Jumat, 30 Desember 2022

Channa striata - Prosedur Pembenihan (Bag 3. Teknik Penetasan Telur )

Penetasan merupakan perubahan intracapsular (tempat yang terbatas) ke fase kehidupan. Hal ini penting dalam perubahan-perubahan morfologi hewan. Penetasan merupakan saat terakhir masa pengeraman sebagai hasil beberapa proses embrio keluar dari cangkangnya. Penetasan terjadi karena kerja mekanik dan kerja enzimatik.


Kerja mekanik disebabkan embrio sering mengubah posisinya karena kekurangan ruang dalam cangkangnya atau karena ebrio lebih panjang dari ruang di dalam cangkang. Kerja enzimatik merupakan enzim atau unsur kimia yang disebut Chorion dikeluarkan oleh endodermal di daerah parink embrio. Gabungan kerja mekanik dan enzimatik menyebabkan telur ikan menetas.

1. Persyaratan Penetasan Telur
Faktor luar yang berpengaruh terhadap penetasan telur ikan gabus adalah suhu, oksigen terlarut, pH, salinitas dan intensitas cahaya. Proses penetasan umumnya berlangsung lebih cepat pada suhu yang lebih tinggi dimana metabolisme berjalan lebih cepat sehinga perkembangan embrio akan lebih cepat sehingga pergerakan embrio di dalam cangkang akan lebih aktif. Namun demikian, suhu yang terlalu tinggi atau berubah secara mendadak dapat menghambat proses penetasan dan dapat menyebabkan kematian embrio sehinga gagal menetas. Suhu yang baik untuk penetasan telur ikan adalah 27oC – 30oC.

Kelarutan oksigen dan intensitas cahaya akan mempengaruhi proses penetasan. Oksigen dapat mempengaruhi sejumlah organ embrio. Cahaya yang kuat dapat menyebabkan laju penetasan yang cepat, kematian dan pertumbuhan embrio yang buruk serta pigmentasi yang banyak yang menyebabkan terganggunya proses penetasan.

2. Metode penetasan telur
Teknik penetasan pada beberapa jenis ikan berbeda-beda sesuai sifat telur ikan. Telur ikan mas, gabus, gabus, patin menempel pada substrat, kemudian ditetasan di dalam wadah penetasan.

Penetasan telur yang dilakukan secara alami maupun semi buatan dilakukan dengan memisahkan induk dan telur. Setelah induk selesai memijah, telur ikan gabus yang menempel di substrat (kakaban) diangkat untuk ditetaskan di wadah penetasan. Induk ikan gabus yang telah selesai memijah harus ditangkap dan dikembalikan lagi ke kolam pemeliharaan induk. Bak penetasan telur dapat berupa kolam tembok, fiberglas atau kolam terpal. Bak penetasan diisi air bersih setinggi 20 – 30 cm. Air bisa berasal dari air tanah atau sumber air lainnya, yang penting air tersebut tidak mengendung kaporit atau zat kimia berbahaya lainnya.

Seluruh telur pada kakaban yang ditetaskan harus terendam air. Telur yang dibuahi akan berwarna kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang tidak dibuahi berwarna putih pucat. Pada proses penetasan telur diperlukan suplai oksigen yang cukup maka pada setiap wadah penetasan diberi aerasi. Telur ikan gabus, gabus, patin dan bawal akan menetas menjadi larva antara 18 – 24 jam dari saat pembuahan.

a. Persyaratan penetasan telur yang meliputi :
Persyaratan wadah penetasan dan setingnya. 
Wadah penetasan sebaiknya kedap air (bisa digunakan bak beton, ak fiber atau bak terpal), ketinggian bak tidak lebih dari 1 meter sehingga memudahkan dalam bekerja, ketinggian air dalam bak penetasan 20 sd 30 cm, dan diseting aerasi.

Telur yang akan ditetaskan. 
Telur yang baik untuk ditetaskan adalah yang berwarna hijau cerah, ukuran butiran telur seragam dan tidak menempel antar butiran. Telur ikan gabus dumbo membutuhkan subtrat untuk menempel, untuk itu digunakan kakaban dengan tekstur yang tidak licin.

b. Metode penetasan telur
Metode penetasan telur dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu :
1) Memindahkan kakaban telur dari bak pemijahan ke dalam bak penetasan.
a) Kelebihan metode ini adalah media penetasan telur lebih bersih dari lendir dan sisa cairan semen induk gabus pada saat dipijahkan sehingga mengurangi tumbuhnya jamur dan parasit.
b) Kekurangannya, jika pemindahan kakaban tidak dilakukan dengan hati-hati dan cermat maka akan meyebabkan kerusakan telur.

2) Menetaskan telur dengan kakaban tetap di dalam bak pemijahan
a) Kelebihan metode ini adalah pada proses penetasan hanya melakukan pemindahan induk ke kolam pemulihan, sedangkan kakaban tetap tidak terusik di dalam kolam pemijahan.
b) Kekurangan metode ini adalah lendir telur dan cairan semen terakumulasi di dalam media penetasan sehingga besar peluang tumbuh jamur dan parasit, yang dapat menyebabkan gagal menetas.

Pada saat melakukan pemindahan kakaban pada wadah penetasan, lakukan dengan cermat, cepat dan tetap hati-hati, jangan sampai kakaban terbentuk dinding bak atau terjatuh yang dapat menyebabkan telur terhambur. Pemindahan kakaban juga harus cepat, agar telur tidak sampai kering atau terhidrasi, sehingga jarak wadah pemijahan dan penetasan telur jangan terlalu jauh.

Pada saat mengamati perkembangan telur setiap jam, dalam perkembangannya telur yang dibuahi akan berwarna hijau cerah, sedangkan telu yang tidak dibuahi akan berwarna putih susu.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya tetas telur
a. Kualitas telur
Kualitas telur dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan pada induk dan tingkat kematangan telur.

b. Lingkungan
Yaitu kualitas air yang terdiri dari suhu, oksigen, pH, amonia, kecerahan dll.
Pada saat proses melakukan penggantian air, perlu diperhatikan bahwa supaya volume air media penetasan dan kualitasnya tetap terjaga maka perlu dibuat aliran pembuangan air dari wadah penetasan keluar sedeikian sehingga debit air masuk dan keluar akan seimbang.

c. Gerakan Air
Gerakan air yang terlalu kuat menyebabkan terjadinya benturan diantara telur atau benda lainnya sehingga menyebabkan pecahnya telur.

4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Sebagai salah satu tindakan pengendalian hama dan penyakit pada proses penetasan telur, lakukan pengamatan permukaan cangkang telur dan catat prosentase telur yang baik dan tidak baik. Buang telur jika telur yang tidak baik lebih dari 50% Amati tumbuhnya jamur pada permukaan cangkang telur, jika terlihat lendirnya tebal dan tampak serabut, lakukan penyiponan. Namun jika jumlah telur dengan kondisi tersebut lebih banyak dibanding jumlah telur yang baik, maka segera lakukan flashing dan cuci wadah hingga bersih serta lakukan perendaman dengan larutan kaporit 20 ppm.

Hama dan Penyakit yang Perlu dikendalikan
1. Identifikasi biota lain yang berada pada media penetasan atau menempel pada telur
2. Singkirkan biota tersebut dari media penetasan
3. Amati permukaan cangkang telur dan catat prosentase telur yang baik dan tidak baik
4. Buang telur jika telur yang tidak baik lebih dari 50%

Persyaratan dan Metode Penetasan Telur
1. Siapkan wadah dan media sesuai persyaratan dan metode penetasan telur.
2. Identifikasi kualitas air media penetasan.


Penetasan Telur dan Pengelolaanya
A. Metode alami dan semi buatan:
  • Tempatkan kakaban pada media penetasan dengan posisi kakaban yang ditempeli telur berada di bawah
  • Atur unit aerasi sesuai dengan persyaratan
  • Lakukan pengaturan pemanas air
  • Amati perkembangan telur selama masa penetasan
B. Metode buatan
  • Tebar telur hasil pemijahan buatan pada substrat penetasan telur
  • Balikkan substrat penetasan setelah 1 jam dari penebaran telur
  • Atur unit aerasi sesuai dengan persyaratan
  • Lakukan pengaturan pemanas air
  • Amati perkembangan telur selama masa penetasan
  • Atur posisi substrat penetasan telur agar tetap terendam
  • Siapkan alat-alat yang dibutuhkan untuk penetasan telur.
  • Cuci wadah penetasan hingga bersih.
  • Bilas wadah dengan menggunakan larutan kaporit 2 ppm
  • Jemur wadah penetasan selama 24 jam atau hingga wadah benar-benar kering
  • Bilas kembali wadah penetasan dengan menggunakan air bersih.
  • Isi wadah penetasan dengan media yang bersih hingga mencapai ketinggian air 20 sd 30 cm.
  • Setting aerasi dengan gelembung yang sedang agar tidak menimbulkan arus yang kuat.
  • Setting wadah penetasan, dan lakukan bersamaan dengan setting wadah pemijahan.
  • Pindahkan kakaban pada wadah penetasan dengan cermat, cepat dan tetap hati-hati.
  • Amati perkembangan telur setiap jam.
  • Pisahkan telur yang berwarna putih susu dengan cara menyipon telur atau menggunting kakaban jika telur masih melekat pada kakaban.
  • Telur akan menetas sekitar 18 sd 24 jam.


Referensi

  1. Bijaksana, U. 2011. Pengaruh beberapa parameter Air pada Pemeliharaan Larva Ikan Gabus (Channa striatas Blkr) di dalam Wadah Budidaya. Temu Teknisi Balai Benih Ikan Air Tawar se-Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan.
  2. Hartini S, Sasanti A.D, Taqwa FH. 2013. Kualitas Air, Kelangsungan Hidup Dan Pertumbuhan Benih Ikan Gabus (Channa Striata) Yang Dipelihara Dalam Media Dengan Penambahan Probiotik. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 1(2) :192-202.
  3. Makmur, S. 2004. Pertumbuhan Ikan Gabus (Channa striata Bloch) Di Daerah Banjiran Talang Fatima DAS Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Pusat Riset Perikanan Budidaya. 10(6): 1-6.
  4. Muflikhah, N., S. Makmur, dan N.K. Suryati. 2008. Gabus. Badan Riset Kelautan dan Pusat Riset Perikanan Tangkap Balai Riset Perikanan Perairan Umum.
  5. Harianti.2013. Fekunditas dan Diameter Telur Ikan Gabus (Channa striata Bloch, 1793) Di Danau Tempe, Kabupaten Wajo. Jurnal Saintek Perikanan Vol. 8, No. 2, 2013 :18-24.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar