Senin, 10 Oktober 2022

Belut - Bisa Ganti Kelamin

Belut merupakan jenis ikan yang mirip dengan ular, dan memiliki beberapa nama daerah, nama resmi, atau nama ilmu pengetahuan. Di Indonesia seperti pulau Jawa, belut dikenal dengan nama welut atau lindung, sedang di Manado belut ini dikenal dengan nama sugili atau sugile. Dan dunia ilmu pengetahuan memperkenalkan belut ini dengan nama Fluta Alba (Zeuiew). Selain itu belut memiliki nama lain yaitu Monopterus albus (Simanjuntak, 1988). Dari tempat hidupnya belut dikenal ada 3 jenis belut yaitu belut rawa (Synbranchus bengalensis Mc clell), belut kali/laut (Macrotema caligans Cant) dan belut sawah (Monopterus albus). Penyebarannya di perairan tropis, dengan suhu 25 hingga 31°C meliputi daerah perairan Asia yaitu India hingga ke Cina, Jepang, Malaysia, dan Indonesia dengan pola makan bersifat predator nokturnal yaitu memakan anak-anak ikan yang masih kecil dan hidupnya di sawah-sawah, cacing, crustacea, dan hewan akuatik lain dan juga detritus.

Belut mempunyai karakteristik unik yaitu bersifat Hermaprodit dimana daur hidupnya meliputi masa juvenile yang hermaprodit diikuti masa betina yang berfungsi, kemudian masa interseks dan terakhir masa jantan yang berfungsi. Sifat yang lain diantaranya adalah merupakan binatang karnivora, mempunyai lubang perangkap untuk menangkap mangsa dan berkembang biak di alam selama setahun sekali. Belut sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) dengan sinonim Fluta alba (Bloch and Schneider, 1801). Foto : pakbiz.com"][/caption]Dikenal ada 3 (tiga) spesies belut, yaitu belut sawah Monopterus albus (Zuiew, 1793) dengan sinonim Fluta alba (Bloch and Schneider, 1801), belut rawa Synbranchus bengalensis (McClelland, 1844), dan belut kali Macrotema caligans (Cantor, 1849). Namun, jenis belut yang sering dijumpai adalah jenis belut sawah. Demikian pula belut sawah lebih disukai karena memiliki daging yang lebih banyak.

Belut sawah yang dalam bahasa Inggris disebut rice field eel atau rice-paddy eel, adalah ikan asli daerah sub-tropis dan tropis di Asia, tersebar luas di banyak negara yaitu India, China, Jepang, Malaysia, Indonesia, Bangladesh, Thailand, dan Vietnam. Namun dia bukanlah benar-benar ell (sidat), karena sidat dari famili Anguillidae sedangkan belut dari famili Synbranchidae.

Taksonomi
Belut Sawah merupakan jenis ikan air tawar dari famili Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchordae, yaitu jenis ikan yang tak bersirip atau anggota tubuh lain untuk bergerak (Satwono, 2003). Berikut tata nama Ikan belut menurut ilmu Taksonomi:

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Kelas : Pisces
Sub klas : Teleostei
Ordo : Synbranchoidae
Famili : Synbranchidae
Genus : Monopterus
Species : Monopterus albus
Sinonim : Fluta alba (Zeuiew), Monopterus javanensis

Morfologi 
Belut merupakan ikan yang tidak bersirip. Sirip dada, punggung, dan sirip dubur telah berubah menjadi sembulan kulit yang tidak berjari-jari. Badan belut bulat panjang menyerupai ular, kulitnya licin berlendir, mata kecil hamper tertutup oleh kulit, giginya kecil runcing membentuk kerucut, bibir berupa lipatan kulit yang lebar, tidak bersirip perut dan tidak bersisik. Letak dubur jauh ke belakang dada. Media hidupnya dari kecil sampai dewasa dan bertelur di air tawar yang berlumpur. Dapat juga ditemukan di sungai-sungai atau dirawa-rawa yang berair tawar (Satwono, 2003). Belut mempunyai ciri khas kelamin Progynes Hermaprodyte atau dapat berubah-ubah. Seperti ikan lele, belut juga dilengkapi dengan alat pernafasan tambahan yang berfungsi untuk mengambil oksigen dari permukaan air. Alat pernafasan tambahan ini berupa kulit tipis yang penuh dengan lendir terdapat pada rongga mulut. Disamping itu belut juga dilengkapi dengan insang seperti pada ikan lainya (Simanjuntak, 1988).

Bagian tubuh ikan belut

Sifat dan Kebiasaan 
Belut sawah merupakan jenis ikan air tawar yang hidupnya memerlukan sedikit air dan tanah halus atau lumpur untuk hidup dan tumbuh berkembang biak, belut berbeda dengan jenis ikan air tawar lainnya yang media hidupnya cukup dengan air saja. Lalu mengapa belut sawah memerlukan media tanah halus atau lumpur dan apa saja sifat dan kebiasaannya? Diantaranya adalah:
  • Belut memerlukan pengaman untuk tubuhnya dari segala pemangsa dan cuaca dengan memendamkan tubuhnya ke dalam tanah halus atau lumpur.
  • Belut tidak mempunyai sisik dan sirip sehingga mudah terluka.
  • Belut dilindungi oleh cairan lendir seperti minyak goreng yang berguna untuk menjaga kestabilan tubuhnya dan untuk mempermudah dalam membuat lubang sebagai tempat tinggalnya.
  • Belut dalam mencari mangsa atau makanan dengan menunggu didepan ujung lubang yang dijadikan tempat untuk mengintai karena sifat belut yang pasif.
  • Belut akan keluar dari lubangnya serta menjadi aktif dan kanibal apabila merasa terlalu lapar atau jika sedang mencari pasangan untuk melakukan perkawinan sesuai masa pertumbuhannya.
  • Belut biasanya akan ramai keluar dari lubangnya pada saat setelah sore hari, turun hujan dan malamnya gelap kecuali pada saat bulan purnama atau dalam keadaan terang dan pada saat musim perkawinan.
  • Belut bukan termasuk ikan yang rakus makan, oleh karena itu pertumbuhannya agak lambat dibandingkan dengan jenis ikan lainnya, selain itu belut tidak memiliki pencernaan yang bisa mencerna makanan yang banyak dengan cepat karena bentuk pencernaan belut tunggal memanjang seperti bentuk tubuhnya.
  • Belut memiliki ciri bentuk badan silinderis, memanjang, dan meruncing seperti ular, tidak bersirip dada dan perut, tidak bersisik, sirip dubur dan sirip punggung berubah menjadi sembulan kulit yang tidak berjari-jari. 
  • Duburnya jauh ke arah belakang. Tubuhnya licin sehingga susah dipegang. Belut dewasa rata-rata panjangnya 50 cm dengan lingkar tubuh 5-7 cm.
  • Bentuk badan belut silinderis, memanjang, dan meruncing
  • Hidup pada berbagai habitat air tawar seperti lahan basah dangkal, perairan stagnan, rawa, sungai, saluran air, kanal, danau, waduk, sawah, dan kolam, pada kedalaman kurang dari 3 m. 
  • Termasuk binatang nokturnal (aktif pada malam hari). Makanannya segala jenis binatang kecil di air seperti ikan, udang, ketam, katak, invertebrata air seperti cacing dan serangga, dan kadang-kadang detritus.
Pada umumnya belut tidak suka berenang dan lebih suka bersembunyi di dalam lumpur, namun memiliki berbagai olah gerak dan bahkan mampu bergerak diatas lahan kering untuk jarak pendek. Perilaku ini digunakan untuk relokasi sesuai dengan ketersediaan sumber daya. Dengan tidak adanya air dan makanan, belut sawah mampu bertahan lama dengan menggali dalam tanah yang lembab. Jika lingkungan menjadi tidak cocok, belut merangkak ke darat dan bergerak ke lingkungan yang lebih cocok dengan merayap di atas tanah dengan cara seperti ular.

Belut akan menjadi kanibal dan agresif untuk berburu makan dan memakan apa saja yang dia sukai termasuk sejenisnya, bila merasa terlalu lapar atau dalam masa perubahan kelamin atau setelah melakukan perkawinan sedangkan persediaan makanan di sekitar tempat tinggalnya tidak ada atau kurang. Belut juga akan bersifat pasif hanya berdiam diri saja di dalam lubang tempat tinggalnya kalau perutnya merasa kenyang. Kalau disekitar tempat tinggalnya banyak bahan makanan biasanya belut hanya mengintip saja di ujung lubangnya untuk menyantap makanan yang lewat atau yang jatuh di ujung lubangnya.

Salah satu kebiasaan belut mengintip masngsa dari sarangnya

Perubahan Jenis Kelamin (Hermaprodit)
Seperti telah disebutkan, belut bersifat hermaprodit protogini, yaitu mengalami masa hidup sebagai betina pada awalnya dan kemudian berubah menjadi jantan. Pada saat terjadi pergantian kelamin dari betina kejantan tersebut dikatakan sebagai masa transisi, karena pada saat itu terdapat dua macam kelamin pada satu individu. Secara biologis hermaprodit protogini adalah sebutan bagi ikan yang didalam tubuhnya mempunyai gonad atau kelenjar kelamin yang mengadakan proses diferensiasi dari fase betina ke fase jantan. 
Ketika belut masih muda gonadnya mempunyai testis dan ovarium, setelah jaringan ovariumnya berfungsi dan dapat mengeluarkan telur. Selanjutnya, terjadi masa transisi yaitu dengan membesarnya jaringan testis dan ovariumnya mengecil. Pada saat belut sudah tua umumnya telur sudah tereduksi sekali sehingga sebagian besar dari gonad tadi diisi oleh jaringan testis yang sudah berfungsi. Ovarium belut terletak memanjang didalam rongga badan. Ovarium biasanya berjumlah sepasang yang masing – masing berada di kiri dan kanan antara gelembung renang dan usus. Pada belut ovarium yang berkembang hanya sebelah. Testis belut berbentuk memanjang dalam rongga tubuh dibawah gelembung renang dan diatas usus. 

Berikut cirri-ciri Tingkat Kematangan Gonad (TKG) pada belut :


Belut bersifat hermaprodit protogini, artinya ikan ini akan mengalami perubahan jenis kelamin dari betina pada awalnya, kemudian berubah menjadi jantan pada usia tua. Semua belut muda adalah betina. Belut remaja sampai matang, beberapa mempunyai fenotipe maskulin. Jantan mampu mengubah kelamin, yang memungkinkan mereka mengisi populasi betina ketika kepadatan populasi betina rendah. Perubahan dari satu jenis kelamin ke jenis kelamin yang lain bisa memakan waktu hingga satu tahun.

Pemijahan belut dapat terjadi sepanjang tahun terutama selama musim hujan 3 sampai 4 bulan. Telur diletakkan pada sarang gelembung busa pada perairan dangkal. Belut jantan yang besar membangun sarang gelembung busa di mulut liang dan menjaga telur dan anak belut. Sarang gelembung busa ini mengapung di permukaan air dan tidak dilekatkan pada tumbuhan air. Betina menghasilkan telur sampai 1.000 butir dalam sekali pemijahan.

Fekunditas rata-rata 589 butir telur per ekor belut betina (berkisar antara 236 sampai 1.328 butir telur). Telur yang telah matang tidak dilekatkan ke tumbuhan air atau benda disekitarnya (non-adhesive), berbentuk bulat dengan diameter 3-4 mm, dan terapung di air. Telur mulai menetas setelah 5-6 hari inkubasi dan kantong kuning telur benar-benar habis diserap oleh larva 7-9 hari setelah itu. Tingkat penetasan bervariasi antara 84,0-97,5%.

Belut mampu berkembangbiak tiap tahun. Dengan masa jenjang perkawinan belut persiklusnya 4-5 bulan, perkawinan dalam perkembangbiakan belut ini terus berlangsung semasa subur belut selama hidupnya. Dari pengalaman otodidak penulis dalam pembenihan belut disebutkan bahwa, pergantian kelamin belut tidaklah permanen dari betina menjadi jantan kecuali kalau masa subur belut sudah habis alias tidak bisa kawin lagi bisa dikatan belut ini bukan jantan dan bukan betina alias banci,nah kalau belut sudah banci belut sudah tidak bisa reproduksi lagi tapi hanya akan berkembang membesar ukuran tubuhnya saja. Selagi masa suburnya belut bisa bertelur dan melakukan perkawinan sampai berkali-kali dengan jenjang waktu transisi persiklusnya 4-5 bulan.

Di alamnya, dalam pertumbuhannya berkembang biak setelah mencapai dewasa, belut memasuki masa perkawinan lalu bertelur dan menetaskan telurnya, biasanya ditandai dengan busa seperti busa sabun yang terlihat diatas permukaan sawah atau dipinggir pematang sawah. Setelah melakukan perkawinan belut membuat sarang dan menyimpan telurnya di dalam pematang sawah, sarang tersebut dipenuhi juga dengan gumpalan busa. Gumpalan busa tersebut membantu penetasan telur-telur belut. Bila busa tersebut rusak dan telur belut terendam air maka telur belut gagal menetas.

Telur-telur belut akan menetas setelah ± 3-7 hari, setelah menetas anak belut tidak akan langsung pergi karena masih lemah dan masih berbentuk larva selama itu pula gumpalan busa bisa bertahan asal tidak terkena gangguan seperti percikan air hujan dan gangguan lainnya. Anak-anak belut akan keluar dari sarang tempat penetasan setelah ± 2 minggu yang ukuran tubuhnya mencapai ± 3 – 4 cm kira-kira sebesar biji korek api.

Pematang adalah salah satu syarat untuk pengembangbiakan belut. Kolam budidaya belut harus dibuatkan pematang-pematang untuk belut bertelur dan berkembangbiak. Bisa dipastikan masa perkawinan belut ramai terjadi pada saat pergantian musim dari musim kemarau ke musim hujan, pada saat musim kemarau datang belut ramai-ramai memburu lokasi tanah yang masih berair pada saat selama musim kemarau, pada saat itu belut berkumpul bergerombol dan sebagian ada yang melakukan perkawinan, maka dari itu pada saat musim hujan tiba belut kembali menyebar di areal tanah persawahan yang sudah kembali berair sambil membuat sarang dan menetaskan telurnya.

Sarang belut dipenuhi dengan busa


Budidaya dan manfaat
Seiring dengan pertambahan penduduk yang pesat, habitat dan populasi belut semakin terancam. Hal ini diakibatkan oleh penyusutan lahan sawah yang dikonversi ke peruntukan lain (pemukiman, industry, dan fasilitas umum), tercemarnya perairan sungai oleh berbagai sumber pencemar, maraknya penggunaan pestisida di persawahan sejalan dengan intensifikasi pertanian, serta semakin intensifnya penangkapan belut dari alam. Sehubungan dengan meningkatnya ancaman terhadap habitat populasi belut sawah di alam, maka perlu dikembangkan usaha budidaya belut yang dapat dilakukan oleh masyarakat.

Belut bisa hidup dalam kondisi dan habitat apapun, asal ada air, lumpur, dan lubang. Lokasi pemeliharaan belut bisa di dataran rendah sampai ke dataran tinggi. Hanya yang perlu dijaga, kualitas air untuk pemeliharaan belut harus bersih, jangan terlalu keruh dan tidak tercemar bahan kimia beracun maupun minyak atau limbah pabrik. Teknologi budidaya belut sudah banyak disusun dalam bentuk buku panduan yang dapat diperoleh di toko-toko buku. Saat ini, belut sawah telah dimanfaatkan sebagai sumber protein terutama di kawasan pedesaan, dan bahkan di beberapa daerah telah dieksploitasi secara besar-besaran untuk dijadikan bahan baku pembuatan keripik belut pada industri rumah tangga, dan juga sudah menjadi salah satu komoditas ekspor.

Belut mengandung nutrisi yang baik bagi kesehatan, antara lain leusin, isoleusin, arginin, protein, asam lemak tak jenuh omega 3 dan omega 6, kalori yang tinggi, sodium, vitamin A, B1 (thiamin), B2 (riboflavin), B3 (niacin), B6 (pyridoxine), B9 (asam folat), B12 (kobalamin), C, E, kalsium, zat besi, magnesium, fosfor, zink, selenium, dan kolesterol. Oleh karena itu, ikan belut memiliki beberapa khasiat, antara lain sebagai pembentukan protein otot (leusin), menutrisi otak dan membantu proses tumbuh kembang anak (isoleusin), kesehatan jantung dan pengobatan kanker (arginin), sumber protein bagi semua kelompok usia termasuk anak-anak, sumber vitamin, mencegah anemia (zat besi), memperkuat tulang (fosfor), dan penambah stamina (kalori). Yang perlu diwaspadai adalah kandungan kolesterolnya apabila dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan. 


Referensi
  1. Affandi, R., Y. Ernawati, S. Wahyudi. 2003. Studi Bio-Ekologi Belut Sawah (Monopterus albus) Pada Berbagai Ketinggian Tempat di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB. Bogor.
  2. Bahri F. 2000. Studi Mengenai Aspek Biologi Ikan Belut (Monopterus albus) di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Skipsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB, Bogor.
  3. Muktiani. 2011. Menggeluti Bisnis Belut (Seri Perikanan Modern). Pustaka Baru. Yogyakarta.
  4. Ruslan, R. 2009. Buku Pintar Budidaya dan Bisnis Belut. PT. Agromedia Pustaka, Jakarta.
  5. Trisno Utomo, 2015, https://www.kompasiana.com/lhapiye/56570a22f59673f107abb827/?page=all#section1
  6. Yusniar. 1996. Kelimpahan dan Pola Penyebaran Ikan Belut (Monopterus albus) di Kecamatan Cibeber, Cianjur. Skripsi. MSP. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar