Sabtu, 24 Juli 2021

Penyakit Ikan - Monodon Baculo Virus

Fenomena penyakit kerdil pada udang monodon yang umum dikenal sebagai monodon slow growth syndrome (MSGS) telah dilaporkan menyebabkan kerugian yang signifikan terhadap produksi udang di banyak negara termasuk Indonesia. Sindrom pertumbuhan yang lambat dari P. monodon disebabkan karena infeksi virus, monodon baculovirus (MBV), infection hypodermal and hematopoietic necrosis virus (IHHNV) dan hepatopancreatic parvovirus (HPV).
Monodon Baculo Virus (MBV)Penyakit MBV tergolong penyakit yang disebabkan oleh virus, tepatnya Baculovirus tipe A yang mengandung DNA stranded ganda sebagai tipe asam nukleatnya (Lightner, 1996). Serangan penyakit MBV terjadi pada semua sta- dia udang, tetapi timbulnya penyakit ini paling sering pada stadia juvenil dan tua (Dana dan Hadiroseyani, 1989). Hal ini sesuai hasil pengamatan di lapangan, udang yang terserang penyakit MBV terdapat pada udang yang berumur 28-60 hari dan 110 hari, dan benur udang di hatchery juga tidak luput dari serangan virus ini.

Gejala klinis di lapangan tampak bahwa udang yang terserang penyakit MBV suka berenang ke pinggir tambak, nafsu makan rendah, isi lambung kosong dan udang tampak lemas. Selain itu Madeali et al. (1998) mengemukakan bahwa secara visual warna udang menjadi merah pada setiap segmen (segmen merah), insang dan tubuh ditempeli oleh organisme epikomensial. Lebih lanjut serangan MBV dapat menimbulkan kematian akut dalam jumlah besar setelah 1-7 hari sejak gejala awal tampak (Bastiawan et al., 1991). Namun demikian ada juga udang yang terserang penyakit MBV masih dapat bertahan hidup sampai men- capai umur panen, tetapi pertumbuhan, produksi dan penampilannya menurun secara signifikan (Lightner, 1996).

Monodon Baculovirus (MBV) sebagai salah jenis virus yang dikenal dapat menyebabkan penyakit udang kerdil. Virus ini telah menyebabkan penyakit epizootik pada larva maupun udang windu dewasa dan telah dilaporkan menyebar secara luas pada induk maupun larva udang windu Tanda-tanda udang yang terinfeksi virus MBV adalah pertumbuhan lambat, hilang nafsu makan, warna menjadi gelap, banyak organisme penempel yang tumbuh pada udang, infeksi bakteri meningkat (shell diseases), dan terjadi kematian. Infeksi MBV dapat ditoleransi oleh Penaeus monodon kecuali udang tersebut sangat stress.

Bio - Ekologi Patogen :
• Penyakit ini merupakan salah satu penyakit virus yang pertama kali dikenal pada budidaya udang penaeid di Indonesia, pada awalnya sangat ganas dan dapat mengakibatkan kematian PL dan juvenil udang windu hingga mencapai 90%.
• Penularan terjadi secara horizontal melalui air atau kanibalisme terhadap udang yang sedang sakit. Ada keyakinan bahwa trasmisi juga terjadi secara vertikal melalui induk yang sudah terinfeksi, meskipun belum terbukti secara ilmiah.
• Krustase yang diketahui sensitif terhadap infeksi jenis virus ini antara lain: Penaeus monodon, P. merguensis, P. semisulcatus, Metapenaeus ensis, dll. Beberapa jenis udang penaeid yang terekspose oleh virus tersebut juga berpotensi sebagai pembawa (carrier).

Gejala Klinis :
• Lemah, dan kurang nafsu makan
• Infeksi sekendur oleh organisme penempel (ekto parasit) pada organ insang ataupun permukaan tubuh lainnya.
• Terdapat bintik-bintik hitam di cangkang dan biasanya diikuti dengan infeksi bakteri, sehingga berlanjut pada terjadinya kerusakan alat tubuh udang.
• Hepatopankreas dan saluran pencernaan berwarna keputihan.

Diagnosa :
• Secara mikroskopis (preparat basah)
• Polymerase Chain Reaction (PCR)

Gambar 1. Juvenil udang windu yang terinfeksi Monodon Baculo Virus (MBV) dengan intensitas tinggi, terlihat warna garis keputihan pada saluran pencernaan

Gambar 2. Preparat basah dari isi saluran pencernaan udang windu dewasa yang terinfeksi oleh Monodon Baculo Virus (MBV) dengan intensitas tinggi, tampak adanya kluster spherical occlusion bodies (tanda panah)

Pengendalian :
• Zonasi melalui pengaturan daerah bebas dan daerah terinfeksi yang didasarkan pada kegiatan monitoring & surveillance yang dilakukan secara longitudinal dan integratif.
• Penggunaan induk dan benur yang bebas infeksi MBV
• Penerapan sistem budidaya yang dapat menjamin bebas dari masuknya media pembawa MBV (biosecurity)
• Menghindari stress (fisik, biologi dan kimia)
• Menjaga status kesehatan udang agar selalu dalam kondisi prima, kualitas lingkungan budidaya yang nyaman serta kualitas dan kuantitas pakan yang sesuai.
• Pemberian unsur imunostimulan (vitamin C), serta penggunaan materi bioremediasi/probiotik untuk mengurangi stressor biologis dan kimiawi sangat disarankan

Referensi

  1. Anonim., 1983. Petunjuk Ringkas Cara Penanggulangan Penyakit Parasit dan Bakterial pada Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
  2. Hartono, Philipus, M. Brite, dan Hendrianto., 2003. Penyakit dan kejadian penyakit dalam Penanganan Penyakit Ikan Budi Daya Laut. Departemen Kelautan dan Perikanan. Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya. Balai Budi Daya Laut, Lampung.
  3. Kusumah, Hadhie., 1976. Dasar-Dasar Perikanan Umum dan Pengembangannya.
  4. Penyakit dan Hama Ikan. Departemen Pertanian. Badan Pendidikan, Latihan, dan Penyuluhan Pertanian. Sekolah Usaha Perikanan Menengah, Bogor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar