Kamis, 17 Juni 2021

Penyakit Ikan - Oodiniasis

Penyakit merupakan salah satu kendala utama dalam keberhasilan suatu usaha budidaya perairan. Timbulnya penyakit adalah suatu proses yang dinamis dan merupakan interaksi antara inang (host), jasad penyakit (patogen) dan lingkungan. Dalam kegiatan budidaya ikan, apabila hubungan ketiga faktor adalah seimbang sehingga tidak timbul adanya penyakit.
Penyakit ikan adalah suatu keadaan patologi tubuh yang ditandai dengan adanya gangguan histologi atau fisiologis. Penyakit ikan adalah keadaan fisik, morfologi, dan fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal. Penyakit ikan adalah suatu bentuk abnormalitas dalam struktur atau fungsional yang disebabkan oleh organisme hidup melalui tanda-tanda yang spesifik (Hartono et al., 2003). Penyakit ikan dapat terjadi karena hubungan tiga faktor utama, yaitu inang, penyebab penyakit (patogen), dan lingkungan.

Proses terjadinya penyakit.

Penyakit ikan dapat terjadi jika ikan (inang), hidup dalam lingkungan perairan yang kurang sesuai untuk kehidupan ikan, tetapi mendukung patogen untuk berkembang biak. Setiap penyakit memiliki perubahan fisiologi dan histologi tertentu. Gejala-gejala ikan bersifat spesifik, tetapi ada juga penyakit yang mempunyai gejala yang hampir sama dengan penyakit lain.

Jika pertahanan tubuh inang lemah dan patogen yang terdapat dalam tubuh inang banyak, tetapi lingkungan tetap sesuai dan mendukung untuk meningkatkan ketahanan tubuh inang maka penyakit tidak akan muncul karena patogen tidak dapat berkembang biak.

Ada tiga strategi pengendalian penyakit, yaitu
a). media atau lingkungan pemeliharaan (wadah pemeliharaan terlindung dari sinar matahari dan hujan secara langsung, kepadatan ikan seimbang dengan jumlah air pemeliharaan, jangan memberikan pakan secara berlebihan dan sembarangan yang dapat mempercepat naiknya kandungan ammonia),
b). ikan itu sendiri (ikan yang dipelihara bernilai ekonomis penting dan diketahui jelas berasal dari bibit yang unggul, secara berkala dilakukan seleksi ikan sejak ikan ukuran benih, dan digunakannya pakan ikan yang berkualitas baik) dan
c). mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit dari jenis parasit, jamur, bakteri, dan virus.

Sebenarnya dalam keadaan lingkungan yang seimbang, mikroorganisme tidak menyebabkan penyakit. Akan tetapi bila kondisi lingkungan buruk, mikroorganisme akan menyerang ikan budi daya. Untuk itu, pencegahan penyakit ikan perlu dilakukan. Salah satu cara pencegahan penyakit ikan yang relatif aman dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan adalah dengan pemberian imunostimulan, seperti Saccharomyces cerevisiae, vitamin C, dan levamisol.

Penyebab penyakit ikan digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu penyakit infeksi dan penyakit noninfeksi. Penyakit infeksi disebabkan oleh parasit (protozoa, cacing, dan krustasea), jamur, bakteri, dan virus. Karakteristik khusus yang terdapat pada penyakit infeksi adalah kemampuan untuk menularkan penyakit (transmisi) dari satu ikan ke ikan yang lain secara langsung.

Penularan penyakit infeksi dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Penularan secara vertikal yaitu penyakit ditransfer oleh induk ke anakan melalui sperma atau telur, sedangkan penularan secara horizontal melalui media pemeliharaan, pakan, peralatan, maupun organisme lain yang terdapat dalam pemeliharaan.Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab dan terbagi atas 2 kelompok yaitu penyebab dari dalam (internal ) dan luar (eksternal) . Penyakit internal meliputi genetic, sekresi internal, imunodefesiensi, saraf dan metabolic. Sedangkan penyakit eksternal meliputi penyakit pathogen (parasit, jamur, bakteri , virus) dan non pathogen (lingkungan dan nutrisi ).

Lingkungan budi daya perikanan merupakan lingkungan yang sesuai untuk tumbuh dan berkembang biaknya organisme yang dibudidayakan, juga merupakan lingkungan yang potensial untuk agen penyakit, seperti parasit. Kata parasit berasal dari bahasa Latin yang terdiri atas dua suku kata, yakni para dan sites. Para berarti di samping (beside=bahasa Inggeris), sedangkan sites berarti makanan (feed=bahasa Inggeris). Parasit adalah suatu organisme hidup atau di dalam organisme hidup lain (yang berbeda spesiesnya) yang selain mendapat perlindungan juga memperoleh makanan untuk kelangsungan hidupnya.

Suatu organisme hidup dikatakan sebagai parasit apabila memenuhi ciri- ciri sebagai berikut:
a. Organisme hidup tersebut haruslah tinggal (sementara atau selama masa hidupnya) pada (organ tubuh bagian luar) atau di dalam (organ tubuh bagian dalam) organisme hidup lainnya.
b. Organisme hidup tersebut haruslah berbeda spesiesnya dari organisme hidup yang didiaminya.
c. Organisme hidup tersebut minimal memperoleh keuntungan berupa tempat tinggal dan makanan dari organisme hidup yang didiaminya.

Parasit hidup, tumbuh, dan berkembang biak pada berbagai macam lingkungan. Parasit dapat digolongkan ke dalam beberapa golongan bergantung pada cara-cara penggolongannya. Berdasarkan tempat tinggalnya, parasit dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu:

1) Ekto parasit adalah parasit yang mendiami atau tinggal di bagian organ tubuh sebelah luar organisme hidup yang didiaminya. Misalnya, Ichthyopthirius multifilis, Argulus sp., dan lain-lain.
2) Endo parasit adalah parasit yang tinggal di dalam bagian organ tubuh sebelah dalam organisme hidup yang didiaminya. Misalnya, Aphanomyces invadans, Myxobolus sp. dan lain-lain.

Bila ditinjau dari segi siklus hidupnya, parasit dikelompokkan ke dalam tiga golongan, yaitu:
1) Parasit intermitten (intermitten parasites) adalah parasit yang siklus hidupnya secara periodik pada waktu-waktu tertentu berada pada atau di dalam, sedangkan pada waktu-waktu lainnya harus meninggalkan tubuh organisme hidup yang didiaminya. Parasit akan mati bila kondisi lingkungan yang sesuai dengan siklus hidupnya tidak didapatkan. Misalnya, Ichthyopthirius multifilis.
2) Parasit fakultatif (facultative parasites) adalah parasit yang di dalam siklus hidupnya dapat berfungsi sebagai parasit pada atau di dalam organisme hidup lainnya dan dapat hidup di alam bebas (tanpa ada organisme lain yang didiaminya). Misalnya, Argulus sp.
3) Parasit obigateri (obigatery parasites) adalah parasit yang siklus hidupnya penuh berfungsi sebagai parasit pada atau di dalam organisme hidup lainnya, sebagian atau seluruh masa hidupnya berada pada atau di dalam organisme hidup lainnya. Parasit ini tidak mungkin dapat hidup tanpa adanya organisme hidup lainnya (yang didiaminya). Misalnya, Cyclochaeta sp.

Dari segi bio taksonomi, parasit dikelompokkan ke dalam dua golongan, yaitu:
1) Parasit tumbuhan (phyto parasites) adalah parasit yang secara bio taksonomi tergolong ke dalam dunia tanaman. Misalnya, Saprolegnia sp. dan Achlya sp.
2) Parasit hewan (zoo parasites) adalah parasit yang secara bio taksonomi tergolong kepada dunia hewan. Misalnya, Gyrodactylus sp., Lernea sp.

Penyakit parasitic merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering menyerang ikan terutama pada usaha pembenihan. Serangan parasit bisa mengakibatkan terganggunnya pertumbuhan, kematian bahkan penurunan produksi ikan. Berbagai organisme yang bersifat parasit mulai dari protozoa, crusstacea dan annelida.

Di perairan bebas, terdapat berbagai macam parasit dengan variasi yang luas tetapi jumlahnya sedikit. Sedangkan dalam kegiatan budidaya, parasit terdapat .dengan variasi yang sedikit tetapi jumlahnya banyak.

Umumnya setiap parasit mempunyai siklus hidup yang rumit, yang kemungkinan merupakan hal penting dalam pengobatan ikan yang terserang parasit. Studi siklus hidup parasit merupakan hal penting untuk menentukan tindakan penanganan yang lengkap. Ujicoba infeksi dengan parasit umumnya sulit dilakukan karena parasit sulit diinkubasi atau dipelihara pada media buatan.

Inang (Host)
Pada siklus hidupnya, parasit memerlukan inang . Beberapa inang sebagai tempat hidup /berkembang biak parasit meliputi :
Definite host : Inang , dimana parasit hidup sampai dewasa (ex ; cestoda)
Intermediate host ; Inang , dimana parasit hidup sampai tahap larva (digenea)
Tempory host : Inag, dimana parasit hidup secara singkat , kemudian meninggalkan inang (isopoda)
Reservoir host : Inang sebagai sumber parasit untuk inang yang lain (cyste digenea)

Faktor-Faktor yang Memudahkan Munculnya Parasit
Beberapa factor memudahkan munculnya parasit : Faktor-faktor tersebut antara lain : :
  1. Stocking density : Kepadatan tebar tinggi, kontak langsung dan adanya inang
  2. Physical trauma : handling, grading dapat menyebabkan luka
  3. Air Kolam : kualitas air jelek
  4. Selective breeding : Seleksi dalam mencarai warna dan bentuk yang bagus bisa mengakibatkan lemah.
  5. Lingkungan : perubahan temperatur
  6. Predator ; Bisa sebagai inang penular
  7. System budidaya : kolam tanah merupakan media bagi sebagaian siklus hidup parasit
  8. Species baru : Masuknya species ikan yang baru bisa mengakibatkan masuknya parasit baru’
Penyakit akan muncul jika lingkungan kurang optimal dan keseimbangan terganggu. Secara umum, timbulnya penyakit pada ikan merupakan hasil interaksi yang kompleks antara 3 komponen dalam ekosistem budidaya yaitu inang (ikan) yang lemah akibat berbagai stressor, patogen yang virulen dan kualitas lingkungan yang kurang optimal. Ketiga komponen tersebut dalam bentuk lingkaran yang akan saling berinteraksi satu sama lain. Gambar 1 mengilustrasikan bahwa penyakit (intersection area) merupakan kombinasi dari kondisi ikan sebagai inang yang lemah, lingkungan yang tidak optimal serta adanya patogen virulen di lingkungan budidaya tersebut.

Prinsip utama untuk menjaga supaya ikan tetap sehat agar tidak ada serangan penyakit, hal yang harus dilakukan adalah melalui upaya menggeser masing-masing komponen agar tetap bersinggungan secara harmonis, tetapi tidak saling menekan ke arah dalam yang menggambarkan penyakit (Gambar 1). Penyakit dan parasit potensial menyebar dan menyerang pada system budidaya. Penyakit utama ikan adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri maupun viral. Penyakit viral yang terutama bersumber dari infeksi vertikal dari induk. Kemungkinan lain infeksi berasal dari infeksi horizontal melalui air, pakan, dan dari sistem aerasi serta tidak kalah penting adalah kontaminasi dari manusia. Lingkungan yang baik akan meningkatkan daya tahan ikan, sedangkan lingkungan yang kurang baik akan menyebabkan ikan mudah stress dan menurunkan daya tahan tubuh terhadap serangan patogen.

Penyakit Parasit Oodiniasis pada Ikan

Penyebab : Piscinoodinium sp. (Synonim: Oodinium sp.)

Bio – Ekologi phatogen :
  • Merupakan ekto-parasit berbentuk bulat
  • Fase parasitik berbentuk seperti buah pir, diselaputi membran dan apendik menyerupai rizoid sebagai alat penempel pada ikan. Lamanya fase ini tergantung pada suhu air, pada suhu 25 oC selama ± 6 hari akan mencapai dewasa.
  • Infeksi yang berat dapat mematikan hingga 100% dalam tempo beberapa hari.
  • Organ yang menjadi target infeksi meliputi kulit, sirip dan insang.
  • Setelah dewasa, parasit melepaskan diri dari inang, berubah menjadi tomont dan membelah diri menjadi gymnospore. Gymnospore adalah stadia infektif yang berenang seperti spiral untuk mencari inang, apabila dalam tempo 15–24 jam tidak menemukan inang, stadia tersebut akan mati.
Gejala Klinis :
  • Ikan terlihat gelisah, tutup insang mengembang, sirip-sirip terlipat, dan cepat kurus. Populasi parasit di kulit mengakibatkan warna keemasan, berkarat atau putih kecoklatan (dekil) sehingga sering disebut “velvet disease”.
  • Ikan sering melakukan gerakan mendadak, cepat dan tak seimbang “flashing” dan akan terlihat jelas pada saat pagi atau sore hari.
  • Menggosok-gosokkan tubuhnya di benda keras yang ada di sekitarnya, dan warna tubuh pucat.
Diagnosa :
• Pengamatan secara visual terhadap adanya parasit pada kulit, sirip dan insang ikan
• Pengamatan secara mikroskopis untuk melihat morfologi parasit melalui pembuatan preparat ulas dari organ kulit/mukus, sirip dan/atau insang.


Gambar 1. Ikan yang terserang penyakit oodiniasis, seluruh permukaan tubuhnya diselaputi parasit


Gambar 2. Insang ikan yang dipenuhi oleh infeksi parasit Oodinium ocellatum

Pengendalian :
• Mempertahankan suhu agar selalu > 29o C
• Pemindahan populasi ikan yang terinfeksi parasit ke air yang bebas parasit sebanyak 2-3 kali dengan interval 2-3 hari.
• Pengobatan dan/atau pemberantasan parasit, antara lain dapat dilakukan melalui perendaman dengan:
- Air garam (1-10 promil, tergantung spesies dan ukuran ikan) selama beberapa jam, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2-3 hari.
- Larutan hydrogen peroxide (H2O2) pada dosis 150 ppm selama 30 menit, dipindahkan ke air yang bebas parasit dan diulang setiap 2 hari.
- Larutan kupri sulfat (CuSO4) pada dosis 0,5-1,0 ppm selama 5-7 hari dengan aerasi yang kuat, dan air harus diganti setiap hari.
- Larutan formalin 25-50 ppm selama 12-24 jam,dilakukan pengulangan setiap 2 hari. Methylene blue pada dosis 2 - 6 ppm selama 3 – 5 hari.
- Larutan Acriflavin pada dosis 0,6 ppm selama 24 jam, dan diulang setiap dua hari sekali.

Referensi
  1. Anonim., 1983. Petunjuk Ringkas Cara Penanggulangan Penyakit Parasit dan Bakterial pada Ikan. Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.
  2. Donna Oc, Buku Saku Penyakit Ikan; milis-ipkani@googlegroups.com
  3. Prayitno, Budi; A.Sarono; Widodo;N.Thaib; S.Hariyanto; E.B.Sri Haryani; W.Novianti, dan S.Wardani., 1996. Deskripsi Hama dan Penyakit pada Ikan Mas (Cyprinus carpio) dan Udang. Kerjasama Pusat Karantina Pertanian dan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip, Semarang.
  4. Yuasa, Kei; N.Panigoro; M.Bahnan, dan E.B.Kholidin., 2003. Panduan Diagnosa Penyakit Ikan. Teknik Diagnosa Penyakit Ikan Budi Daya Air Tawar di Indonesia. Balai Budi Daya Air Tawar, Jambi. Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar