Minggu, 27 Maret 2022

Ikan Hias Mas Koki - Biologi dan Perkembangbiakan


Ikan mas hias mas koki (Carassius auratus auratus) adalah ikan air tawar dari familia Cyprinidae dan ordo Cypriniformes. Ikan ini adalah salah satu ikan yang pertama kali berhasil didomestikasi, dipelihara, dan dibudidayakan manusia. Kini ikan mas hias atau kadang disebut secara singkat sebagai ikan mas, adalah salah satu ikan hias akuarium yang paling populer. Varietas Carassius auratus auratus yang telah didomestikasi dan menampilkan mutasi tubuh bersirip ekor ganda dan berbentuk memampat bulat disebut ikan maskoki.
Sebagai salah satu anggota keluarga ikan mas (yang juga termasuk ikan koi dan karper krusia), ikan mas hias adalah versi domestikasi budidaya dari ikan spesies Carassius auratus yang aslinya tidak terlalu berwarna yang habitat aslinya di Asia timur. Ikan ini pertama kali dipelihara di Tiongkok lebih dari seribu tahun yang lalu, dan sejak itu beberapa ras berbeda telah dikembangkan. Ikan mas hias memiliki variasi yang luar biasa, seperti perbedaan ukuran, bentuk tubuh, susunan sirip, dan warna (berbagai kombinasi warna antara lain putih, kuning, jingga, merah, cokelat, dan hitam).

Di Indonesia istilah "ikan mas" juga merujuk kepada ikan mas biasa atau "ikan karper" (Cyprinus carpio), yaitu kerabat ikan yang dapat dikonsumsi sebagai bahan pangan.

Sejarah dan evolusi

Detail lukisan gulung Kin Yu atau ikan mas, Tiongkok, tahun 1772

Sejarah
Pemeliharaan ikan mas dimulai di Tiongkok Kuno sejak ribuan tahun lalu. Beberapa spesies ikan mas (secara umum dikenal sebagai "ikan mas Asia") mulai didomestikasi dipelihara sebagai sumber pangan melalui akuakultur. Secara alami di alam, ikan-ikan ini berwarna kelabu atau perak, akan tetapi beberapa jenis memiliki kecenderungan untuk mengalami mutasi warna dengan menghasilkan warna merah, jingga, atau kuning. Fenomena ini pertama kali dicatat pada periode Dinasti Jin (265–420).

Akuarium di Eropa pada tahun 1850-an yang menampung ikan mas di antara ikan-ikan air dingin lain.

Pada masa Dinasti Tang (618–907), kebiasaan dan tren memelihara ikan mas sebagai ikan hias di kolam dan taman air menjadi populer. Mutasi genetik pada ikan mas yang didomestikasi manusia menghasilkan warna emas (tepatnya jingga kekuningan), sedangkan di alam ikan ini biasanya hanya menampilkan warna kelabu-perak. Hal ini terjadi karena di alam bebas, mutasi yang menghasilkan warna kuning-jingga ini jarang muncul, karena ikan dengan warna mencolok seperti ini mudah diburu pemangsa; ikan dengan kamuflase sesuai alamnyalah yang bertahan hidup. Orang Tiongkok mulai membiakkan dan membudidayakan varietas ikan berwarna emas daripada ikan yang berwarna keperakan, memeliharanya di kolam daripada membiarkannya di sungai atau danau. Pada kesempatan khusus ketika akan menerima kunjungan tamu, ikan mas ini dipindahkan dari kolam ke dalam wadah yang lebih kecil agar dapat dipamerkan kepada tamu

Pada masa Dinasti Song (960–1279), upaya domestikasi ikan mas telah mantap. Pada 1162, seorang ratu Dinasti Song memerintahkan pembangunan kolam-kolam untuk mengumpulkan ikan mas varietas berwarna merah dan kuning. Pada kala itu masyarakat umum di luar keluarga kerajaan dilarang untuk memelihara ikan mas dari varietas warna emas (kuning), karena warna kuning adalah warna kekaisaran Tiongkok. Mungkin karena hal inilah kini lebih banyak terdapat ikan mas warna jingga dan merah ketimbang warna kuning, meskipun sebenarnya secara genetik ikan mas warna kuning lebih mudah dibiakkan

Pada masa Dinasti Ming (1368-1644), ikan mas hias mulai dipelihara dalam ruangan, hal ini mengarah kepada seleksi mutasi genetik yang menyebabkan beberapa varietas ikan ini tidak dapat bertahan hidup di kolam luar ruang. Munculnya warna lain (selain warna merah dan emas) pertama kali dicatat pada 1276. Kemunculan ikan pertama berekor ganda yang indah pertama kali dicatat pada masa Dinasti Ming. Pada tahun 1603, ikan mas hias diperkenalkan ke Jepang, di mana varietas Ryukin dan Tosakin dikembangkan. Pada 1611, ikan mas hias diperkenalkan ke Portugal dan dari sana menyebar ke bagian-nagian lain di Eropa.

Pada tahun 1620-an, ikan mas hias disukai dan dianggap bergengsi di Eropa karena sisik kuning metaliknya bagai emas yang melambangkan keberuntungan. Pada saat itu adalah menjadi tradisi bagi seorang suami untuk memberikan hadiah ikan mas hias pada ulang tahun perkawinannya yang pertama, sebagai lambang kemakmuran pada tahun-tahun kebersamaan mendatang. Tradisi ini kemudian menghilang akibat ikan mas hias kian murah dan mudah didapatkan, sehingga kehilangan status dan gengsinya. Ikan mas hias mulai diperkenalkan ke Amerika Utara sekitar tahun 1850 dan segera populer di Amerika Serikat.

Spesies kerabat


Ikan karper prusia (Carassius auratus gibelio) liar
Ikan karper krusia (Carassius carassius) liar

Di Tiongkok, ikan mas dibiakkan dari ikan karper prusia (Carassius auratus gibelio), dan secara genetik merupakan kerabat terdekat ikan mas yang masih liar di alam bebas. Sebelumnya ada pendapat bahwa ikan karper krusia (Carassius carassius) sebagai versi liar dari ikan mas. Akan tetapi keduanya berbeda dalam beberapa hal, misalnya moncong C. auratus lebih mancung, sementara moncong C. carassius lebih membulat. C. gibelio sering kali berwarna kelabu kehijauan, sementara karper krusia selalu berwarna perunggu keemasan. Jika anakan karper krusia memiliki bintik hitam pada pangkal ekor yang akan menghilang seiring bertambahnya usia, pada C. auratus bintik ekor ini tidak pernah muncul. C. auratus memiliki kurang dari 31 sisik sepanjang bentangan garis lateral tubuh, sementara karper krusia memiliki 33 sisik atau lebih. Di alam, C. auratus gibelio berwarna hijau zaitun. Diperkenalkannya ikan mas ke alam dapat menimbulkan masalah bagi spesies asli. Ikan mas dapat kawin silang dengan beberapa spesies ikan karper. Dalam tiga generasi pemijahan, umumnya mayoritas keturunan hibrida beralih kembali berwarna hijau zaitun. Mutasi yang memunculkan jenis lain ikan mas domestik juga terjadi pada spesies siprinide lain, misalnya ikan karper biasa dan ikan tench. Koi juga mungkin kawin-mawin dengan ikan mas menghasilkan ikan hibrida yang steril (mandul).

Ada banyak varietas ikan mas domestik. Ikan hias kemungkinan besar sulit bertahan hidup di alam liar akibat warna-warninya yang cerah dan siripnya yang panjang; akan tetapi varietas lainnya yang lebih tahan seperti Shubunkin dan Komet dapat bertahan cukup lama hingga dapat kawin dengan kerabatnya. Varietas ikan mas biasa dan Komet dapat bertahan hidup, bahkan berkembang biak di iklim dan lingkungan kolam.

Biologi
Per April 2008, ikan mas hias terbesar di dunia menurut BBC berukuran 19 inci (48 cm), dan dipelihara di Belanda. Pada suatu waktu ikan mas hias bernama "Goldie", dipelihara di sebuah akuarium di Folkestone, Inggris, berukuran panjang 15 inci (38 cm) dan berat lebih dari 2 pon (0,91 kg), adalah ikan mas hias terbesar kedua di dunia setelah ikan mas dari Belanda.Ketua federasi masyarakat pecinta satwa akuatik Inggris (the Federation of British Aquatic Societies/FBAS) menyatakan mengenai ukuran Goldie "Saya pikir mungkin ada beberapa ikan yang lebih besar yang tidak dianggap sebagai pemegang rekor, mungkin di danau atau kolam hias".Pada Juli 2010, seekor ikan mas berukuran 16 inci (41 cm) dan berat 5 pon (2,3 kg) ditangkap di sebuah kolam di Poole, Inggris, mungkin dibuang oleh pemiliknya karena telah tumbuh terlalu besar dari akuariumnya.

Pakan
Aneka jenis pakan ikan

Di alam liar, ikan mas memangsa krustasea, serangga, dan berbagai jenis tumbuhan air. Seperti kebanyakan ikan, mereka adalah pemangsa oportunistik yang terus-menerus makan. Mereka tidak dapat secara sadar sengaja berhenti makan. Memberi makan berlebihan dapat membahayakan kesehatan ikan ini, seperti menyumbat ususnya. Hal ini biasanya terjadi pada ikan mas hias hasil pembiakan yang memiliki saluran pencernaan yang berbelit-belit. Jika makanan tersedia melimpah ruah, mereka akan memakan semuanya dan menghasilkan kotoran yang cukup banyak. Hal ini umumnya karena ketidaksempurnaan ikan mas dalam mencerna protein. Pemberian makan berlebihan dapat didiagnosis melalui meneliti panjangnya kotoran yang keluar dari kloaka ikan.

Makanan khusus ikan mas mengandung lebih sedikit protein dan lebih banyak karbohidrat daripada pakan ikan umumnya. Jenis makanan ini dijual dalam bentuk kepingan yang mengambang, dan pelet yang tenggelam. Peminat ikan mas dapat menambahkan variasi makanan berupa kacang polong hijau yang sudah dikupas kulit arinya, sayuran yang disiram air panas, atau jentik nyamuk. Anakan ikan mas dapat diberi makanan udang kecil.

Penglihatan
Daya penglihatan ikan mas adalah bidang yang paling banyak dipelajari dalam studi mengenai penglihatan ikan. Ikan mas bahkan memiliki kemampuan melihat warna lebih baik daripada manusia. Ikan mas memiliki empat macam sel kerucut penerima cahaya, yang masing-masing peka terhadap warna yang berbeda: merah, hijau, biru, dan ultraviolet. Kemampuan untuk membedakan empat warna primer menjadikan ikan mas sebagai hewan tetrakromatik.

Varietas
Pembiakan selektif selama berabad-abad telah menghasilkan beberapa warna. Beberapa varietas berwarna sudah demikian berbeda jauh dari warna keemasan dari ikan leluhur aslinya. Terdapat pula perbedaan dalam bentuk tubuh, sirip, dan konfigurasi mata. Beberapa varietas ekstrem hanya dapat bertahan hidup jika dipelihara di dalam akuarium, karena mereka lebih rapuh daripada varietas yang masih dekat dengan leluhurnya yang berasal dari ikan liar. Akan tetapi beberapa varietas lebih tangguh, misalnya varietas Shubunkin. Kini, terdapat sekitar 300 ras (varietas) ikan mas hias di Tiongkok. Kebanyakan ras ikan mas yang ada kini dibiakkan dan berasal dari Tiongkok, sementara beberapa varietas dikembangkan di Jepang. Di Indonesia, varietas ikan mas hias berekor ganda dan bertubuh bulat disebut ikan mas koki atau maskoki. 

Beberapa varietas antara lain:


Perkembangbiakan
Ikan mas hanya dapat tumbuh demasa mencapai kematangan seksual dengan cukup air dan gizi yang tepat. Kebanyakan ikan mas hias berkembang biak dalam pemijahan budidaya ikan, khususnya dalam kolam pemijahan. Perkembangbiakan biasanya terjadi setelah perubahan suhu yang signifikan, khususnya di musim semi. Ikan mas pejantan akan mengejar betina yang tengah berahi dan mengandung banyak telur, dan mendesak betina agar mengeluarkan telurnya dengan cara menyerempet dan menabraknya. Ketika kawin mereka bersama-sama mengeluarkan telur dan sperma dengan berenang berdampingan bersama agar telur terbuahi.

Ikan mas hias, seperti kebanyakan kerabat siprinide, adalah petelur. Telurnya memiliki lapisan yang bersifat melekat, lengket pada tumbuhan air yang lebat, misalnya Cabomba atau Elodea atau semacam sapu, jerami atau ijuk sebagai tempat pemijahan. Telur akan menetus dalam 48 sampai 72 jam.

Dalam beberapa minggu, embrio mulai mencapai bentuk finalnya. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan sempurna dewasa diperlukan waktu setahun. Saat menjadi anakan, anak ikan ini memiliki bentuk dan warna tubuh seperti leluhur liar mereka; berwarna metalik kecokelatan. Dalam beberapa minggu awal kehidupan anakan ikan ini tumbuh cepat besar — sebuah bentuk adaptasi timbul akibat risiko besar termakan oleh ikan mas dewasa (atau ikan lain dan serangga) dalam lingkungannya.

Beberapa jenis ikan mas hias biakan dengan tubuh ekstrem tidak dapat lagi berkembang biak secara alami akibat bentuk tubuhnya yang demikian berubah. Cara perkembangbiakan buatan disebut "pengeluaran dengan tangan" dapat membantu proses kawin, akan tetapi dapat menyakiti dan membahayakan induk ikan jika tidak dilakukan dengan benar. Di kolam pemijahan, ikan mas dewasa juga dapat memangsa anakan ikan yang mereka jumpai.

Telur ikan mas menunjukan pembelahan sel

Anakan ikan mas jenis Ryukin yang baru menetas

Referensi
  1. "Gulf States Marine Fisheries Commission: Fact Sheet. Carassius auratus (Linnaeus, 1758)". Nis.gsmfc.org. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2008-03-24. Diakses tanggal 2011-11-19.
  2. "Carassius auratus (Linnaeus, 1758)". Fishbase. Diakses tanggal 2011-11-19.
  3. "Goldfish". Ocean Park. Diakses tanggal 2009-11-16.
  4. Roots, Clive (2007). Domestication. Westport: Greenwood Press. hlm. 20–21. ISBN 978-0-313-33987-5.
  5. Nutrafin Aquatic News, Issue #4, 2004, Rolf C. Hagen, Inc. (USA) and Rolf C. Hagen Corp. (Montreal, Canada)
  6. Smartt, Joseph (2001). Goldfish varieties and genetics: A handbook for breeders. Oxford: Blackwell Science. hlm. 21. ISBN 978-0-85238-265-3.
  7. goldfish Diakses tanggal 2013-02-28.
  8. Lompat ke:a b c "Background information about goldfish". Bristol Aquarists' Society. Diakses tanggal 2006-07-28.
  9. Brunner, Bernd (2003). The Ocean at Home. New York: Princeton Architectural Press. ISBN 1-56898-502-9.
  10. Mulertt, Hugo (1883). The Goldfish And Its Systematic Culture With A View To Profit. Diakses tanggal 2009-07-07.
  11. Komiyama, Tomoyoshi (February 2009). "An evolutionary origin and selection process of goldfish". Gene. 430 (1–2): 5–11. doi:10.1016/j.gene.2008.10.019. PMID 19027055. Diakses tanggal 2010-08-09. [pranala nonaktif permanen]
  12. Les Pearce. "Common Gold Fish". Aquarticles. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2006-05-28. Diakses tanggal 20 June 2006.
  13. Lompat ke:a b c "Giant goldfish 'simply amazing'". BBC News. 17 April 2008. Diakses tanggal 17 July 2010.
  14. "Surrey schoolboy catches 5lb goldfish in Dorset lake". BBC News. 15 July 2010. Diakses tanggal 17 July 2010.
  15. Neumeyer, C. (2003). "Color Vision in Fishes and Its Neural Basis". Dalam Collin, S.P. and Marshall, N.J. Sensory Processing in Aquatic Environments. New York: Springer-Verlag. hlm. 223. In goldfish, as the best investigated fish species[...]
  16. Neumeyer, Christa (1988). Das Farbensehen des Goldfisches: Eine verhaltensphysiologische Analyse. G. Thieme. ISBN 313718701X.
  17. Fancy Goldfish Varieties, Bristol Aquarists' Society, Bristol-Aquarists.org, retrieved on: June 20, 2007
  18. Lompat ke:a b Andrews, Dr. Chris. "An Interpet Guide to Fancy Goldfish", Interpet Publishing, 2002 - ISBN 1-902389-64-6
  19. "What is a Lionchu?" by Peter Ponzio, an article from the Goldfish Pages Website (Goldfish Society of America), date retrieved: 28 February 2013" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2011-07-25. Diakses tanggal 2011-07-25.
  20. "GFSA - Ask the Judges", an article about the Lionchu by Larry Christensen, Peter Ponzio, Scott Taylor, Tony Reynolds and John Parker, from the Goldfish Pages Website (Goldfish Society of America), date retrieved: 28 February 2013" (PDF). Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2011-07-25. Diakses tanggal 2011-07-25.
  21. Andrews, Chris, Dr. An Interpet Guide to Fancy Goldfish, Interpet Publishing, 2002. - ISBN 1-902389-64-6
  22. "Nutrafin Aquatic News, Issue #4, 2004, Rolf C. Hagen, Inc. (USA) and Rolf C. Hagen Corp. (Montreal, Canada)". Hagen.com. Diakses tanggal 2011-11-19.
  23. Johnson, Dr. Erik L., D.V.M. and Richard E. Hess. Fancy Goldfish: A Complete Guide to Care and Collecting, Shambhala Publications, Inc., 2001 - ISBN 0-8348-0448-4
  24. Loh, Richmond. "Goldfish (Carassius auratus)" (PDF). The Fish Vet.com. Diakses tanggal December 31, 2013.
Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_mas_hias




Tidak ada komentar:

Posting Komentar