Minggu, 27 Juni 2021

Penyakit Ikan - Gyrodactylus

Lingkungan budi daya perikanan merupakan lingkungan yang sesuai untuk tumbuh dan berkembang biaknya organisme yang dibudidayakan, juga merupakan lingkungan yang potensial untuk agen penyakit, seperti parasit. Kata parasit berasal dari bahasa Latin yang terdiri atas dua suku kata, yakni para dan sites. Para berarti di samping (beside=bahasa Inggeris), sedangkan sites berarti makanan (feed=bahasa Inggeris). Parasit adalah suatu organisme hidup atau di dalam organisme hidup lain (yang berbeda spesiesnya) yang selain mendapat perlindungan juga memperoleh makanan untuk kelangsungan hidupnya.
Suatu organisme hidup dikatakan sebagai parasit apabila memenuhi ciri- ciri sebagai berikut:
a. Organisme hidup tersebut haruslah tinggal (sementara atau selama masa hidupnya) pada (organ tubuh bagian luar) atau di dalam (organ tubuh bagian dalam) organisme hidup lainnya.
b. Organisme hidup tersebut haruslah berbeda spesiesnya dari organisme hidup yang didiaminya.
c. Organisme hidup tersebut minimal memperoleh keuntungan berupa tempat tinggal dan makanan dari organisme hidup yang didiaminya.

Parasit hidup, tumbuh, dan berkembang biak pada berbagai macam lingkungan. Parasit dapat digolongkan ke dalam beberapa golongan bergantung pada cara-cara penggolongannya. Berdasarkan tempat tinggalnya, parasit dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu:

1) Ekto parasit adalah parasit yang mendiami atau tinggal di bagian organ tubuh sebelah luar organisme hidup yang didiaminya. Misalnya, Ichthyopthirius multifilis, Argulus sp., dan lain-lain.
2) Endo parasit adalah parasit yang tinggal di dalam bagian organ tubuh sebelah dalam organisme hidup yang didiaminya. Misalnya, Aphanomyces invadans, Myxobolus sp. dan lain-lain.

Bila ditinjau dari segi siklus hidupnya, parasit dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu:
1) Parasit intermitten (intermitten parasites) adalah parasit yang siklus hidupnya secara periodik pada waktu-waktu tertentu berada pada atau di dalam, sedangkan pada waktu-waktu lainnya harus meninggalkan tubuh organisme hidup yang didiaminya. Parasit akan mati bila kondisi lingkungan yang sesuai dengan siklus hidupnya tidak didapatkan. Misalnya, Ichthyopthirius multifilis.
2) Parasit fakultatif (facultative parasites) adalah parasit yang di dalam siklus hidupnya dapat berfungsi sebagai parasit pada atau di dalam organisme hidup lainnya dan dapat hidup di alam bebas (tanpa ada organisme lain yang didiaminya). Misalnya, Argulus sp.
3) Parasit obigateri (obigatery parasites) adalah parasit yang siklus hidupnya penuh berfungsi sebagai parasit pada atau di dalam organisme hidup lainnya, sebagian atau seluruh masa hidupnya berada pada atau di dalam organisme hidup lainnya. Parasit ini tidak mungkin dapat hidup tanpa adanya organisme hidup lainnya (yang didiaminya). Misalnya, Cyclochaeta sp.

Dari segi bio taksonomi, parasit dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu:
1) Parasit tumbuhan (phyto parasites) adalah parasit yang secara bio taksonomi tergolong ke dalam dunia tanaman. Misalnya, Saprolegnia sp. dan Achlya sp.
2) Parasit hewan (zoo parasites) adalah parasit yang secara bio taksonomi tergolong kepada dunia hewan. Misalnya, Gyrodactylus sp., Lernea sp.
Banyak jenis parasit yang sering menyerang ikan, baik jenis ekstoparasit maupun jenis endoparasit. Setiap jenis parasit menempati bagian tertentu pada tubuh ikan. Sebagai mahasiswa perikanan diharapkan mengenal dan memahami macam-macam parasit yang sering menyerang ikan serta mengetahui keterkaitan antara parasit yang ada dengan perilaku pada ikan.

Salah satunya adalah Gyrodactylus, Gyrodactylus juga termasuk kedalam golongan cacing-cacingan. Berukuran sangat kecil dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata, tetapi hanya bisa dilihat lewah mikroskop. Dalam tubuh ikan, hewan ini juga digolongkan sebagai parasit. Artinya hewan yang mengambil makanan untuk hidupnya dari hewan lain. Keadaan itu menimbulkan kerusakan.


Seperti hal cacing-cacing yang lain, Gyrodactylus juga berbadan bulat dan panjang. Menurut SACHLAN, 1974, hewan ini berukuran 0,5 – 0,8 mm. Pada ujung anterior terdapat dua cuping. Setaip cuping memiliki kepala dan memiliki usus bercabang dua dimana ujungnya tidak bersatu (HOFFMAN, 1967). Hospes : ikan mas(Cyprinus carpia), ikan air tawar (ikan lele= Clarias batrachus) dan ikan air laut, dan bangsa udang dan katak. Cacing dewasa dapat melekat pada kulit hospes karena dilengkapi ophisthaptor yang fungsinya untuk menghisap darah dan memakan jaringan hospes.

Selanjutnya dia menyatakan bahwa posterior atau ventral. Parasit ini tidak memiliki vitelaria atau bersatu dengan ovari. Siklus Gyrodactylus sp. Dari larva hingga menjadi dewasa membutuhkan waktu kira-kira 60 jam. Itu terjadi pada suhu 25 – 27 O C.

Gyrodactilus sp digolongkan kedalam phylum Vermes, subphylum Platyhelmintes, kelas Trematoda, ordo Monogenea, family Gyrodactylidae, subfamily Gyrodactylinae dan genus Gyrodactilus. Hewan parasit ini termasuk cacing tingkat rendah (Trematoda). Gyrodactilus sp biasanya sering menyerang ikan air tawar, payau dan laut pada bagian kulit luar dan insang. Parasit ini bersifat vivipar dimana telur berkembang dan menetas di dalam uterusnya. Memiliki panjang tubuh berkisar antara 0,5 – 0,8 mm, hidup pada permukaan tubuh ikan dan biasa menginfeksi organ-organ lokomosi hospes dan respirasi.


Larva berkembang di dalam uterus parasit tersebut dan dapat berisi kelompok – kelompok sel embrionik. Ophisthaptor individu dewasa tidak mengandung batil isap, tetapi memiliki sederet kait-kait kecil berjumlah 16 buah disepanjang tepinya dan sepanjang kait besar di tengah-tengah, terdapat dua tonjolan yang menyerupai kuping

Bio-Ekologi Patogen :
  1. Ekto-parasit, bersifat obligat parasitik dan berkembang biak dengan beranak.
  2. Gyrodactylus sp. tidak memiliki titik mata, dan pada ujung kepalanya terdapat 2 buah tonjolan
  3. Penularan terjadi secara horizontal, pada saat anak cacing lahir dari induknya
  4. Menginfeksi semua jenis ikan air tawar, terutama ukuran benih dan organ target meliputi seluruh permukaan tubuh ikan, terutama kulit dan sirip.
  5. Infeksi berat dapat mematikan 30-100% dalam tempo beberapa minggu; terutama sebagai akibat infeksi sekunder oleh bakteri dan cendawan
Gejala Klinis :
  1. Nafsu makan menurun, lemah, tubuh berwarna gelap, pertumbuhan lambat, dan produksi lendir berlebih
  2. Peradangan pada kulit disertai warna kemerahan pada lokasi penempelan cacing
  3. Menggosok-gosokkan badannya pada benda di sekitarnya
Diagnosa :
Pengamatan secara visual terhadap tingkah laku dan gejala klinis yang timbul
Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ insang.

Gambar 1. Cacing kulit (Gyrodactylus pp.) yang sedang aktif mengambil makanan (mukus ikan) di sekeliling tempat penempelannya

Gambar 3. Morfologi kulit (Gyrodactylus spp.)

Pengendalian :
  1. Mempertahankan kualitas air terutama stabilisasi suhu air > 29o C
  2. Mengurangi kadar bahan organik terlarut dan/atau meningkatkan frekwensi pergantian air
  3. Ikan yang terserang gyrodactyliasis dengan tingkat prevalensi dan intensitas yang rendah, pengobatan dapat dilakukan dengan perendaman beberapa jenis desinfektan, antara lain:
  4. Larutan garam dapur pada konsentrasi 500-10.000 ppm (tergantung jenis dan umur ikan) selama 24 jam
  5. Larutan Kalium Permanganate (PK) pada dosis 4 ppm selama 12 jam
  6. Larutan formalin pada dosis 25-50 ppm selama 24 jam atau lebih.
Referensi:
  1. Hadiroseyani, Y. 1998. Metoda Dianogsa Parasit Ikan. Fakultas Perikanan, IPB.Bogor.
  2. Zonneveld, N., E.A. Huisman dan J. H. Boon, 1991. Prinsip-Prinsip Budidaya Ikan., Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  3. Ghufran M. Kordi H. Panggulangan K,. 2004, .Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit Bina Adiaksara. Jakarta.
  4. Donna Oc, Buku Saku Penyakit Ikan; milis-ipkani@googlegroups.com
  5. http://marjukyusmanzhul.blogspot.co.id/2012/10/tugas-parasit-dan-penyakit-ikan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar