi 1-10 promil (tergantung spesies dan ukuran) selama 10-60 menit;
  4. Methylene Blue pada dosis 3-5 ppm selama 24 jam.

Sumber :
Donna Oc, Buku Saku Penyakit Ikan; milis-ipkani@googlegroups.com
http://srirahmaningsih.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar