Kamis, 20 Oktober 2022

Belut - Jenis Belut yang Umum di Budidayakan

Rasa ikan belut yang gurih dan manfaatnya yang luar biasa membuat hewan licin ini menggiurkan untuk dibisniskan. Baik untuk tujuan konsumsi seperti di warung dan restoran, ataupun tujuan medis, permintaan akan belut terus meninggi. Belut merupakan hewan air yang digolongkan ke dalam bangsa ikan. Sebagian orang menganggap hewan ini menjijikan karena habitat hidupnya di lumpur dan air tergenang seperti rawa-rawa atau sawah.
Bentuk tubuh belut menyerupai ular. Bedanya belut tidak mempunyai sisik. Ia memiliki insang dan membutuhkan air seperti halnya ikan. Itulah mengapa, pemijahannya hanya bisa terjadi saat musim hujan atau pada tempat yang ada airnya.

Sekarang saya akan mengajak anda memahami 3 hal, yang akan memamdu anda berbisnis belut.
1. Manfaat belut
2. Jenis Belut yang dapat dibudidaya
3. Cara budidaya belut, lengkap dan urut

Manfaat Belut
Belut termasuk makanan halal yang dapat dikonsumsi semua kalangan, termasuk muslim. Seperti ikan pada umumnya, belut mempunyai kandungan gizi yang baik untuk kesehatan tubuh. Kandungan zat protein dalam belut terbilang tinggi sehingga bagus dikonsumsi anak.

Kandungan zat besi bisa mencegah anemia, fosfor membantu tulang, kandungan vitamin A membantu pertumbuhan penglihatan, lalu vitamin B yang ada pada belut juga bagus untuk otak Zat nutrisi lainnya yang ada di dalam belut yakni, mineral, vitamin, karbohidrat, kalsium dan fosfor. Berikut ini tabel zat gizi dan jumlahnya di dalam satu ekor belut.

Zat Gizi yang Terkandung Dalam Satu Ekor Belut
  • Kalori (cal) 303
  • Protein (gr) 14
  • Lemak (gr) 27
  • Karbohidrat (g) 0
  • Fosfor (mg) 200
  • Kalsium (mg) 20
  • Zat besi (mg) 20
  • Vitamin A (SI) 1600
  • Vitamin B (mg) 0,1
  • Vitamin C (mg) 2
  • Air (gr) 58
Jenis Belut yang Dapat Dibudidayakan
Hampir semua belut dapat dibudidayakan, tetapi alangkah baiknya jika belut yang sedang dibudidayakan tersebut merupakan salah satu hasil rekomendasi dari para peternak belut yang memperoleh hasil maksimal saat musim panennya.

1. Belut Sawah


Belut sawah adalah hewan sejenis ikan yang memiliki bentuk tubuh memanjang seperti ular. Belut sawah atau biasa disebut moa atau lindung adalah hewan yang memiliki nilai ekologi dan juga nilai ekonomi. Hewan ini mudah beradaptasi pada lingkungan yang kurang baik sehingga menjadi indikator pencemaran di suatu lingkungan. Sesuai namanya, belut sawah hidup di persawahan, sungai dan juga rawa. Makanan utamanya adalah cacing dan ikan kecil. Belut adalah hewan nokturnal atau hewan yang aktif di malam hari. Tubuhnya berwarna kecoklatan, licin dan tidak bersisik sehingga kamu akan kesulitan memegangnya. Karena memiliki nilai ekonomi, belut biasanya dimanfaatkan dagingnya untuk diolah menjadi makanan bernilai jual tinggi seperti keripik belut.

Belut sawah sering kita jumpai disekitar area persawahan tempat tinggal kita, belut sawah memiliki cir-ciri sebagai berikut :
  • Warna kulit lebih cerah
  • Panjang tubuh bisa mencapai 45 -50 cm ketika dewasa
  • Bobotnya bisa mencapai 200-300 gr/ekor
  • Habitat hidup di area persawahan
  • Gerakan lincah dan sensitif terhadap getaran/gerakan makhluk lain.
  • Bagian kepala lebih runcing dibandingkan ikan sidat
  • Bentu ekor lancip
  • Bentuk mata lebih kecil
  • Termasuk hewan hermaprodit (dapat berganti kelamin)
  • Induk betina (siap kawin) pada umur dibawah 10 bulan dengan panjang 20 – 30cm dan bobot 20 – 30 ekor/kg
  • Induk jantan (siap kawin) pada umur diatas 10 bulan dengan panjang 35 – 45 cm dan bobot 4 – 8 ekor/kg.
  • Memiliki tekstur daging yang lembut
  • Memiliki rasa yang sangat enak dan gurih, serta sangat bergizi tinggi.
Belut sawah termasuk ke dalam jenis ikan air tawar yang dapat dibudidayakan dengan mudah.

2. Belut Rawa (Synbrancus bengalensis)
Belut Rawa (Synbrancus Benglensis Mclell) adalah saah satu jenis belut yang banyak dikenal dan dijumpai di Indonesia.


Berbeda dengan belut sawah yang banyak dijumppai di media yang banyak lumpur seperti di sawah-sawah dan diselokan kecil berlumpur, maka belut rawa adalah jenis belut yang banyak dijumpai di habita yang banyak mengandung air, gambut dan sedikit lumpur. Oleh karena ketinggian air rawa lebih tinggi dibandingkan di sawah, maka belut rawa memiliki badan yang lebih panjang dibandingkan dengan belut sawah. Perbandigan diameter dan panjang tubuh belut sawah adalah 1:30 dibandigkan dengan belut sawah yang 1:20, maka belut rawa akan kelihatan lebih ramping dibandingkan dengan belut sawah dengan ukuran diameter yang sama.

Usia dewasa belut rawa juga lebih pajang dibndingka dengan belut sawah, yaitu 4 hingga lima bulan. Hal tersebut dikarenakan, belut sawah menyesuaikan diri dengan habitatnya yang akan mengalami kekeringan pada musim kemarau atau musim panen padi. Sedangkan belut rawa tidak perlu menyesuaikan dengan kondisi lingkungan rawa yang airnya rata-rata selalu berlimpah. Karena habitat belut rawa lebih banyak di air daripada di lumpur, maka belut rawa lebih memunkinkan untuk dibudidayakan di air bening tanpa lumpur. Pada dasarnya belut rawa dan belut sawah tidak memiliki perbedaan yang signifikan, bahkan sekilas akan sulit membedakan antara belut sawah dengan belut rawa, berikut ciri- ciri belut rawa:
  • Warna kulit lebih gelap
  • Panjang tubuh bisa mencapai 50 -60 cm ketika dewasa
  • Bobotnya bisa mencapai 150 -300 gr/ekor
  • Habitat hidup di area rawa atau tanaman kirai
  • Gerakan lincah dan sensitif terhadap getaran/gerakan makhluk lain.
  • Bagian kepala lebih runcing dibandingkan ikan sidat
  • Bentu ekor lancip
  • Bentuk mata lebih kecil
  • Termasuk hewan hermaprodit (dapat berganti kelamin)
  • Induk betina (siap kawin) pada umur dibawah 10 bulan dengan panjang 25 – 40 cm dan bobot 10 – 20 ekor/kg
  • Induk jantan (siap kawain) pada umur diatas 10 bulan dengan panjang 40 – 50 cm dan bobot 3 – 4 ekor/kg.
  • Memiliki tekstur daging yang lembut
  • Memiliki rasa yang sangat enak dan gurih, serta sangat bergizi tinggi.3. Belut Muara (Macrotema caligans)

Belut muara, dikenal juga sebagai belut laut, merupakan belut yang habitat hidupnya di muara. Bentuknya tidak berbeda dengan jenis belut lainnya. Namun, belut muara memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
  • Warna kulit cokelat pucat
  • Panjang tubuh bisa mencapai 60 -70 cm ketika dewasa
  • Bobotnya bisa mencapai 250 – 400 gr/ekor
  • Habitat hidup di area muara atau tambak dekat laut
  • Gerakan lambat namun sangat kuat.
  • Bagian kepala seperti ujung terompet
  • Bentuk ekor seperti pedang
  • Bentuk mata lebih kecil dari sidat
  • Memiliki bau amis yang mencolok
  • Memiliki tekstur daging yang lebih kasar dari belut sawah
  • Memiliki rasa yang sangat enak dan gurih, serta sangat bergizi tinggi.
Sampai dengan saat ini belum ditemukan pembudidaya belut jenis ini.

4. Belut Laut atau sidat (Anguilla)
Sidat adalah sejenis ikan yang menyerupai ular dan belut, umumnya sidat banyak hidup dilaut, akan tetapi ada pula sidat yang hidup diair tawar yaitu Anguilla sp.

Ciri-ciri ikan sidat:
  • Bentuk tubuh panjang seperti belut namun lebih pipih
  • Memiliki 2 sirip di dekat kepala
  • Bentuk ekor lebar
  • Bentuk kepala seperti ular
  • Habitat hidup di air tawar (angguilla sp), sungai besar dan kali
  • Tekstur daging yang sangat lembut dibanding belut
  • Permukaan kulit sangat halus dibanding belut
  • Memiliki kemampuan hidup lebih tinggi dari belut
  • Tubuhnya sangat licin dan lembut
  • Bobot tubuh bisa mencapai 500 gr lebih/ekor
  • Bereproduksi dilautan dan setelah menjadi larva (eel glass) bergerak menuju perairan tawar sampai siap bereproduksi baru kembali kelaut.
Cara Budidaya belut
Belut dapat dibudidayakan atau dipelihara di dalam kolam, bak, akuarium atau tempat lainnya tanpa disertai lumpur. Yang penting ada sirkulasi dalam kolam. Air kolam tidak perlu diganti terus menerus karena belut memiliki daya tahan terhadap air keruh. Belut merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang digemari masyarakat Indonesia. Belut sangat baik dikonsumsi karena memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuh.

Terlepas dari banyaknya nutrisi yang terkandung dalam belut, ikan yang satu ini cukup enak untuk dikonsumsi. Rasa dagingnya yang kenyal dan gurih membuat siapa saja yang menikmatinya pasti ketagihan. Jadi, tidak heran jika permintaan ikan belut selalu meningkat. Belut merupakan binatang air yang digolongkan dalam kelompok ikan. Berbeda dengan kebanyakan jenis ikan lainnya, belut bisa hidup dalam lumpur dengan sedikit air.

Binatang ini mempunyai dua sistem pernapasan yang bisa membuatnya bertahan dalam kondisi tersebut. Meski dalam habitat aslinya berada di tempat berlumpur, cara budidaya belut tidak harus menggunakan media lumpur, namun juga bisa menggunakan air bersih di kolam biasa. Tetapi terdapat beberapa kelemahan dari cara budidaya belut tanpa lumpur ini, yaitu Anda harus menyiapkan makanan yang cukup. Hal ini dikarenakan belut hanya akan memakan makanan yang memang telah disediakan.

Selain kelemahan, cara budidaya belut ini memiliki keuntungan yaitu memudahkan untuk mengontrol belut ketika terserang penyakit. Selain itu, cara ini juga memudahkan petani untuk menurunkan intensitas terjadinya kanibalisme antar belut.

Siapkan Media Tempat dan Air Budidaya
Melakukan persiapan adalah langkah awal yang harus dilakukan untuk memulai cara budidaya belut, yaitu kolam pembesaran. Biasanya kolam yang digunakan adalah kolam yang berjenis kolam terpal maupun kolam permanen dari semen. Kolam air jernih ini dapat meminimalisir pemborosan tempat. Hal itu karena ukuran kolam yang tidak terlalu besar bisa menampung banyak bibit, jika di bandingkan dengan kolam lumpur.

Jika Anda akan menggunakan kolam dengan air jernih, maka harus dibuat sebuah sirkulasi air yang baik. Hal itu agar bisa mengatur kadar pH di dalam air yang pastinya akan terganggu karena adanya pengeluaran lendir dari tubuh belut. Sirkulasi yang bagus akan membuat kadar oksigen di dalam kolam menjadi stabil dan air tetap jernih.

Memiliih Bibit Belut
Cara budidaya belut yang selanjutnya adalah dengan melakukan pemilihan bibit belut dengan kualitas yang baik. Pemilihan bibit belut nantinya akan menentukan hasil dari panen. Jadi Anda harus mendapatkan bibit yang berkualitas dan unggul. Berikut beberapa ketentuan dalam pemilihan bibit:
1. Pilihlah bibit yang tidak ada bekas luka dan kondisi belut yang lincah.
2. Hindari bibit belut yang didapat secara alami, karena akan menimbulkan bekas luka seperti cara penangkapan dengan metode setrum, berburu di dalam lumpur sawah, dan sungai.
3. Inilah mengapa Anda harus lebih teliti dalam memilih dan membeli bibit belut. Bibit yang sehat tentunya berpotensi untuk berkembang secara maksimal.
4. Ukuran bibit setidaknya harus merata atau sama besar. Tingkat kanibalisme bisa diminimalisir dengan cara memilih ukuran bibit yang sama besar.
5. Selain adanya kanibalisme, pemberian pakan tentunya juga tidak akan merata jika Anda mencampurkan bibit yang kecil dengan bibit yang besar di satu kolam yang sama.

Penebaran Bibit Belut
Cara budidaya belut tanpa lumpur ini dalam penebaran benihnya dapat lebih banyak jika dibandingkan dengan cara budidaya belut secara konvensional atau menggunakan lumpur.

Pemberian Pakan
Cara budidaya belut agar berhasil tidak akan terlepas dari pemberian pakan yang teratur. Hal ini sangat penting bagi tumbuh kembangnya belut. Pemberian pakan yang tepat akan menyebabkan keberhasilan dari budidaya belut akan lebih optimal. Anda bisa memberikan beberapa jenis pakan alami seperti limbah ikan, bekicot, sisa cincangan dari daging ayam maupun pelet. Biasanya pakan akan diberikan secara berkala 3-4 kali sehari. Semakin besar dan semakin berumur bibit, maka jumlah pakan akan lebih sedikit.

Perawatan Belut
Agar cara budidaya belut dapat memberikan hasil yang efektif, rawatlah belut dengan seksama. Perhatikan kualitas air, pemberian pakan secara teratur serta sesuai dengan takaran agar tidak menimbulkan air yang cepat kotor dan sifat kanibalisme belut. Perlu diketahui kebiasaan belut yang mengalami penyakit, yaitu ditandai dengan belut terus bergerak pada siang hari dan aktif menyerang belut lainnya.

Belut adalah binatang yang mengeluarkan lendir. Hal ini dikarenakan mekanisme tubuh untuk melindungi dirinya yang terbilang sensitif. Lendir yang keluar dari belut ini secara terus-menerus dapat mempengaruhi tingkat keasaman air atau pH air di kolam. Sehingga ketika air kolam mencapai ambang batas pH 7, maka air harus segera dinetralkan atau segera disirkulasi. Maka dari itu media budidaya belut harus dilengkapi dengan sirkulasi air yang memadai.

Proses Panen Belut
Proses pemanenan belut sebenarnya tidak memiliki takaran dan masa panen, karena mau sekecil apapun belut tetap bisa dinikmati dan bergizi tinggi. Namun agar panen yang didapati dalam jumlah maksimal, maka bisa melakukan panen setelah 3 hingga 4 bulan masa pemeliharaan. Belut yang memiliki kualitas yang baik, bisa seterusnya Anda jadikan untuk indukan dan menghasilkan bibit-bibit baru nantinya. Anda bisa melakukan pemanenan secara harian atau tidak secara sekaligus dengan penangkapan manual. Hal itu karena kebanyakan masyarakat menyukai ukuran belut yang beragam, tidak selalu harus ukuran yang besar.

Proses panen dengan cara budidaya belut tanpa lumpur ini lebih mudah dan praktis daripada metode lainnya. Apabila menggunakan kolam bisa dilakukan dengan menguras kolam atau menjaring belut yang ada di kolam.

Referensi
  1. Bahri F. 2000. Studi Mengenai Aspek Biologi Ikan Belut (Monopterus albus) di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Skipsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB, Bogor.
  2. Muktiani. 2011. Menggeluti Bisnis Belut (Seri Perikanan Modern). Pustaka Baru. Yogyakarta.
  3. Ruslan, R. 2009. Buku Pintar Budidaya dan Bisnis Belut. PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar