Kamis, 17 Juni 2021

Penyakit Ikan - Jamur Fusariosis

Jamur merupakan organisme yang eukariotik, nonvascular, nonmotil, bereproduksi dengan spora, menyebar melalui angin atau air, memproduksi spora secara seksual dan aseksual, tergantung pada spesies dan kondisi. Seperti halnya tumbuhan, jamur memiliki pergantian generasi, memiliki dinding sel yang terbuat dari kitin. Bersifat heterotropik, yakni memanfaatkan material organik untuk kehidupannya, tidak berklorofil, sehingga tidak dapat melakukan proses fotosintesis. Jamur memproduksi exoenzim, menyimpan sediaan makanan dalam bentuk glikogen, membran sel memiliki sterol dan ergosterol sebagai pengganti kolesterol di sel membran mammalia, dan jamur menyukai kondisi yang lembab, pH asam, dan sedikit cahaya.

Status Secara Nutrisional
Status jamur secara nutrisional bisa berupa saprofita, parasitis, dan mutualisme. Status jamur sebagai saprofita, yaitu scavenger yang penting pada suatu ekosistem, dapat menggunakan bahan organik, bersama bakteri berfungsi dalam siklus karbon, nitrogen, nutrient mineral (selulosa, lignin, dan lain-lain) menjadi molekul sederhana untuk dimanfaatkan oleh jamur atau organisme lainnya.

Status jamur secara nutrisional sebagai parasitis, yaitu sebagai inang dari diatom, tumbuhan, hewan, manusia, dan dapat memanfaatkan bahan organik dari organisme hidup. Status secara nutrisional sebagai simbiosis mutualisme adalah dapat berasosiasi jamur dengan akar tumbuhan (mycorrhizae).

Keuntungan dan Kerugian Jamur
Keuntungan-keuntungan yang dimiliki oleh jamur, yaitu sebagai ragi roti dan pembuatan bir, sebagai antibiotik berupa penicillin, cephalosporin, sebagai obat seperti cyclosporine. Beberapa asam organik diproduksi dengan bantuan jamur seperti asam sitrat coca cola dengan bantuan Aspergillus.

Kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh jamur, yaitu dapat menimbulkan penyakit pada manusia, langsung atau melalui toksin yang dihasilkan, dapat menimbulkan penyakit pada tumbuhan atau hewan, termasuk ikan, mengakibatkan bau busuk atau kontaminasi pada makanan, dan dapat menghancurkan semua barang buatan manusia, kecuali plastik dan beberapa jenis pestisida.

Penyakit Infeksi Jamur
Infeksi jamur pada ikan terbagi atas dua kelompok, yaitu infeksi internal dan infeksi eksternal. Penyakit infeksi jamur merupakan infeksi sekunder (oportunistik) yang dapat mengakibatkan trauma, stress, masuknya bahan organik ke dalam perairan, suhu yang ekstrim, penanganan yang buruk, dan infeksi parasit atau bakteri atau virus.

Di Indonesia penyakit oleh jamur eksternal pada ikan air tawar pada umumnya termasuk dalam genus Achlya sp. dan Saprolegnia sp. Genus Aphanomyces yang patogenik, penyebab penyakit EUS (Epizootic Ulcerative Syndrome atau sindrom borok yang menyebar) merupakan infeksi primer yang disebabkan oleh jamur internal, yaitu Aphanomyces invadans. Di Indonesia, EUS diduga muncul sejak tahun 1982 dan pada tahun 1984 diperoleh bukti secara histologis yang diambil dari ikan betutu (Oxyeleotris marmoratus) yang luka (Taukhid et al., 1997).

Fusarium spp. merupakan jamur yang bertanggungjawab atas penyakit fusariosis ini. Penyakit ini menginfeksi udang di tambak pada stadia juvenil hingga ukuran dewasa. Prevalensi infeksi lebih tinggi pada lahan tambak yang persiapannya kurang baik, terutama pembuangan bahan organik dan pengeringan yang kurang sempurna. Pada infeksi akut, hifa cendawan ditemukan pula pada bagian tubuh lainnya. Mortalitas yang terjadi terutama karena gangguan terhadap proses ganti kulit (moulting).

Bio-Ekologi Patogen :
• Menginfeksi udang di tambak pada stadia juvenil hingga ukuran dewasa.
• Prevalensi infeksi lebih tinggi pada lahan tambak yang persiapannya kurang baik, terutama pembuangan bahan organik dan pengeringan yang kurang sempurna.
• Pada infeksi akut, hifa cendawan ditemukan pula pada bagian tubuh lainnya.
• Mortalitas yang terjadi terutama karena gangguan terhadap proses ganti kulit (moulting).

Gejala Klinis :
• Cenderung menginfeksi pada bagian insang, menimbulkan inflamasi yang intensif hingga terjadi melanisasi sehingga insang berwarna hitam (sering disebut penyakit insang hitam/black gill disease).
• Organ lain seperti kaki jalan & renang serta ekor udang mengalami kerusakan, bahkan terputus.
• Pada bagian tubuh lain sering ditemukan adanya luka atau gejala seperti terbakar, dll.

Diagnosa :
• Pengamatan secara mikroskopis, terutama pada organ insang ditemukan adanya makrokonidia cendawan.
• Isolasi pada media semi solid (agar), dan diidenfikasi secara morfometris.


Gambar 1. Insang udang yang terinfeksi Fusarium spp., tampak adanya inflamasi yang intensif sehingga terjadi melanisasi.


Gambar 2. Udang yang terserang penyakit fusariosis, mengalami kerusakan pada rostrum (terputus) serta tubuh udang berwarna hitam.

Pengendalian :
• Persiapan petak tambak secara sempurna, terutama pembuangan bahan organik dan pengeringan dasar tambak.
• Menghindari penumpukan bahan organik dalam media pemeliharaan, melalui penggunaan mikroba esensial atau probiorik dan/atau frekuensi penggantian air yang lebih tinggi.
• Penggunaan bahan kimia/desinfektan di tambak tidak efisien.


Referensi:
  1. Munajat A. dan Budiman, N. S.2003.pestisida Nabati untuk Penyakit Ikan.Penebar Swadaya. Jakarta. 87 hal.
  2. Amri, K.. 2006. Budidaya Udang Windu Secara Intesif. Penerbit Agromedia Pustaka. Jakarta.
  3. Ghufran M. Kordi H. Panggulangan K,. 2004, .Hama dan Penyakit Ikan. Penerbit Bina Adiaksara. Jakarta.
  4. Pelatihan Best Management Practices (BMP) Budidaya Udang Vaname 6 – 11 Juni 2006. Balai Budidaya Air Payau Situbondo
  5. Dharsana, R. 1987 . Infeksi Cacing Hati (Fasciola gigantica) pada Temak di Indonesia . Paper Seminar .
  6. Donna Oc, Buku Saku Penyakit Ikan; milis-ipkani@googlegroups.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar