Senin, 13 Juni 2022

Ikan Gurame - Pembenihan dengan Sistem Resirkulasi

Ikan gurami (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu spesies ikan air tawar asli Indonesia yang bernilai ekonomis tinggi. Salah satu kendala dalam budidaya ikan gurami adalah tingginya kematian benih akibat kualitas air media pemeliharaan yang buruk. Kualitas air media pemeliharaan yang buruk dapat diatasi melalui penggunaan sistem resirkulasi.
Budidaya ikan gurami merupakan salah satu usaha perikanan yang menguntungkan jika dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya. Hal ini ditandai dengan harga jual ikan gurami yang lebih mahal dan lebih stabil dipasaran (Pratama dkk., 2018). Keunggulan ikan gurami adalah rasa dan kandungan gizinya tinggi, bersifat herbivora sehingga biaya pemeliharaannya relatif rendah dan dapat hidup di lingkungan perairan berkadar oksigen rendah dengan adanya alat pernafasan tambahan (Nugroho, 2012).

Budidaya merupakan biota akuatik yang diproduksi di lingkungan terkontrol melalui kegiatan pemeliharaan, menumbuhkan dan peningkatan mutu biota tersebut (Effendi, 2004). Dari segi ekonomis, ikan gurami merupakan jenis ikan air tawar yang bernilai lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar lainnya (Ahmad dkk., 2017, Mareta dkk., 2018).  Budidaya ikan gurami merupakan salah satu kegiatan budidaya yang banyak diminati para pelaku budidaya, namun banyak permasalahan yang dihadapi. Salah satu masalah adalah ikan gurami memiliki pertumbuhan yang lambat (Afriyanti dkk., 2020). Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan yaitu kualitas air (Setyowati dkk., 2007). Apabila kualitas air kurang baik maka akan menghambat pertumbuhan ikan gurami. Hal ini dijelaskan oleh Khairuman dan Amri (2003), jika didukung dengan kualitas air yang baik, maka pertumbuhan  ikan akan cepat. Salah satu solusi agar pertumbuhan ikan akan cepat yaitu dengan pengelolaan kualitas air baik dengan cara pemeliharaan secara intensif melalui sistem resirkulasi (Denoh dkk., 2019).

Sistem resirkulasi budidaya atau recirculating aquaculture system (RAS) merupakan sistem pemeliharaan budidaya ikan yang menggunakan sistem dengan perputaran air dari wadah pemeliharaan yang lalu dialirkan ke dalam wadah filter, dan kemudian dialirkan kembali ke wadah pemeliharaan yang dibantu oleh pompa (Norjanna dkk., 2015, Sulistyo et al., 2017). Sistem resirkulasi dikembangkan agar kualitas air tetap terjaga dan optimal dengan cara meningkatkan kandungan oksigen terlarut pada air, serta dapat mengurangi kadar ammonia dan limbah organik yang dihasilkan oleh ikan (Verawati, 2017). Secara prinsip dasar mekanisme RAS adalah kandungan amonium yang dikonversi menjadi nitrit dan menjadi nitrat yang rendah racun sehingga air bisa digunakan kembali untuk kegiatan budidaya (Hapsari et al., 2020). Tujuan dari penelitian untuk mengevaluasi pertumbuhan dan kualitas air kegiatan penggelondongan ikan gurami (Osprhonemus gouramy) dengan teknologi Resirculating Aquaculture System (RAS).

Apa Itu Teknologi RAS untuk Perikanan Budidaya?
Beragam inovasi terus dikembangkan Pemerintah Indonesia untuk mengangkat sektor perikanan budidaya sejajar dengan sektor yang sama di level internasional. Yang paling mutakhir, inovasi berhasil dibuat untuk sistem teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS). Di negara perikanan maju seperti Norwegia, teknologi tersebut sudah biasa digunakan.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto di Jakarta belum lama ini menjelaskan, teknologi modern yang berhasil dikembangkan itu, merupakan buah kerja keras dari tim Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Minahasa, Sulawesi Utara. “Ini adalah teknologi modern yang ada di negara (perikanan) maju. Kita sudah bisa mengadopsinya dengan model dan perangkat prasarana yang lebih murah,” ungkap dia. Slamet memaparkan, teknologi RAS adalah teknologi dengan menerapkan sistem budidaya ikan secara intensif dengan menggunakan infrastruktur yang memungkinkan pemanfaatan air secara terus-menerus (resirkulasi air). Dia menyebut, pemanfaatan tersebut seperti fisika filter, biologi filter, ultra violet (UV), generator oksigen yang berfungsi untuk mengontrol dan menstabilkan kondisi lingkungan ikan. “Itu untuk mengurangi jumlah penggunaan air dan meningkatkan tingkat kehidupan ikan,” tutur dia.

Dengan keberhasilan mengembangkan teknologi tersebut, Slamet menyimpan harapan, suatu saat nanti sistem tersebut bisa menggenjot produksi benih berkualitas secara signifikan. Dengan demikian, kebutuhan benih secara nasional dapat terpenuhi. Kepala BPBAT Tatelu Fernando S mengungkapkan, prinsip dasar teknologi RAS diseluruh dunia memiliki kesamaan, yaitu memanfaatkan air sebagai media pemeliharaan secara berulang-ulang dengan mengendalikan beberapa indikator kualitas air agar tetap pada kondisi prima. Untuk teknologi tersebut, Fernando mengatakan, pihaknya sudah melakukan modifikasi sesuai kondisi yang ada. Selain itu, untuk menekan biaya menjadi lebih murah, peralatan yang gunakan juga menggunakan produk dalam negeri. “Tujuannya sudah jelas, produk dalam negeri bisa menekan biaya dari sisi investasi,” jela dia.

Murahnya biaya untuk menggunakan teknologi RAS dalam perikanan budidaya, dipaparkan Fernando lebih detil. Kata dia, dengan biaya sebesar Rp80 juta, pembudidaya sudah bisa membiayai pemasangan teknologi RAS yang dikembangkan. “Biaya tersebut, meliputi pembelian alat-alat yang digunakan seperti O2 generator, tanki filter, venturi, blower, ultraviolet, dan material lainnya,” ujar dia.


Bak budidaya perikanan dengan system Recirculating Aquaculture System (RAS). Sistem yang dikembangkan BPBAT Tatelu, Minahasa, Sulut ini dapat meningkatkan produksi hingga 100 kali lipat dari budidaya ikan konvensional. Foto : DJPB KKP

Dengan biaya tersebut, Fernando menuturkan, pembudidaya sudah bisa memiliki peralatan yang bisa digunakan untuk pemakaian selama enam tahun. Nilai tersebut, kata dia, jauh lebih murah dibandingkan dengan sistem serupa yang didatangkan langsung dari negara lain yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. “Saya katakan ini RAS hasil karya anak negeri, dengan hasil yang tidak jauh beda dengan system RAS lain, namun dengan harga yang jauh lebih murah,”sebut dia.

Produksi Naik 100 Kali Lipat
Lebih jauh Fernando mengungkapkan, dengan menggunakan teknolog RAS, pembudidaya ikan bukan saja mampu memenuhi kebutuhan benih berkualitas, namun juga bisa meningkatkan produksinya sebanyak mungkin. Dia menyebut, dibandingkan dengan sistem konvensional yang lebih dulu digunakan para pembudidaya ikan, sistem RAS bisa menaikkan produksinya hingga 100 kali lipat. Dia mencontohkan, dengan menggunakan RAS pada kolam nila, produksi akan mencapai 5.000 ekor per meter kubik. Tapi sebaliknya, jika menggunakan sistem konvensional, produksi hanya mampu mencapai 50 ekor saja.

“Itu berarti, dengan penerapan sistem RAS, produktivitas bisa digenjot hingga 100 kali lipat dibanding dengan sistem konvensional. Kelebihan lainyabudidaya dengan sistem ini sangat menghemat penggunaan air, dan dapat dilakukan pada areal yang terbatas,” papar dia. Dengan pertimbangan untuk pembudidaya lokal, Fernando menyebut, pihaknya sengaja mengembangkan teknologi RAS dengan rancangan mampu melakukan produksi minimal 1 juta ekor benih ikan nila ukuran 2-3 cm dengan masa pemeliharaan maksimal 1 bulan per siklus. “Adapun, unit RAS yang tersedia saat ini adalah sebanyak 20 bak fiber berbentuk bulat dengan diameter masing-masing bak 100 cm,” ungkap dia.

Secara ekonomi, Fernando mengatakan, dengan biaya instalasi sistem RAS senilai lebih kurang Rp80 juta dengan biaya penyusutan mencapai Rp13,3 juta pertahun dan biaya operasional berkisar Rp1,5 juta per bulan, maka setidaknya akan diraup pendapatan kotor hingga 100 juta per tahun atau lebih dari Rp8 juta rupiah per bulan. Tak hanya meningkatkan daya saing secara ekonomi, Fernando menambahkan, penggunaan teknologi RAS akan membantu para pembudidaya untuk senantiasa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, serumit apapun tantangan di masa depan, itu akan bisa diatasi melalui RAS. “Teknologi ini dinilai akan mampu mengatasi fenomena alam yang tak menentu seperti perubahan iklim dan kualitas lingkungan,” tandas dia.

Dengan segala keuntungan tersebut, baik Fernando maupun Slamet Soebjakto mengharapkan teknologi RAS bisa berkembang lebih besar lagi dan digunakan oleh para pembudidaya ikan di seluruh Indonesia. Untuk saat ini, teknologi tersebut sudah diadopsi oleh Balai Perikanan KKP dan diharapkan produksi di masing-masing Balai tersebut bisa meningkat. Untuk diketahui, selama kurun waktu tahun 2011 – 2015 produksi benih ikan air tawar secara nasional mengalami kenaikan rerata pertahun mencapai 20,26 persen. Tahun 2015 produksi benih ikan air tawar mencapai 72,3 miliar ekor. Sedangkan untuk semua jenis ikan (tawar, payau dan laut) diproyeksikan pada Tahun 2019 mencapai 141,1 miliar ekor.


Penggunaan sistem resirkulasi pada pembenihan gurame harus dirancang dengan menggunakan teknologi yang tepat guna baik wadah yang digunakan maupun teknik budidayanya, mudah penanganannya dan biaya ekonomi yang rendah. Peningkatan nilai ekonomis dapat dilakukan melalui peningkatan padat penebaran benih yang dipelihara.

Peningkatan padat penebaran dari 15 ekor/liter menjadi 20 ekor/liter atau 25 ekor/liter berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan bobot dan panjang, sedangkan peningkatan padat penebaran dari 15 ekor/liter menjadi 20 ekor/liter tidak berpengaruh nyata terhadap tingkat sintasan, namun berbeda nyata bila ditingkatkan menjadi 25 ekor/liter. Sehingga, peningkatan padat penebaran hingga 20 ekor/liter masih dapat dilakukan pada pemeliharaan benih gurame dalam sistem resirkulasi dari umur 10 hari hingga 40 hari atau pendederan pertama.


Peralatan yang digunakan pada sistem ini relatif mudah ditemukan dan sudah biasa digunakan, kecuali pompa air dan aerator, di tingkat pembenih gurame, diantaranya: baskom. Desain sistem dibuat sedemikian rupa hanya untuk melanjutkan proses penetasan telur yang biasa menggunakan sistem tergenang (dalam baskom) hingga proses pendederan selama 40 hari.

Sistem resirkulasi dijalankan menggunakan pompa dengan debit 10 – 15 liter/menit pada unit filtrasi. Unit filtrasi dirancang sebagai filtrasi biologis (biofiltration) dengan sistem tenggelam (submerged filter) untuk memanfaatkan kerja bakteri melalui proses amonifikasi dan nitrifikasi. Air media pemeliharaan dialirkan secara gravitasi dari setiap wadah pemeliharaan melalui pipa ke bak filter.

Bak filter disusun menjadi beberapa bagian, yaitu: bagian penyaringan fisika, bagian penyaringan biologi dan bagian penampungan. Pada bagian atas filter fisika menggunakan spon untuk menyaring kotoran yang berukuran besar, seperti kotoran ikan. Pada bagian bawah menggunakan cangkang kerang air tawar, sebagai alternatif dapat juga digunakan arang atau kerikil ukuran besar. Filter biologi bagian pertama memanfaatkan cangkang kerang sedangkan pada bagian kedua menggunakan kerikil lebih kecil atau ijuk untuk memperluas permukaan yang memungkinakan tempat penempelan bakteri nitrifikasi. Pada bagian penampungan ditambahkan aerasi (alat: aerator akuarium 1 titik) guna menambah suplai oksigen. Setelah penyaringan, air media dialirkan kembali menggunakan pompa ke wadah pemeliharaan ikan. Penambahan air baru hanya dilakukan untuk mengganti air yang menguap.

Sistem ini memungkinkan untuk dilakukan dalam skala rumah tangga, sebagai usaha sampingan bagi ibu rumah tangga. Karena sistem pembuangan dibuat di bagian bawah dengan aliran air yang memutar, kotoran ikan dapat terbawa dan tersangkur pada filter fisika. Secara periodik, peran ibu rumah tangga adalah membersihkan spon yang ditempeli kotoran.

Recirculation aquaculture system (RAS) meningkatkan padat tebar secara fantastis, masa pendederan hanya 30 hari untuk mencapai ukuran 2 – 4 cm (sistem konvensional butuh 50 hari), pendapatan naik 155 kali lipat. Pendederan benih gurami sistem RAS ini telah diuji Tim Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, dan sekaligus diterapkan pada produksi benih gurami untuk mencukupi kebutuhan benih gurami di Provinsi Sulawesi Utara.

Kepala BPBAT Tatelu, Fernando J Simanjuntak melalui keterangan tertulis pada 17/5 menyebutkan penerapan RAS ini memang ditujukan untuk meningkatkan padat tebar benih, kelangsungan hidup / sintasan, keseragaman dan laju pertumbuhan.. Jika dikomparasi dengan sistem konvensional, pendederan ikan gurami dengan teknologi RAS dapat meningkatkan padat tebar hingga 28 – 30 ekor per liter, sedangkan sistem konvensional padat tebar hanya 0,2 ekor per liter.

Masa pemeliharaan benih juga relatif lebih pendek yaitu 30 hari telah mencapai ukuran 2 – 4 cm, dengan tingkat kelulusan hidup mencapai 95% dan tingkat keseragaman ukuran hingga 90%. Dalam sistem konvensional, waktu pemeliharaan mencapai 50 hari, kelulusan hidup hanya 60% dan keseragaman ukuran 80%. Produktivitas produksi dengan teknologi RAS naik hingga 140 kali lipat dibanding konvensional.

Teknik RAS
Lebih teknis, Fernando menjelaskan komponen RAS yang digunakan terdiri dari wadah pemeliharaan, tabung filter, lampu UV, reservoir dan heater (pengatur suhu) serta pompa air. Filter akan berfungsi sebagai unit pembersihan dan perbaikan kualitas air, kemudian tempat berkembangnya bakteri pengurai amonik sisa pakan dan feses atau sisa metabolisme lainnya.

“Tabung filter dan UV terbagi atas 2 (dua) yaitu 2 (dua) filter kimia yaitu 75% zeolit dan 25% arang aktif dan 1 (satu) filter biologi yaitu dengan penggunaan bioball,”ungkapnya. Wadah pemeliharaan benih dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan telah terintergrasi dengan sistem resirkulasi. Sedangkan reservoir, heater dan pompa air berada diluar wadah pemeliharaan ikan.

Secara ekonomi usaha pendederan ikan gurami dengan teknologi RAS sangat menguntungkan. Dengan biaya investasi untuk wadah pemeliharaan berupa container plastik ukuran 47 cm x 65 cm x 40 cm sebanyak 18 buah. Kemudian pembelian rak besi, bak reservoir, tabung filter, media filter (zeolit dan arang aktif), pompa, lampu UV dan heater membutuhkan biaya sebesar Rp 33,6 juta, dengan biaya penyusutan per siklus (2 bulan) sebesar Rp 1,2 juta. Sedangkan untuk operasional sebesar Rp 14 juta per siklus untuk pembelian telur gurami, cacing sutera, obat-obatan dan biaya listrik.

Pada penebaran telur gurami sebanyak 30.000 butir, dihasilkan benih gurami ukuran 2 – 4 cm sebanyak 25.500 ekor per siklus. Jika harga per ekornya adalah Rp 2 ribu, maka penghasilan setiap kali siklus adalah Rp 51 juta. “Keuntungan per siklus sebesar Rp 34,5 juta selama 2 bulan, sedangkan keuntungan setahun mencapai Rp 207 juta. Ini sangat menguntungkan secara ekonomi karena pay back periode (waktu pengembalian modal) hanya ± 0,7 tahun,” sebut Fernando.

Dilihat dari variabel air, Fernando menjelaskan pendapatan pembenihan gurami dengan teknologi RAS mampu mencapai Rp 49.000 per liter air dalam wadah budidaya. Pada sistem konvensional pendapatan dari perliter air budidaya hanya Rp 317. Peningkatan pendapatan rata-rata sebesar 155 kali lipat. Hal ini dimungkinkan karena padat tebar dengan teknologi RAS jauh lebih tinggi. Dia menyimpulkan, pemanfaatan teknologi RAS pada pembenihan ikan terbukti jauh lebih efisien dalam penggunaan air dan lahan dibandingkan sistem konvensional.

Desain RAS
Desain teknologi RAS (Resirculation Aquaculture System) yang digunakan pada penelitian ini dilengkapi dengan bak reservoir, pompa air, tabung filter, blower dan panel. Bak reservoir berfungsi untuk menampung air sebelum masuk ke dalam wadah budidaya, agar air yang masuk tetap steril. Pompa berfungsi untuk mengalirkan air dari keseluruhan sistem resirkulasi yang menghubungankan bak tandon ke tabung filter, dan menghubungkan tabung filter ke wadah pemeliharaan (akuarium).

Tabung filter berfungsi untuk menyaring kotoran dari bak reservoir untuk memperbaiki kualitas air kemudian disalurkan ke wadah pemeliharaan (akuarium). Adapun bahan yang terdapat pada tabung filter berupa zeolit dan arang aktif. Blower pada dasarnya hampir sama dengan aerator yaitu berfungsi menghasilkan gelembung udara atau pemompa udara yang akhirnya bertujuan untuk meningkatkan kandungan oksigen di wadah budidaya ikan. Panel berfungsi untuk mengontrol peralatan yang terpasang pada instalasi RAS. Adapun desain RAS dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:


Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan benih ikan gurame pada akuarium dengan sistem resirkulasi mempunyai kualitas air (suhu, oksigen terlarut, dan amoniak) yang terbaik, angka kelulushidupan (average daily growth, average body weight, specific growth ratio, survival rate) yang terbaik, dan membutuhkan modal terbesar pada investasi awal tetapi menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Pembenihan ikan gurame dengan sistem resirkulasi direkomendasikan karena meningkatkan kualitas air, menghasilkan tingkat kelulushidupan yang tinggi dan menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi. Penggelondongan ikan gurame menggunakan teknologi RAS menghasilkan laju pertumbuhan spesifik 6,7%, pertumbuhan bobot tubuh 3,65 g, pertumbuhan panjang 5,91 cm dan kelangsungan hidup 86%. Kualitas air yaitu suhu berkisar 26,8-29oc, ph 7-8,4 dan DO 63,-7,5 ppm.





Referensi
  1. Denoh M, Sumantriyadi, Sofian. 2019. Teknologi resirkulasi sistem pada lahan terbatas untuk meningkatkan produksi ikan gurami (Osphronemus gouramy). Jurnal Akuakultura 3 (2): 49-53.
  2. Efendie N. 1979. Biologi Perikanan. Bogor, Indonesia: Yayasan Pustaka Nusantara.
  3. Effendi I, Bugri HJ, Widanarni. 2006. Pengaruh padat penebaran terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan gurami Osphronemus gouramy Lac. ukuran 2 cm. Jurnal Akuakultur Indonesia 5(2): 127-135.
  4. Hapsari AW, Hutabarat J, Harwanto D. 2020. Aplikasi komposisi filter yang berbeda terhadap kualitas air, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan nila (Oreochromis niloticus) pada sistem resirkulasi. Sains Akuakultur Tropis 4(1): 39–50.
  5. Sulistyo J, Muarif, Mumpuni F. S. 2016. Pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) pada sistem resirkulasi dengan padat tebar 5, 7, dan 9 ekor/liter. Jurnal Pertanian 7(2): 87-93.
  6. Verawati. 2017. Pengaruh perbedaan padat penebaran terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan gurami (Osphronemus gouramy) pada sistem resirkulasi. Jurnal Mina Sains1(1): 6–12.
  7. http://ejournal-balitbang.kkp.go.id/index.php/pelagicus/article/view/9303
  8. https://www.researchgate.net/publication/310392109_PERFORMA_PEMELIHARAAN_LARVA_IKAN_GURAMI_Oshpronemous_gouramy_DENGAN_SISTEM_RESIRKULASI












Tidak ada komentar:

Posting Komentar